Connect with us
Senigma
Joker Review Spoiler Indonesia
Joker (2019)

Film

Joker Spoiler Review: Mengapa Kita Mengagumi Joker?

Joker adalah simbol dari masyarakat yang tertindas.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Kita semua pasti memiliki superhero favorit. Mulai dari Batman, Superman, Ironman, dan masih banyak lagi. Namun, kita semua sepakat bahwa Joker adalah super villain favorit sejuta umat. Selama ini industri film superhero komersial selalu mengangkat film-film asal mula seorang pahlawan. Mulai dari bocah yang kehilangan orang tuanya dan bersumpah untuk melindungi kota. Hingga anak dewa dengan anugerah karisma dan kekuatan super. Sudah seperti karya biografi fiksi yang menjawab pertanyaan tentang bagaimana seorang superhero bertekad untuk melindungi yang lemah.

Namun, pernah ‘kah orang-orang bertanya; bagaimana seorang penjahat bisa menjadi jahat? “Joker” karya Todd Philip akan menjawab pertanyaan tersebut dengan materi film yang menyentuh segi kemanuasian dan gejolak pribadi yang pastinya pernah dirasakan oleh semua orang.

Joker Non-Spoiler Review

Arthur Fleck Awalnya Adalah Pria Baik dan Sabar

Joker (2019) menceritakan kisah hidup seorang pemuda bernama Arthur Fleck yang diperankan oleh Joaquin Phoenix. Sebagian besar porsi cerita lebih mengupas kehidupan Arthur yang penuh dengan masalah. Keadaan ekonomi Gotham yang menurun menciptakan kesenjangan sosial membuat suasana kota yang keras dengan orang-orang tanpa hati nurani. Terlalu keras untuk Arthur yang sebetulnya adalah pria sabar dan baik hati.

Arthur Fleck adalah seorang pemimpi. Ia memiliki cita-cita sebagai komika terkenal yang mampu membuat orang tertawa. Namun keadaan yang susah membuatnya harus bekerja sebagai badut serabutan. Ia juga harus merawat ibunya yang sakit melalui pekerjaan tersebut.

Arthur Cenderung “Menertawakan” Kemalangannya

Arthur memang bukan pria biasa. Ia mengidap penyakit gangguan saraf yang membuatnya seringkali tertawa tidak terkendali. Kita akan merasakan kesakitan yang amat mendalam ketika melihat Arthur sedang bersedih. Bukannya tangisan, Arthur cenderung tertawa hingga menangis ketika sedang merasakan gejolak emosi.

Joker Spoiler Review

Hal ini tereksekusi sempurna berkat akting Joaquin Phoenix yang sangat mengagumkan. Phoenix mampu mengontrol ekspresinya dengan perubahan yang dinamis. Ada satu adegan dimana Arthur tertawa karena lawakan rekan kerjanya yang kemudian berubah datar hanya dalam hitungan satu detik. Tetap terlihat natural dan tampak seperti sebuah penyakit.

Dalam kisah ini, Arthur Fleck secara harfiah “menertawakan” nasib malang yang terus menimpanya. Ada istilah “hidup itu lucu”, sebuah ungkapan sarkastik yang dilontarkan oleh banyak orang ketika tidak paham akan nasib buruk yang terus berdatangan.

Dalam film “Joker”, Arthur Fleck mengatakan, “I used to think that my life was a tragedy. But, now I realize, it’s a comedy”.

Joker Review Spoiler

He got nothing to lose. | Warner Bros

Setiap Manusia Punya Masalah, Tak Sedikit yang Menanggung Masalah Besar

Kesengsaraan yang dirasakan Arthur merupakan versi hiperbola dari kegusaran kita yang relevan. Ada saatnya kita menghadapi masa terburuk dalam hidup. Misalnya sebagai Sarjana tapi tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, mengalami kekerasan di rumah, terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, dan masih banyak lagi. Semua orang memiliki masalahnya masing-masing yang tidak dipahami oleh orang lain. Membuat mereka tidak paham mengapa seseorang menjadi kasar atau berhati dingin.

“She always tells me to smile, and put on a happy face.”

Selama ini kita melihat sosok Joker yang tiba-tiba tampil sebagai penjahat dengan motif yang tidak jelas. Secara tak terkendali menebar teror tanpa mengejar kekuasaan maupun materi. Kita hanya mengenalnya sebagai Joker, badut gila yang tidak percaya akan apapun kecuali kehampaan dan kekacauan.

