Connect with us
harry potter

Entertainment

Tren Film dan Serial Adaptasi di Dunia

Katanya, 10 tahun terakhir film-film Hollywood didominasi hasil adaptasi novel. Hal serupa juga berlaku di Asia.

Pada daftar sepuluh besar film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa, jenis film adaptasi mendominasi. Umumnya adalah film-film yang diadaptasi dari komik superhero. Saking lakunya film-film ini, ada yang sampai diputar di bioskop jam lima pagi! Tiketnya ludes bak kacang goreng. Namun hal ini tak hanya dilakukan oleh Hollywood saja. Nyatanya di Asia tren ini pun jamak dilakukan. Ada banyak manhwa maupun manga yang diadaptasi baik dalam bentuk film maupun serial. Indonesia juga tak ketinggalan dengan tren ini.

Sebenarnya tidak semua film atau serial adaptasi di Hollywood berasal dari komik superhero saja. Ada juga yang berasal dari novel dan meraih pendapatan yang juga besar. Misalnya Gone Girl (2014), The Girl on The Train (2016), Percy Jackson: Sea of Monster (2013), Fifty Shades of Grey (2015), The Martian (2015), hingga yang sangat gagal seperti Eragon (2006). Tidak semua berhasil baik secara materi maupun menurut pandangan para kritikus film. Apalagi dengan fanbase yang besar, justru risiko untuk mendapatkan kecaman dari penggemar kategori die hard cukup besar. Sedikit saja ada detail yang terlewat, film dapat dikecam habis.

superman (1978)

Superman 1978

Di satu sisi para kreator film ingin memproduksi karya yang diyakini memiliki risiko kegagalan materi kecil. Salah satunya dengan mengadaptasi karya dalam bentuk lain ke dalam bentuk layar lebar. Film yang diproduksi dari novel atau komik sudah memiliki fanbase sehingga dianggap aman. Apalagi ini bisa disebut sebagai bentuk fan service bagi penggemar. Jauh sebelum karya adaptasi menjadi tren, film superhero telah diproduksi beberapa kali. Contohnya adalah Superman yang rilis di tahun 1978.

inception

Inception (2010)

Di sisi lain, para kreator dikritik karena dianggap malas berpikir. Mereka dituding tidak lagi mau berusaha menciptakan ide yang orisinil. Bisa jadi mereka khawatir bila ide yang terlalu out of the box berisiko tidak disukai penonton. Jalan keluarnya adalah menciptakan film yang bertema unik tapi memiliki basis penggemar seperti Harry Potter atau Game of Thrones. Namun tentunya ada bukti ide yang orisinil pun bisa mendapatkan apresiasi dengan baik bahkan dianggap spektakuler. Contohnya Inception (2010).

Harry Potter

Harry Potter and The Order of The Phoenix (2007)

Namun demikian ada risiko kejenuhan bagi penggemar untuk menikmati sebuah film hasil adaptasi. Inilah yang bisa jadi mendasari kreator film mengubah sedikit detail. Pada Harry Potter and The Order of The Phoenix (2007) misalnya, disebutkan bahwa yang melaporkan Harry kepada Ibu Umbridge adalah Cho Chang. Padahal dalam versi novel, orang yang mengkhianati Harry adalah sahabat dari Cho Chang. Pada Eragon (2006) yang terinspirasi dari karya Tolkien, The Lord of The Ring, efek visualnya dianggap buruk begitu pula mayoritas detail dalam film. Arya dalam versi film tidak terlihat seperti seorang elf. Padahal pada novel dijelaskan wajah Arya panjang seperti kuda dan sangat cantik.

Perubahan detail tersebut seringkali memantik kemarahan penggemar. Contohnya adalah Percy Jackson. Perubahan detail yang terlalu besar-besaran membuat sebuah trilogi sekelas The Hobbit menjadi gagal total. Sampai-sampai keluarga Tolkien diisukan untuk menolak ada karya adaptasi lain dari buku yang ditulis Tolkien. The Hobbit yang hanya berupa satu buku, dipecah menjadi tiga buah film dengan plot cerita yang kacau. Ini tak hanya terjadi pada film produksi Hollywood saja tetapi juga di Asia. Contohnya adalah Webtoon Cheese in The Trap yang diadaptasi menjadi serial televisi maupun film. Tak hanya penggemar, komikusnya juga tidak terima dengan perubahan plot yang dibuat oleh kreator film.

Masalah lain dari karya hasil adaptasi adalah spoiler yang akan muncul. Bila film atau serial benar-benar mengikuti karya yang menjadi acuan, maka penggemar sudah dapat memprediksi. Umumnya film-film yang masuk dalam kategori sangat dinantikan akan memancing spoiler bermunculan di internet. Inilah kenapa sebagian forum pecinta film mematikan kolom komentar mereka sementara waktu di masa film baru rilis. Namun seringkali kemunculan spoiler tak dapat diprediksi di mana kemunculannya. Spoiler bisa muncul di mana saja.

Detective Conan

Detective Conan

Sebenarnya tren adaptasi sudah berlangsung lama di Asia. Jepang misalnya. Hampir bisa dipastikan bahwa manga-manga yang ternama akan muncul juga dalam bentuk anime. Ada pula yang muncul dalam versi film, bahkan live action. Hal ini dianggap wajar-wajar saja. Contohnya adalah Detektif Conan. Manga ini telah hadir sejak 1994 dan masih terbit hingga sekarang. Detektif Conan masuk dalam daftar empat besar manga dengan penjualan paling laris sepanjang masa.

