Connect with us
seksisme
Illustration for de Volkskrant by Sara Gironi

Culture

Seksisme dalam Film India: Gambaran dari Realita

Ada banyak kasus kekerasan domestik maupun seksual di India. Bagaimana dengan gambaran gender di film-filmnya?

Industri film India merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Kita mengenalnya sebagai Bollywood. Padahal Bollywood tidak menggambarkan seluruh industri film di India. Bollywood adalah industri film yang berpusat di Kota Mumbai dengan bahasa utama Hindi. Masih ada industri film lain seperti di Kalkuta, Tamil, dan Lahore. Dari satu milyar jumlah penduduknya, sebanyak empat belas juta di antaranya pergi menonton bioskop setiap hari. Tidak mengherankan bila industrinya maju pesat. Bahkan tiap tahunnya ada lebih dari seribu film diproduksi. Bandingkan dengan Indonesia. Industri film kita belum ada apa-apanya.

Film-film jadul India identik dengan adegan dramatis seperti berkejaran di pohon sambil menyanyikan lagu-lagu cinta. Namun kini, tema film India lebih luas. Film-film thriller-nya tidak kalah bagus. Film India tak melulu tentang lagu cinta atau joget bersama. Ada beberapa film, baik biopik maupun fiksi, yang menyita perhatian. Contohnya seperti PK (2014), Padman (2018), dan 3 Idiots (2009). Ide ceritanya bagus bahkan terhitung tak lazim. Ada kritik-kritik sosial yang dilakukan begitu pula gambaran realita yang dihadapi masyarakat India contohnya seksisme, kemiskinan, kesehatan, atau kekerasan seksual. Film berjudul Mom (2017), contohnya, berangkat dari gambaran mengenai sulitnya ibu tiri diterima. Mom juga mencoba mengubah stereotip mengenai ibu tiri yang kejam dengan justru menampilkan sosok Mom sebagai karakter yang sangat menyayangi anak tirinya.

Film dan Gender

Sebuah penelitian menganalisis stereotip gender di film India. Ada 4000 film yang dianalisis berdasarkan sinopsis dan posternya. Sebanyak 800 official trailers yang rilis pada 2008 hingga 2017 ikut dianalisis. Hasilnya bisa ditebak, seksisme masih tinggi. Sineas India masih menggambarkan karakter-karakter dalam filmnya berdasarkan stereotip gender tertentu. Perempuan digambarkan cantik dan menarik sementara lelaki digambarkan kuat dan sukses. Selama 10 tahun, secara konsisten perempuan muncul lebih sedikit dalam trailer yaitu sebesar 31,5% dan sisanya adalah lelaki. Contoh lain dari stereotip gender yang muncul Sadalah film bertema LGBT. Karakter LGBT digambarkan secara ekstrim. Sameer dalam film Dostana (2008) selalu memakai baju pink dan bermotif bunga-bunga. Principal Dean dalam film Student of The Year (2012) digambarkan sebagai lelaki feminin yang berusaha menghancurkan pernikahan seorang lelaki hetero.

Meski 80% sinopsis film menggambarkan tokoh lelaki sebagai pemeran utama, 50% poster film justru menunjukkan tokoh perempuan yang di dalam film perannya dipandang sebelah mata. Karakter yang melekat pada perempuan umumnya adalah seorang guru, seorang penyanyi, seorang murid, atau label tertentu seperti anak dari atau istri dari Mr. X. Perempuan yang ideal digambarkan sebagai seorang yang submisif, dikontrol (oleh lelaki), suci, dan senang bekorban. Perempuan dianggap buruk ketika ia bersikap individualis, agresif secara seksual, kebarat-baratan, dan tidak mau bekorban. Namun tiga tahun belakangan, kondisi mulai berubah. Film-film yang menjadikan perempuan sebagai tokoh utama atau kisah yang berpusat pada perempuan mulai meningkat.

Pada film Padman, digambarkan seorang lelaki yang sangat mencintai istrinya. Saking cintanya, ia sampai menciptakan pembalut dengan harga terjangkau agar istrinya tidak lagi memakai kain kotor setiap datang bulan. Film ini adalah gambaran realita bagaimana masyarakat India memandang datang bulan sebagai suatu hal yang hina. Perempuan harus tidur di balkon dan tidak boleh bersentuhan dengan suaminya. Ia bahkan tidak boleh makan di dalam rumah dan harus menjemur pakaian sembunyi-sembunyi. Stereotip ini tidak hanya membuat perempuan hidup susah. Mereka juga rentan terhadap penyakit.

Realita

PBB pada 2014 menyebut kekerasan terhadap perempuan di India terjadi secara sistematis, “from the womb to the tomb”. Beberapa kekerasan ini terjadi di dalam pernikahan, diantaranya karena pernikahan yang diatur oleh kedua keluarga. Pada 2012, salah satu pemerkosaan massal tidak hanya menyentak publik di India tapi juga di dunia. Seorang mahasiswi yang berada dalam perjalanan pulang menaiki angkutan umum diperkosa dan disiksa. Para pelaku memasukkan tongkat ke dalam tubuhnya dan menarik tongkat itu keluar sehingga ususnya ikut tertarik. Korban lalu dilempar keluar dari kendaraan dan tergeletak di jalanan. Setelah berjuang dan mendapat perawatan di Singapura, ia meninggal dunia. Hal ini salah satu pemicu dari kemarahan publik sekaligus perlawanan terhadap kekerasan seksual.

Kasus kekerasan yang terus terjadi beserta detail peristiwa yang tidak manusiawi menjadikan India tidak ramah perempuan. Feminis maupun feminisme dianggap sebagai kata-kata yang kotor. Ada banyak stigma negatif yang dilekatkan terhadap konsep feminisme seperti pembenci lelaki, pembakar bra, hingga radikal. Di Aligarh Muslim University, mahasiswi perempuan dilarang untuk keluar malam bahkan tidak boleh menduduki jabatan di BEM kampus. Mahasiswi-mahasiswi di kampus tersebut pun melakukan perlawanan dengan membentuk organisasi yang sering melakukan diskusi mengenai feminisme.

Salah satu film yang mengangkat isu gender adalah Gulaab Gang (2014). Ini adalah kisah nyata mengenai Gulabi Gang yang awalnya dicetuskan oleh Sampat Pal Devi. Ia melihat seorang suami yang melakukan kekerasan pada sang istri. Keesokan harinya ia pun datang untuk memukuli lelaki itu dengan menggunakan bambu. Apa yang dilakukan Sampat Pal Devi pun menginspirasi perempuan-perempuan lain di India. Mereka berseragam kain sari berwarna pink. Kehadiran Gulabi Gang menunjukkan betapa krusialnya masalah ini. India benar-bernar perlu bekerja keras untuk melawan kekerasan dan ketidakadilan berbasis gender. India masih seksis baik di layar lebar maupun dunia nyata.

Click to comment

Leave a Comment

bumi manusia review bumi manusia review

Bumi Manusia Review: Film Cinta-cintaan Biasa

Film

leon the professional review leon the professional review

Leon: The Professional Review

Film

forgotten 2017 review forgotten 2017 review

Forgotten (Gi-eok-ui Bam) Review

Film

elite squad review elite squad review

Elite Squad (Tropa de Elite) Review

Film

Advertisement
Connect