Connect with us
Memories of Murder Review

Film

Memories of Murder Review: Pembunuhan Berantai Tanpa Titik Terang

Dua detektif berusaha memecahkan kasus perkosaan dan pembunuhan berantai di tengah kegagalan sistem keadilan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Film thriller detektif yang penuh dengan misteri memang sudah sangat menjamur di industri perfilman Barat dengan premis yang membuat penonton bertanya-tanya siapa pelakunya. Namun bagaimana jika Bong Joon-ho, sang sutradara maestro asal Korea Selatan, menulis dan menyutradarai film semacam itu?

Berlatar belakang daerah Hwaseong di provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Seorang detektif daerah menyelidiki kasus pembunuhan dan perkosaan dua perempuan dengan sumber daya seadanya.  Detektif daerah lebih menggunakan insting mereka untuk menangkap pelaku.

Namun pada tahun 1980-an, Korea Selatan sedang berada di bawah rezim militer yang melanggengkan kekerasan polisi dalam menyelidiki kasus. Datanglah Detektif Seo dari Seoul yang secara sukarela membantu kasus pembunuhan berantai ini. Dengan cara penyelidikannya yang lebih bertumpu pada logika dan bukti seadanya, kedua detektif tersebut berlomba untuk memecahkan kasusnya.

Memories of Murder Review

Memories of Murder (2003)

Memories of Murder (2003) dibuat berdasarkan kisah nyata pada tahun 1986 hingga 1991 di Korea Selatan. Kepolisian daerah Hwaseong menghadapi kasus pembunuhan dan perkosaan berantai untuk pertama kalinya dengan jumlah korban hingga 15 orang perempuan. Bong Joon-ho berusaha untuk mengikuti fakta kasus sedekat mungkin sambil memberikan sudut pandang berbeda dalam kisah detektif ini.

Mengantungi berbagai macam penghargaan dari Korean Film Awards dan Tokyo International Film Festival pada tahun 2003, sutradara Bong sudah menunjukkan fokus utamanya yang menjadi ciri khas berbagai film yang telah ia buat hingga sekarang; mengenai kegagalan sistem yang mengopresi dan ketimpangan yang dibuat olehnya.

Dalam film kedua Bong Joon-ho, kritik terhadap sistem yang gagal sudah terlihat jelas di dalamnya, terutama pada sistem otoriter yang menyebabkan terjadinya kekerasan polisi dan penyelidikan yang tidak efektif.

Memories of Murder Review

Memories of Murder

Song Kang-ho sudah menjadi aktor utama langganan Bong Joon-ho sejak film ini dibuat. Dalam Memories of Murder, ia berperan sebagai Detektif Park yang manipulatif dan berusaha untuk mencurangi barang bukti demi membuat seseorang mengaku sebagai pelaku. Detektif Park terlihat sangat putus asa dalam mencari pelakunya sehingga rela melakukan apapun, bahkan penganiayaan terhadap orang yang ia interogasi.

Sebagai lawan mainnya, Kim Sang-kyung berperan sebagai Detektif Seo yang lebih muda namun lebih berpengalaman daripada Detektif Park. Berasal dari kota, Detektif Seo berusaha untuk menggunakan nalarnya dalam memecahkan kasus pembunuhan berantai ini, namun metodenya bertabrakan dengan metode Detektif Park yang dianggap lebih lumrah dilakukan di daerah seperti Hwaseong. Detektif Seo tidak melakukan penganiayaan seperti Detektif Park dan koleganya, Cho Yong-koo, namun ia juga tidak berusaha untuk menghentikan hal itu terjadi.

Perkembangan kedua karakter tersebut menjadi salah satu hal yang paling menarik untuk dilihat dalam film ini. Bukan hanya semata-mata tentang bagaimana kedua orang tersebut saling memengaruhi satu sama lain, tapi bagaimana kegagalan sistem otoriter dan patriarkal menjadi asal muasal kekacauan investigasi ini.

Memories of Murder Review

Memories of Murder Review

Dari segi sinematografi, Kim Hyung-koo patut mendapatkan banyak pujian karena telah menangkap realita kehidupan di daerah Hwaseong pada tahun 1980-an yang baru saja memasuki masa industrialisasi dengan maraknya pembangunan pabrik di daerah tersebut.

Meski banyak menggunakan wide shot untuk memperlihatkan wilayah sekitar, sinematografi film tetap bisa menunjukkan hal-hal rinci mengenai wilayah Hwaseong. Mulai dari pemukiman warga, pembangunan pabrik, sawah, hingga sekolah.

(Warning: spoiler)

Untuk sebuah film dengan alur kisah yang sangat serius, Memories of Murder tetap menyempatkan adanya sisipan-sisipan dark comedy yang membuat penonton merasa aneh ketika ingin tertawa. Entah bagaimana caranya, Song Kang-ho tetap bisa mengeluarkan komedi yang membuat orang ingin tertawa meringis ketika ia menekan psikis pelaku di ruang interogasi. Bukan hanya dari kelakuan detektif yang cukup sadis tapi tetap bisa mengambil hati penonton saja, namun dari adegannya juga.

Terdapat salah satu adegan yang cukup komikal ketika Detektif Park dan Detektif Seo saling bersembunyi dari satu sama lain sambil memerhatikan seseorang yang mungkin adalah pelakunya dan datang kembali ke TKP. Mengingat bagaimana dalam adegan itu orang tersebut sedang onani dengan pakaian dalam perempuan. Arahan Bong Joon-ho tetap bisa membuat penonton ingin tertawa pelan karena ke-absurd-an situasinya.

Di antara semua pencapaian gemilang yang digapai oleh film ini, harus diakui bahwa rasanya Memories of Murder baru bisa berjalan mulus setelah babak pertama film berakhir. Babak pertama rasanya terlalu mengawang tanpa ada fondasi kisah yang jelas. Mungkin jika penonton belum mengetahui film ini berkisah tentang pembunuhan berantai, maka penonton akan kebingungan mengikutinya.

Memories of Murder bisa dibilang sebagai salah satu film terbaik Bong Joon-ho yang wajib ditonton. Sang sutradara mengkritik kegagalan sistem secara implisit dan bagaimana hal tersebut semakin lama membuat keadaan semakin terlihat putus asa.

Banyaknya waktu yang terbuang akibat keegoisan polisi, tidak matangnya para aparat keadilan yang diturunkan ke lapangan, juga menunjukkan masalah perkosaan bukan merupakan urusan birahi namun urusan kuasa. Hanya dalam sebuah film, Bong Joon-ho mengacungkan jari tengah kepada kepolisian dan pemerkosa.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect