Connect with us
Senigma
padman movie review

Film

Padman Sang Suami Idaman

Scene-scene yang sangat manis bertaburan sejak awal film.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada awal film kita akan disuguhi romantisme pasutri yang baru saja menikah yaitu Laksmikant Chauhan dan Gayatri. Laksmi adalah seorang pandai besi yang miskin dan tidak mengenyam pendidikan tinggi. Namun rasa cintanya pada sang istri begitu besar. Scene-scene yang sangat manis bertaburan sejak awal film. Romantisme yang disuguhkan bukanlah romantisme murahan atau rayuan maut seperti film ala abege yang biasa kita lihat. Laksmi membuktikan cintanya melalui perbuatan. Sejak awal mula, film ini telah menyodori kita nilai-nilai kesetaraan gender.

Lirik lagu yang mengiringi scene tersebut pun terdengar unik sekaligus realistis. “Tagihan listrikmu akan menjadi milikku.” Laksmi membuktikan cintanya dengan selalu membantu segala hal yang dilakukan Gayatri. Ia tidak memandang Gayatri sebagai seorang istri yang harus patuh dan mengerjakan perintah suami. Gayatri diperlakukan bak ratu bahkan dalam urusan mencuci baju. Laksmi akan menggosok cucian di sungai, membuatkan boncengan di sepeda, sampai membuatkan mesin pemotong bawang hanya agar mata Gayatri tidak berkaca-kaca di dapur. Laksmi bahkan membuatkan pembalut yang kemudian menjadi akar masalah rumah tangga mereka.

Hanya 12% perempuan di India yang menggunakan pembalut sekali pakai. Pembalut kain yang biasa mereka pakai berkali-kali bukanlah kain atau handuk bersih seperti yang umumnya digunakan perempuan Indonesia. Pembalut versi perempuan India adalah kain kotor yang bahkan tidak dijemur di bawah sinar matahari sehingga lembap ketika digunakan. Akibat tuntutan budaya, perempuan India menganggap datang bulan adalah sebuah aib. Mereka harus tidur di balkon beralaskan bangku kayu, bukan ranjang. Seluruh aktivitas dilakukan di luar rumah. Tidak boleh ada interaksi antara suami dan istri karena istri tidak dalam keadaan suci.

Perempuan selalu dipersalahkan atas apa yang ia lakukan

Laksmi melihat ini sebagai ketidakadilan. Ia tak tahan melihat istrinya berada di luar. Apalagi setelah dinasehati oleh seorang dokter bahwa angka penyakit maupun kematian yang tinggi disebabkan oleh peralatan menstruasi yang tidak higienis. Laksmi semakin kekeuh mendorong Gayatri menggunakan pembalut yang ia beli dari apotek. Harga pembalut sendiri terlalu mahal untuk diakses seluruh kalangan. Membelinya saja harus sembunyi-sembunyi seakan sedang transaksi narkoba.

Laksmi yang menyadari mahal dan sulitnya mendapatkan pembalut pun berusaha menciptakan pembalutnya sendiri. Sedihnya, sikap peduli Laksmi pada sang istri justru ditendang semua orang. Istrinya meninggalkannya. Keluarganya tidak mengakuinya. Bahkan ia hampir dieksekusi oleh warga kampung karena dianggap sudah sesat. Uniknya lagi, semua itu adalah kisah nyata yang dialami oleh Arunachalam Muruganantham, padman asal India.

Kita tidak hanya akan berkaca-kaca melihat ketulusan dan kasih sayang Laksmi pada Gayatri. Kita juga akan terhenyak melihat kondisi India dengan sanitasi yang buruk dan edukasi seksual yang minim. Budaya menjadi acuan padahal budaya tidak selamanya harus dilestarikan bila mewariskan keburukan. Pembalut dianggap benda kotor. Lelaki dianggap tak boleh tahu. Gayatri bahkan menangis dan sangat marah mengetahui Laksmi memikirkan pembalut untuk dirinya. Ia menganggap maskulinitas Laksmi hilang karena hidupnya berada di antara kaki perempuan.

