Connect with us
Senigma
tradisi minum susu di dunia
Photo by freestocks.org from Pexels

Culture

Tradisi Minum Susu di Dunia

10.000 tahun lalu ketika belum terbiasa minum susu, leluhur kita mungkin terus menerus kentut karena perutnya tidak dapat mencerna laktosa.

Umat manusia baru mulai minum susu kurang lebih 10.000 tahun yang lalu. Orang-orang yang pertama kali minum susu adalah petani dan pengembala di barat Eropa karena merekalah yang pertama kali hidup dengan hewan domestik. Salah satunya adalah sapi. Di benua lain, yaitu Afrika, orang-orang mulai hidup dengan hewan ternak sejak 8.000 tahun lampau. Sejak itulah mereka mulai mengenal susu. Sementara di daratan Asia, tidak ada catatan pasti sejak kapan manusia mengonsumsi susu. Namun dapat dipastikan mereka adalah orang Mongolia dan China.

Susu memiliki peran vital dalam berbagai kebudayaan di dunia. Di Yunani, susu diolah menjadi keju hingga mencapai ratusan jenis dan dijual oleh pedagang lokal. Yunani juga terkenal dengan yoghurt-nya yang kini diekspor ke berbagai belahan dunia, bahkan Indonesia. Suku Fulani di Afrika Barat meyakini bahwa dunia tercipta dari setetes susu. Legenda Nordik menyebutkan sapi terbuat dari embun beku yang kemudian mencair dan menopang dunia. Susu juga diabadikan sebagai nama galaksi, Milky Way.

Sebenarnya, manusia tidak diciptakan untuk mengonsumsi susu hewan. Perut kita tidak dapat mencerna laktosa yang ada di dalam susu. Hal ini membuat leluhur kita dulu mengalami perut kembung, diare, hingga kentut karena mengonsumsi susu. Namun kebiasaan minum susu ini membuat perut manusia berevolusi untuk dapat mencerna laktosa. Kita mungkin satu-satunya mamalia dewasa yang bisa tetap minum susu. Mamalia lain seperti anjing, kucing, bahkan sapi dewasa tidak mengonsumsi susu. Itulah mengapa ketika kita memberi minum hewan dengan susu, mereka mengalami diare.

Hampir 90% masyarakat Eropa di masa kini toleran terhadap laktosa sehingga dapat mengonsumsi susu. Begitu pula dengan sebagian masyarakat Afrika yang mana memiliki budaya minum susu dari nenek moyang mereka. Hal serupa juga berlaku di timur tengah, terutama Mesir. Namun hal ini tidak berlaku dengan Asia. Mayoritas masyarakat Asia intoleran terhadap laktosa. Kasus ini juga dapat ditemukan di Indonesia dengan istilah alergi susu sapi. Umumnya anak-anak yang alergi susu sapi diberi susu kedelai sebagai pengganti.

Orang yang intoleran terhadap laktosa masih dapat mengonsumsi produk olahan susu. Kandungan lakstosa pada keju cheddar hanya mencapai 10% sementara pada mentega jumlahnya lebih rendah lagi. Masyarakat di selatan Eropa sendiri diketahui telah memproduksi keju sejak 7200 tahun lalu. Di wilayah Eropa yang lain, ditemukan bukti keju telah ada sejak 6000 tahun lalu. Diketahui pula bahwa orang yang dapat mencerna laktosa merupakan keturunan dari penggembala. Sementara itu orang yang memiliki garis keturunan pemburu, atau tukang kebun, tidak memiliki mutasi genetik yang membuat perutnya dapat menerima laktosa.