Tak hanya di Asia, Detektif Conan juga laku di penjuru dunia lain. Film layar lebarnya pun berkali-kali muncul. Bahkan saat ini ketika di seluruh dunia film yang paling laris adalah Avengers: Endgame, Detektif Conan adalah pengecualian. Filmnya menjadi yang paling laris di Jepang. Beberapa karya lain hasil adaptasi yang tak kalah populer adalah versi live action dari Death Note, Kudo Shinichi (nama lain Detektif Conan), Tokyo Ghoul, Gintama, Bleach, dan Clover.

Tren Film dan Serial Adaptasi di Dunia

Candy

Di masa kejayaan manga di Indonesia, para penggemar dapat dengan mudah membelinya di toko buku atau menyewanya di rental komik. Kini rental komik sudah banyak yang gulung tikar. Penggemar pun lebih suka membaca versi online yang gratis dan tentunya hasil pembajakan. Komunitas dari penggemar anime dan manga sendiri sudah cukup kuat sehingga walaupun tak banyak tayang di Indonesia, informasi mengenai judul baru mudah diketahui. Indonesia juga pernah membuat sinetron hasil adaptasi manga Jepang yang berjudul Candy.

Seringkali masalah yang dialami di Indonesia bukan mengadaptasi secara resmi melainkan menyontek. Beberapa sinetron Indonesia dituding menyontek drama Korea, manga Jepang, hingga film Hollywood seperti Twilight. Kebanyakan sinetron ini dibuat tidak dengan mengurus izin secara resmi kepada pemilik hak ciptanya. Namun tak semua sinetron hasil adaptasi itu berhasil. Banyak juga yang gagal dan hanya tayang beberapa episode saja. Kalaupun ada yang tayang hingga ratusan episode, jalan ceritanya sudah berbelok ke mana-mana.

Dilan 1991

Dilan 1991

Banyak pula film di Indonesia yang diadaptasi dari novel. Salah satu yang paling fenomenal adalah Dilan. Awalnya Iqbaal Ramadhan dikritik tidak cocok memerankan Dilan yang seorang jagoan. Namun kritikan penggemar berbuah menjadi dukungan ketika melihat akting Iqbaal setelah Dilan rilis. Meski demikian, Dilan juga tak lepas dari spoiler. Tetapi penggemar tidak ambil pusing. Hal ini dibuktikan dengan tetap tingginya jumlah penonton meski spoiler bertebaran. Justru kesuksesan film Dilan ikut mendorong penonton yang belum membaca novelnya untuk membaca karya Pidi Baiq ini.

Satu lagi negara yang kerap membuat karya adaptasi adalah Korea. Tahun ini saja diperkirakan ada 23 serial televisi yang berasal dari webtoon. Sebagian besarnya juga menjadi favorit pembaca di Indonesia. Di Korea saja, separuh penduduknya adalah pembaca Webtoon. Bisa dibilang, serial-serial ini memiliki jaminan fanbase yang besar dan siap menonton begitu rilis. Meningkatnya jumlah serial yang merupakan hasil adaptasi dari Webtoon dikarenakan semakin populernya aplikasi komik gratis ini. Genre yang beraneka ragam, jalan cerita yang segar, dan plot yang tidak selalu sesuai pakem membuat Webtoon menjadi pilihan sangat baik untuk diadaptasi.

my id is gangnam beauty

My ID is Gangnam Beauty

Sejauh ini di forum-forum pun belum ada kritikan terkait maraknya adaptasi webtoon ke dalam bentuk serial maupun layar lebar. Kalaupun ada kritik, biasanya terjadi jika plot melenceng jauh atau akting dari aktris maupun aktor yang tak sesuai harapan. Namun kritikan bisa juga tampil dari kritikus. Contohnya adalah My ID is Gangnam Beauty. Walaupun drama ini laku keras terutama karena faktor aktornya, serialnya dianggap tidak cukup baik merealisasikan isi Webtoon. Kang Mi-rae yang disebut fashionable di Webtoon, justru kalah stylist dengan Hyun Soo-a versi serial. Do Kyung-seok yang tampan dan menjadi magnet serial ini sebenarnya cast yang wajahnya terlalu imut. Padahal gambaran di Webtoon ia adalah pria yang dingin.

Beberapa Webtoon yang dinantikan adaptasi dalam bentuk serialnya oleh pembaca Indonesia antara lain True Beauty, Strangers From Hell, Now At Our School, Golden Spoon, Sweet Home, A Good Day To Be A Dog, dan Possessed. Seluruh judul ini diketahui memiliki banyak pembaca di Indonesia. Salah satu yang menghebohkan adalah jajaran cast untuk Stranges From Hell. Lee Dong Wok, aktor tampan yang meroket sejak membintangi Goblin, akan memerankan seorang psikopat dalam Strangers From Hell yang menjadikan rumah kosannya sebagai area pembantaian. Sweet Home dan Now At Our School sendiri berkisah tentang wabah monster (atau zombie). Korea nampaknya semakin percaya diri memproduksi karya dengan genre zombie sejak keberhasilan Train To Busan (2016).

Tak ada yang salah dari para kreator film untuk mengadaptasi karya baik itu komik maupun novel. Namun kreator film pun tak boleh malas untuk mencari ide baru karena suatu saat bisa terjadi kejenuhan pada karya-karya hasil adaptasi. Belum lagi penggemar yang tidak puas karena film yang diproduksi tidak sesuai harapan. Karya adaptasi sebenarnya juga membatasi kreativitas kreator karena ada banyak detail yang tak bisa diubah. Belum lagi ada kelompok penonton minoritas yang tidak menggemari karya adaptasi. Pasar minoritas ini perlu digarap pula.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement Cultura Lists
Connect