Connect with us
Australia Tourism
Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita
Image: Pexels

Culture

Membaca Keinginan Kita Dengan Algoritma

Tanpa kita sadari, melalui sosial media, interaksi dengan orang dan informasi yang kecenderungannya berbeda dengan kita nampak kabur.

Dalam satu waktu, di sore hari pukul 16.00, kita berselancar lewat mesin pencari raksasa menelusuri informasi terkait perlengkapan rumah tangga. Malam hari pukul 20.00, membuka Instagram dan menemukan iklan terkait lemari baju model terbaru, rak buku, dan berbagai jenis perkakas rumah tangga lainnya yang akhirnya bermunculan satu per satu di timeline. Sebagian mungkin mengabaikan, sebagian lagi mulai risih namun mendiamkan, dan selebihnya sampai pada tahap memberi tanggapan agar iklan tersebut tidak lagi muncul di timeline.

Begitulah algoritma bekerja di internet, terutama dalam semua media sosial yang kita gunakan. Algoritma adalah semacam “perintah” yang dirancang untuk menghasilkan “keputusan” tertentu. Keputusan-keputusan yang dihasilkan berasal dari pembacaan riwayat aktifitas kita selama berselancar di dunia maya. Riwayat aktifitas yang dimaksud seperti informasi apa yang dicari, musik apa yang didengar, video apa yang dinonton, hal-hal apa yang dibagikan, dengan apa dan siapa kita berjejaring, dll. Keseluruhan aktivitas daring ini disebut digital path. Digital path lah yang dikomputasi oleh algoritma. Hasilnya adalah gelembung penapis (filter bubbles) dan atau ruang gema (echo chamber).

Gelembung penapis dan ruang gema kadang digunakan secara terpisah. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan yang sumir dalam konteks penggunaan keduanya. Namun, konsep dasarnya adalah sama. Yaitu, adanya kelompok tertentu yang ingin berelasi secara eksklusif dengan sesama anggota mereka. Relasi ini diperkuat dengan kehadiran gagasan dan informasi yang kecenderungannya bertema sama. Sirkulasi informasi semacam ini membuat informasi tentang sesuatu di luar mereka menjadi asing, namun di satu sisi juga semakin memapankan cara pandang mereka sebagai satu kelompok dengan gagasan yang solid.

Jadi dalam konsep dunia virtual, digital path diolah algoritma menjadi gelembung penapis atau ruang gema. Melalui gelembung penapis inilah, prediksi algoritma atas apa yang kita ingin dan butuhkan bekerja. Ruang pandang atas gagasan dan informasi dipersempit. Bagaimana tidak, keinginan dan kebutuhan dikalkulasi berdasarkan “angka” yang diperkirakan oleh algoritma. Maka tidak heran jika baru berselancar tentang satu perkakas rumah tangga saja, beberapa jam berikutnya kita telah disuguhi dengan iklan-iklan serupa di akun media sosial kita.

Langkah Bijak

Memang, sistem serupa inilah yang banyak dimanfaatkan oleh para industri periklanan dalam memasarkan suatu produk. Namun tidak hanya sebagai medium untuk mencari keuntungan dalam dunia bisnis, kerja-kerja algoritma ini juga sangat memungkinkan digunakan pada gerakan politik tertentu. Dalam memapankan pilihan dan sudut pandang masing-masing, misalnya.

internet bijak

Tanpa kita sadari, melalui sosial media, interaksi dengan orang dan informasi yang kecenderungannya berbeda dengan kita nampak kabur. Sebaliknya, suara yang kecenderungannya sama menggaung semakin kencang. Persis jika sedang berteriak di dalam gua, maka suara yang dikeluarkan akan berbalik terpantul lebih besar.

Dalam media sosial, ada banyak sekali informasi yang sampai ke kita telah mengalami penyaringan berdasarkan kecenderungan personal kita. Hasilnya bisa dilihat di sepanjang musim pemilihan umum yang lalu, masyarakat menjadi terpolarisasi. Meskipun prosesnya tidak sesingkat yang dibayangkan, namun saluran informasi dan jenis bacaan yang dikonsumsi masyarakat juga memiliki andil besar dalam kondisi sosial semacam itu.

Dalam keadaan tertentu, kita bisa bersepakat bahwa seringkali kita dirugikan dengan saringan-saringan otomatis semacam ini. Lantas, apa yang bisa dilakukan? Dikutip dari Buku Panduan Berpikir Kritis Menghadapi Berita Palsu (Hoaks) di Media Sosial yang diterbitkan oleh International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) setidaknya ada dua hal teknis yang bisa dilakukan.

Pertama, periksalah fitur pencarian personal pada browser yang kita gunakan. Jika sudah menemukan, maka langkah bijak yang bisa dilakukan adalah menonaktifkannya. Fitur pencarian yang dimaksud misalnya adalah “Google Personalized Search” pada Google, ataupun “News Feed” pada Facebook. Dengan mematikan fitur ini, maka paling tidak, dapat membantu meminimalisasi efek-efek buruk dari informasi yang telah disaring.

Kedua, selalulah berupaya untuk mencari informasi dari sumber-sumber yang kredibel. Ukuran kredibilitas media tentu bisa dilihat dari berbagai aspek, namun beberapa yang bisa diteliti adalah menelusuri pencantuman alamat dan tim redaksi pada website media yang bersangkutan. Kemudian, pada substansi berita dapat ditelusuri apakah yang disajikan cukup berimbang, tidak bias, dan akurat.

Menelusuri informasi di dunia virtual memang memiliki tantangan tersendiri jika dibandingkan dengan penggunaan media konvensional pada umumnya, seperti surat kabar ataupun TV. Olehnya, persoalan kredibilitas menjadi sangat penting. Selain itu, keinginan untuk senantiasa melakukan verifikasi pada setiap informasi yang dibaca juga bisa sangat membantu agar polarisasi informasi tidak merugikan kehidupan sosial kultural kita.

Click to comment

Leave a Comment

Belajar Mencintai Alam dari Masyarakat Adat

Culture

Death Doula Death Doula

Death Doula Sebagai Teman Menjelang Kematian

Lifestyle

sejarah mie sejarah mie

Bagaimana Mie Menjadi Makanan Rakyat di Benua Asia?

Culture

Food Truck yang Makin Berjaya di Asia

Culture

Connect