Meski manusia tidak diciptakan untuk minum susu, kita pun tidak dapat menyanggah manfaat gizinya. Susu kaya akan lemak, protein, gula, kalsium, dan vitamin D. Itulah mengapa susu dipromosikan oleh dokter dan ahli gizi terutama untuk menghindari osteoporosis yang lebih rawan bagi kaum hawa. Namun demikian konsumsi susu cair di Indonesia sendiri terbilang rendah dibanding sejumlah negara ASEAN. Leluhur kita yang lahir sebelum masa kemerdekaan Indonesia tidak memiliki kebiasaan minum susu. Hewan ternak lebih sering dimanfaatkan dagingnya sebagai bahan makanan atau tenaganya untuk membajak sawah. Kecenderungan minum susu yang rendah inilah salah satunya yang mengakibatkan anak-anak Indonesia memiliki tubuh stunting.

Ada beberapa kebudayaan di Indonesia yang memiliki tradisi mengonsumsi olahan susu. Masyarakat Minang misalnya, mengenal dadiah. Dadiah adalah yoghurt tradisional yang terbuat dari susu kerbau dan difermentasi di dalam bambu. Masyarakat Sulawesi Selatan mengenal Dangke yaitu keju tradisional. Pada dasarnya dangke dibuat dari susu kerbau. Namun karena baunya terlalu menyengat, sekarang banyak dangke yang terbuat dari susu sapi. Pada masa modern susu juga dimanfaatkan sebagai baku tahu, kerupuk, dan dodol. Tahu susu sendiri dikenal memiliki rasa lebih gurih dan tekstur lebih lembut.

sejarah minum susu di dunia

Photo via safariwest.com

Salah satu suku di Afrika yang memiliki tradisi panjang beternak adalah Watusi. Hewan ternak menjadi komoditas penting dalam hidup masyarakatnya. Jumlah dan kualitas hewan ternak adalah ukuran prestige seseorang. Hewan ternak juga dijadikan mas kawin. Dagingnya dimakan sementara susunya diminum atau diolah menjadi yoghurt. Sapi yang dimiliki suku Watusi berbeda dengan sapi di Indonesia. Mereka menyebutnya sebagai Inyambo yang memiliki tanduk sangat panjang.

Pada masa Dinasti Qing, teh susu mencapai puncak kejayaannya. Teh susu yang saat ini dapat kita jumpai di mall-mall berasal dari sejarah ini. Awalnya budaya yang muncul adalah minum teh. Namun setelah menyadari teh menjadi lebih kaya rasa dengan susu, minuman baru ini menjadi primadona. Sementar itu di Mongolia teh tidak hanya dicampur dengan susu melainkan juga dengan garam, mentega, dan lemak.

Susu dan produk olahannya memegang peranan penting dalam budaya makan di Mongolia. Susu disebut juga sebagai “white food”. Digunakan dalam berbagai ritual oleh masyarakat Mongolia seperti dilempar ke udara atau dipercikkan ke manusia, hewan, dan barang-barang. Tujuannya adalah meminta keberuntungan atau keamanan. Susu yang diolah menjadi yoghurt, mentega, maupun keju dalam kebudayaan Mongolia berasal dari berbagai hewan ternak seperti unta, sapi, domba, dan kambing.

Mesir memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan susu. Susu dimanfaatkan dan diolah tidak hanya sebagai bahan makanan tapi juga produk kecantikan. Tradisi bangasawan di Mesir termasuk dengan memasukkan produk olahan susu sebagai menu makan malamnya seperti keju dan mentega. Tradisi untuk menikmati keju telah berlangsung selama berabad-abad. Hal ini dibuktikan salah satunya dengan penemuan keju yang berusia 3200 tahun di sebuah makam.

Wall painting from the tomb of Methethi, Saqqara, Ancient Egypt, Old Kingdom, c2371-2350 BC

Wall painting from the tomb of Methethi, Saqqara, Ancient Egypt, Old Kingdom, c2371-2350 BC

Salah satu contoh pemanfaatan susu untuk kosmetik dilakukan oleh Cleopatra. Susu asam dimanfaatkan Cleopatra untuk berendam. Susu asam mengandung asam laktat yang dapat menjadi AHA secara alami. AHA pada masa modern merupakan sebuah zat yang digunakan untuk mengeksfoliasi kulit . Hal ini akan menjadikan sel kulit baru tumbuh sehingga kulit menjadi sehat, halus, dan bercahaya.