Arthur Fleck mengalami penindasan dan kesialan bertubi-tubi. Tak terhitung berapa kali ia harus menanggung malu karena tak bisa mengontrol tawanya. Berapa kali ia harus terbaring pasrah dan membiarkan orang-orang memukulinya hingga puas.

Banyak hal telah dilalui oleh seorang Joker sebelum kehilangan kepercayaannya dan tidak memiliki alasan lagi untuk menjadi baik.

Semua Manusia Punya Batas Kesabaran

Setiap manusia mempunyai batas kesabaran, begitu pula Arthur Fleck. Setelah bertahun-tahun membiarkan dunia mengurusnya, Arthur akhirnya menarik pelatuk untuk pertama kalinya pada 3 pria sekaligus untuk meluapkan amarahnya. And he doesn’t regret it! Arthur justru merasakan sensasi memuaskan setelah meluapkan kekesalannya dengan membalas orang-orang yang menertawakannya.

Kepuasan tersebut semakin terasa ketika identitas anonimnya sebagai badut pembunuh menjadi ikon dari protes orang miskin pada golongan kaya di kota Gotham. Kembali lagi tentang kesenjangan sosial yang tengah terjadi.

Arthur Fleck Joker

Arthur Fleck | Warners Bros

Mulai memasuki transisi Arthur Fleck sebagai Joker, kehidupan pria malang ini semakin memburuk. Ketika dirinya mengetahui bahwa dia bukan anak kandung ibunya melainkan anak adopsi. Tak diadopsi dengan baik, ia mengalami kekerasan, membuat saraf di otaknya memiliki gangguan yang membuat kehidupannya sengsara seperti sekarang.

Di sini ‘lah Arthur menyadari; he got nothing to lose.
Mengutip kalimat Joker pada film animasi “Batman: The Killing Joke” pada tahun 2016;

“One it takes is one bad day to reduce the sanest man alive to lunacy. That’s how far the world is where I am. Just one bad day.”

Hanya butuh satu hari buruk untuk merubah Arthur Fleck menjadi Joker. Sekarang kita paham apa yang dimaksud dengan kalimat tersebut dari seorang Joker. Hal ini juga membuktikan bagaimana Todd Phillips menciptakan karakter Joker yang tidak lepas dari cerita yang telah ada tentang Clown Prince of Crime satu ini.

joker review indonesia

Jadi, mengapa kita mengapa kita mengagumi Joker? Jawabannya adalah karena Joker adalah kita. Joker bukan manusia dengan kekuatan super dan status sosial yang tinggi, ia adalah simbol dari masyarakat yang tertindas. Kita pasti pernah merasakan kekesalan yang amat sangat pada teman, rekan kerja, atasan, hingga sistem sosial yang selalu menindas kita. Kekesalan tak dapat dimanifestasikan karena adanya hukum dan norma. Namun, seringkali kita melihat orang membunuh karena balas dendam, bukan?

Kekaguman kita pada Joker muncul karena keberaniannya melewati batas hanya karena muak dengan kemalangan dan rasa kecewa.

Bukan berarti Joker adalah “pahlawan” dengan tindakan yang inspiratif. Melihat aksi Joker dalam setiap versi merupakan bentuk pelampiasan kita. Tak ada bedanya dengan orang-orang yang melampiaskan diri melalui game-game berbau kekerasan atau menonton film sadis.

Film “Joker” pun diakhiri dengan sebagaimana mestinya seorang penjahat menerima ganjarannya. Meski menerima sorakan dan kekaguman dari para warga Gotham yang hidup dalam kemiskinan, ia akhirnya harus menjalani hukuman di rumah sakit jiwa.

Click to comment

Leave a Comment

Gerald’s Game (2017) Gerald’s Game (2017)

10 Rekomendasi Film Adaptasi Stephen King

Cultura Lists

Zombieland 2009 Zombieland 2009

Zombieland Review: Film Zombie Komedi Terbaik yang Pernah Ada

Film

five feet apart review five feet apart review

Five Feet Apart Review: Kisah Cinta Terpaut Jarak 5 Kaki

Film

Fight Club (1999) Fight Club (1999)

15 Film Tentang Kesehatan Mental

Cultura Lists

Connect