Connect with us
Words on Bathroom Walls Review
Photo: Roadside Attractions

Film

Words on Bathroom Walls Review: Memahami Remaja dengan Schizophrenia

Satu lagi film coming of age dengan isu kesehatan mental yang berhasil memberikan pemahaman.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Kehidupan remaja Adam Petrazelli (Chralie Plummer) terasa sulit secara emosional semenjak dirinya didiagnosis memiliki schizrophrenia. Lepas dari problematika keluarga dan kesulitannya dalam menjalani studi, Adam tak pernah menyerah untuk meraih mimpinya menjadi seorang chef. Namun, ketika penyakit mental yang Ia miliki semakin menguasi dirinya, mampukah Adam mempertahakan cita-cita dan orang yang Ia cintai?

“Words on Bathroom Walls” merupakan film drama remaja yang disutradarai oleh Thor Freudenthal. Naskah ditulis oleh Nick Naveda yang diadaptasi dari novel berjudul serupa karya Julia Walton. Lebih dari sekedar film drama remaja dengan romansa dan tema coming of age, “Words on Bathroom Walls” benar-benar akan membawa kita dalam sebuah pengalaman seorang remaja dengan schizophrenia melalui karakter protagonisnya.

Words on Bathroom Walls

Pemahaman Tentang Schizophrenia Melalui Skenario Drama Remaja yang Ringan

Bicara tentang isu kesehatan mental, seringkali kita dibawa dalam dimensi yang suram dan depresif oleh media. Hal tersebut bisa jadi merupakan salah satu penyebab munculnya stigma tentang isu kesehatan mental sebagai sesuatu yang kelam.

Schizophrenia sendiri merupakan salah satu penyakit mental yang masih kurang dipahami oleh khalayak umum. Bahkan banyak materi di media yang kerap mengasosiasikan penyakit satu ini dengan hal-hal mengerikan seperti pembunuhan, kasus bunuh diri, dan berbagai tindakan berbahaya lainnya.

“Words on Bathroom Walls” memiliki skenario yang ringan ala film drama remaja pada umumnya. Adam Petralize akan menceritakan langsung kisahnya sebagai remaja pengidap schizophrenia. Dimana ada karakter-karakter halusinasi yang setia menemaninya, dan dalam film ini cukup memberikan sentuhan humor yang tidak berlebihan.

Adapun sosok halusinasi mengerikan yang selalu menghantuinya, menjadi semacam musuh terbesarnya dalam kisah ini. Penonton akan diajak dalam dunia yang terlihat seperti imajinasi belaka, namun hal tersebut ‘lah yang memang dilihat oleh orang dengan penyakit ini. Dengan sudut pandang orang pertama, kita jadi lebih mudah memahami perasaan Adam tanpa kita harus menerka-nerka. Film ini berusaha secara maksimal untuk mempermudah kita memahami orang dengan schizophrenia.

Meski memiliki gangguan mental, Adam tampil sebagai karakter yang tidak depresif, bahkan masih memiliki semangat untuk hidup normal dan tak ingin menyerah dengan cita-cita sebagai chef. Sebetulnya film ini secara sederhana tentang remaja dengan mimpi dan cinta, hanya saja Ia harus melakukan usaha ekstra karena memiliki penyakit mental.

Sederet Karakter Pendukung yang Memberi Kontribusi pada Kisah Protagonis

Salah satu hal yang kerap menjadi kesulitan bagi orang dengan schizophrenia adalah untuk dipahami oleh orang disekitarnya. Mulai dari hubungan dengan orang tua, dalam sebuah komunitas atau institusi, hingga dengan kekasih. Kesulitan pun dialami oleh Adam dalam kisah ini, ditambah dengan beberapa masalah tambahan untuk dramatisir cerita. Setiap karakter pendukung dalam film ini memberikan kontribusi yang pas untuk melengkapi kisah Adam.

Setiap karakter menjadi representasi peran keluarga atau kerabat dari seseorang dengan schizophrenia. Kita akan melihat perjuangan ibu Adam dan ayah tirinya untuk mengusahakan tindakan terbaik meski dengan segala miskomunikasi yang tak berujung. Begitu juga orang institusi sekolahan yang merasa bahwa Adam memiliki potensi sebagai orang yang berbahaya.

Untuk skenario romansanya, hubungan Adam dan Maya (Taylor Rusell) bisa dibilang hanya sebagai pemanis dan tidak terlalu banyak dikembangkan. Melalui sertiap karakter pendukung ini, penonton bisa berkaca untuk mengubah perspektif mereka pada orang dengan schizophrenia.

Words on Bathroom Walls Review

Photo: Roadside Attractions

Berhasil Memberikan Statemen Akhir Tentang Schizophrenia dengan Pesan Optimisme

Pada akhirnya, “Words on Bathroom Walls” memiliki babak akhir dengan statemen yang berdampak untuk isu kesehatan mental. Bagaimana protagonis secara maksimal mengungkapkan perasaan dan pemikirannya, kemudian disambut dengan tanggapan dari orang lain yang positif dan suportif. Ada adegan dimana Adam mengungkapkan perasaannya dengan cara yang cukup klise.

Bukan sekadar omong kosong, dialog yang Ia lontarkan memiliki esensi penting pada setiap kalimatnya. Memberikan statemen tepat tentang schizophrenia yang patut dipahami oleh banyak orang.

Perjuangan Adam dengan penyakitknya dalam kisah ini sebetulnya bisa dikategorikan mudah. Adam beruntung bahwa orang-orang disekitarnya mau mengusahan masa depan dan ketenangan batinnya semaksimal yang mereka bisa.

Beberapa orang bisa saja menganggap film ini terlalu optimis dan terlalu indah untuk menjadi nyata. Namun itulah intinya, “Words on Bathroom Walls” hendak menghentikan stigma tentang schizophrenia yang selau digambarkan mengerikan dan penuh dengan pesimisme. Selalu ada kemungkinan terbaik dalam berbagai skenario di dunia ini, dan film ini memilih untuk menyuguhkan skenario terbaik untuk memberikan harapan bagi siapapun yang mengidap maupun berdampingan dengan seorang pengidap schizophrenia.

Click to comment

Things Heard and Seen Things Heard and Seen

Things Heard & Seen: Percampuran Horror Supranatural dan Drama Rumah Tangga

Film

Jupiter’s Legacy Jupiter’s Legacy

10 Serial Terbaru di Netflix (Mei 2021)

Cultura Lists

Army of the Dead Army of the Dead

10 Rekomendasi Film Terbaru di Netflix (Mei 2021)

Cultura Lists

Homunculus Homunculus

Homunculus Review: Setiap Manusia Memiliki Monster di Dalam Dirinya

Film

Advertisement
Cultura Live Session
Connect