Di masa kini, Mesir menghadapi masalah mengenai konsumsi susu warganya. Ini diakibatkan mitos yang tumbuh secara turun temurun bahwa susu mentah lebih baik dibanding susu pabrikan. Padahal susu mentah yang diproduksi di peternakan kecil tidak dikelola secara higienis atau mengikuti standarisasi keamanan tertentu. Sebagian peternak sapi bahkan tidak memiliki kulkas sehingga demi mengawetkan susu sampai ke tangan pelanggan, susu diberi tambahan formalin.

Namun susu mentah sendiri tidak dilarang penjualannya di sebagian besar negara-negara Eropa. Di Jeman, peternakan yang boleh menjual susu mentah harus memiliki sertifikat pemerintah. Sementara di Italia, susu mentah didistribusikan melalui vending machine. Ada kurang lebih 1300 vending machine yang berisi susu mentah dari 966 distributor di 87 provinsi. Namun Otoritas Keamanan Pangan Eropa mengakui bahwa susu mentah memiliki risiko kesehatan karena dapat mengandung bakteri berbahaya seperti salmonella dan E. coli sehingga disarankan memanaskan susu sebelum dikonsumsi.

swill milk 1872 / Library of Congress

Swill Milk | 1872 / Library of Congress

Di benua Asia, negara yang tidak melarang penjualan susu mentah adalah Jepang. Sebaliknya Korea memiliki larangan. Beberapa negara bagian di Amerika mengizinkan penjualan susu mentah untuk alasan tertentu sementara Kanada melarang. Penjualan susu mentah di Kanada dianggap ilegal dan dapat dijatuhi hukuman penjara. Amerika sendiri memiliki sejarah panjang mengenai susu. Salah satunya adalah tragedi swill milk.

Kala itu, perusahaan-perusahaan susu berharap dapat meningkatkan profit dengan cara kotor. Mereka memberi makan sapi dengan sisa penyulingan gandum. Sapi-sapinya juga tidak dirawat dengan baik dan tidak menghasilkan susu yang berkualitas. Bahkan sapi-sapi tersebut hanya dapat bertahan hidup selama beberapa bulan. Susu yang dihasilkan berwarna kebiru-biruan. Untuk menutupi warna susu yang mencurigakan, berbagai zat ditambahkan ke dalam susu. Contohnya adalah kapur, telur, tepung, air, dan tetes tebu. Susu itu dijual dengan label susu pedesaan murni. Tentu saja risiko kesehatannya tinggi, termasuk kasus kematian pada anak-anak.

Di luar seluruh manfaat susu, juga masalah intoleran laktosa pada sebagian masyarakat dunia, produksi susu dianggap tidak ramah lingkungan. Produksi susu diketahui boros listrik bahkan meski susu diperah secara manual. Sebab susu harus disimpan dalam pendingin atau diproses melalui mesin agar steril dan layak konsumsi. Sapi juga menghasilkan metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Hal ini juga berkaitan dengan limbah yang dihasilkan dari kemasan susu baik itu kertas karton (berlapis plastik), botol plastik, sachet plastik, maupun kaleng.

Click to comment

Leave a Comment

kasus kesehatan mental kasus kesehatan mental

Ironi Isu Kesehatan Mental: Harus Ada Korban Dulu

Lifestyle

Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita

Membaca Keinginan Kita Dengan Algoritma

Culture

buzzer politik buzzer politik

Mana yang Lebih Dipercaya, Buzzer atau Media?

Culture

hooligans dan sepak bola indonesia hooligans dan sepak bola indonesia

Hooligans Tak Bisa Dilepaskan dari Sejarah Panjang Sepak Bola

Culture

Connect