Maskulinitas yang beracun dan budaya patriarki yang menyesatkan ditampilkan secara utuh di film ini. Gambaran realita bagaimana masyarakat India memandang pola hubungan antara lelaki dan perempuan yang terlihat sangat timpang dipertontonkan begitu saja. Ketika sebuah bus berisi banyak perempuan lewat, lelaki di pinggir jalan mengasosiasikannya dengan bus penuh barang. Perempuan menjadi sumber objektifikasi tidak hanya secara seksual tetapi juga secara personal. Ia tidak dipandang sebagai seorang manusia seperti layaknya lelaki yang memiliki independensi. Ia seolah hanya salah satu piagam bagi keluarganya dan suaminya. Bila melakukan kesalahan maka ia dihukum berat. Kalau tak sesuai adat maka ia dianggap rusak.

Perempuan bahkan malu bila ketahuan membawa pembalut. Menstruasi tidak disebut sebagai menstruasi. Penggunaan konotasi dilakukan saking menjijikkannya anggapan perempuan yang mengalami datang bulan. Sebesar apapun dukungan suami terhadap istrinya, ia akan terganjal oleh pandangan keluarga. Mertualah yang berhak memutuskan mana yang benar dan mana yang salah. Segala aturan terasa mengekang bagi perempuan tetapi kaum perempuan sendiri menghakimi sesamanya bila melanggar.

padman movie review

Aksay Kumar memerankan Padman dengan sangat bagus. Kebingungannya, kenaifannya, ketulusannya, hingga kedalaman cintanya tergambar jelas. Ia menolak tunduk para tradisi. Yang ia pikirkan bagaimana caranya menghormati harga diri sang istri sekalipun hidupnya menjadi hancur berantakan. Karakternya sendiri unik karena menjadi sesuatu yang tak biasa di tengah masyarakat patriarki. Jarang ada film yang menggambarkan bagaimana perjuangan lelaki memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan. Cintanya tak lekang meski ia ditinggal pergi. Pada kisah nyatanya pun Padman memang ditinggalkan oleh istrinya yang merasa malu dengan tingkah laku sang suami. Gayatri sempat berkata ia lebih baik mati dibanding menanggung malu.

Naskah ditulis sangat baik sehingga tidak ada plot hole yang muncul. Akting para pemerannya juga mumpuni. Tak hanya Aksay Kumar saja yang berhasil memainkan perannya dengan baik. Sekalipun film ini kisah nyata dan mengangkat isu yang tak biasa yaitu pembalut, filmnya sendiri tidak membosankan. Kita akan sangat menikmati jalannya cerita. Dialog-dialognya pun tidak melulu serius atau berisi kalimat-kalimat cinta tetapi juga diselipkan komedi yang khas. Salah satunya adalah ketika Padman berkata bahwa ia telah berhenti membuat pembalut melainkan berpindah haluan untuk membuat mesin pembalut. Padman tidak putus asa meski perjuangannya sangat berat.

Bisa dibilang Padman adalah film berpropaganda feminis yang enak ditonton sekaligus menghipnotis. Padman (2018) sendiri tentunya adalah seorang feminis. Ia memberi kita pelajaran berharga untuk memandang pasangan kita sebagai pribadi yang setara dan mencintai tanpa syarat. Kisah cinta Laksmi dan Gayatri benar-benar tidak membuat bosan atau geli. Kita justru akan terpana dengan cinta :Laksmi dan bagaimana ia memperjuangkan pembalut murah bagi istrinya. Sebuah film yang layak ditonton oleh semua kalangan agar dapat belajar memahami kesetaraan gender.

Script: 8/10
Story: 9/10
Acting: 8/10
Cinematography: 7/10
Scoring: 8/10

Click to comment

Leave a Comment

Gerald’s Game (2017) Gerald’s Game (2017)

10 Rekomendasi Film Adaptasi Stephen King

Cultura Lists

Zombieland 2009 Zombieland 2009

Zombieland Review: Film Zombie Komedi Terbaik yang Pernah Ada

Film

five feet apart review five feet apart review

Five Feet Apart Review: Kisah Cinta Terpaut Jarak 5 Kaki

Film

Fight Club (1999) Fight Club (1999)

15 Film Tentang Kesehatan Mental

Cultura Lists

Connect