Connect with us
tradisi lebaran di indonesia

Culture

Tradisi Lebaran di Mata Milenial

Generasi milenial adalah kelompok mayoritas pada angkatan kerja saat ini. Bagaimana mereka merayakan lebaran?

Berdasarkan data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI di tahun 2018, generasi milenial adalah kelompok mayoritas pada angkatan kerja. Jumlah generasi milenial mencapai 33,75%. Sebutan generasi milenial merujuk pada orang-orang yang lahir di tahun 1980 hingga 2000. Uniknya lagi, milenial adalah generasi yang bekerja tidak sekadar untuk menerima gaji. Mereka memiliki tujuan. Salah satunya adalah merayakan lebaran di kampung halaman.

Merantau adalah suatu hal yang umum bagi generasi milenial begitu pula generasi sebelumnya. Mereka yang merantau ke daerah urban akan kembali ke kampung halaman saat masa cuti bersama. Meski kehidupan di kota sarat akan individualisme, akan ada saat di mana nilai-nilai komunal kembali menjadi pegangan. Namun adakah perbedaan antara generasi milenial dengan generasi sebelumnya mengenai tradisi berlebaran? Adakah tradisi yang berganti atau hilang?

Padang

Mulyadi adalah seorang terapis anak berkebutuhan khusus asal Padang yang kini menetap di Jakarta. Ia mengaku selalu pulang kampung setiap tahun. Kenaikan harga tiket tak menghentikan langkahnya. Berkumpul bersama keluarga besar merupakan tradisi sekaligus sebuah keharusan. Apalagi pekerjaannya mengakomodasi hal itu. “Biasanya H-7 sih,” ujarnya. Mulyadi lalu menceritakan lebih detail bagaimana kebiasaan yang ia dan keluarganya lakukan setiap tahun.

Salah satunya tradisi memakai baju spesial. Ini bukan soal baju atau model paling baru. Tapi baju tersebut kompak digunakan satu keluarga. Biasanya Mulyadi dan keluarga memutuskan warna baju yang akan dipakai. Pernah juga keluarganya memakai baju yang kembar. Tak hanya keluarga, warga kampungnya juga kompak. Para ibu akan menghabiskan waktu memasak. Para bapak akan melakukan kerja bakti. Sementara muda mudi menyiapkan obor untuk malam takbiran.

Ada beberapa masakan yang umumnya disediakan untuk lebaran. Itiak Lado Mudo adalah bebek yang dimasak cabe hijau. Agar daging bebek menjadi empuk maka proses memasaknya memakan waktu cukup lama. Menu berikutnya adalah samba Lado tanak. Masakan ini seperti rendang tetapi isinya adalah pete, kentang, dan ikan teri. Rasanya tidak pedas dan teksturnya lebih basah dibanding rendang. Ada pula ketupat sayur pakis yang dimasak dengan telor. Beragam gulai juga disediakan. Terakhir tentunya yang utama adalah rendang. Semuanya dikemas dalam rantang dan dibawa ke masjid.

Masakan-masakan itu akan dinikmati bersama seluruh warga kampung seusai Salat Ied. Selanjutnya keluarga Mulyadi akan ke rumah nenek. Suku minang menganut sistem matrilinial sehingga kumpul keluarga dilakukan di pihak keluarga ibu. Rumah sang nenek masih tradisional yaitu berupa rumah Gadang. Namun sejak kakak dari sang ibu menjadi anggota dewan, keluarga Mulyadi memiliki kebiasaan baru. Setelah dari rumah nenek mereka akan mengikuti open house di rumah kakak sang ibu.

Ketika telah selesai merayakan dengan pihak ibu selanjutnya Mulyadi akan bertandang ke pihak keluarga ayah. Acara makan-makan tak berakhir di hari itu saja. Pada hari ketiga, para ibu akan kembali memasak beragam jenis makanan. Namun makanan yang dimasak dalam kategori lebih ringan. Misalnya sambel ulek dengan pete, terong rebus, dan ikan asin. Ibu juga akan membawa camilan misalnya kue bolu. Karena masakan yang dibuat sangat banyak dan beragam, keluarganya memilih membeli kue kering yang sudah jadi.

Kegiatan makan ini masih akan berlanjut dalam kegiatan piknik keluarga maupun kerabat. Mulyadi dan keluarga akan pergi ke warung-warung makan dan bernostalgia menikmati masa bersantai selama libur lebaran. Beberapa makanan yang wajib dibeli di antaranya adalah karupuak mie kuah sate, martabak kubang, nasi goreng pergaluan, dan sate danguang-danguang. Tentunya beberapa masakan itu ada di Jakarta. Tapi akan beda rasanya bila dinikmati di tempat asalnya.

Aceh

Dedy mengatakan ia tak selalu pulang kampung. Apalagi ketika menjadi mahasiswa dan harus menghemat pengeluaran. Ia telah merantau ke Bogor sejak diterima di sebuah program diploma. Kini ia telah lulus dan memiliki penghasilan sendiri sehingga bisa pulang bahkan membelanjakan sejumlah uang untuk anggota keluarga. Sebagai gambaran, untuk menyediakan baju lebaran bagi anggota keluarga inti ia menyiapkan dua juta rupiah. Pihak laki-laki akan memakai baju warna putih serta sarung sementara pihak perempuan memakai gamis. Di siang hari setelah selesai Salat Ied, pihak laki-laki akan mengganti pakaian menjadi batik.

Dedy bekerja sebagai penyuluh pertanian di koperasi syariah. Pekerjaan menuntutnya tinggal di Provinsi Banten. Di luar pekerjaan tetapnya, ia memiliki investasi berupa hewan ternak. Sapi-sapi yang ia pelihara bisa dijual ketika ia membutuhkan suntikan dana. Lebaran kali ini Dedy juga memiliki budget untuk memberikan THR. “Adek 500 ribu, kalo keponakan 20 ribu.” Di luar itu ada budget lain yaitu rekreasi. Dedy mengaku selain berlebaran di rumah, ia dan keluarga memiliki rencana untuk piknik. Ketika jalan-jalan ini, keluarganya memiliki tradisi makan daging kambing. Tahun ini Dedy yang menjadi penyumbang kambing.

Mengenai masakan sendiri ia mengaku keluarganya sama seperti keluarga lain. Intinya masakan bersantan. Kue-kue pun seperti yang umumnya dijual. Namun ada satu kue khas yang menjadi kesukaannya yaitu Timphan. Timphan adalah kue pisang dengan isi kelapa. Mengenai harga bahan baku kue yang naik, Dedy mengatakan hal itu tak berpengaruh besar. “Naiknya kan juga gak banyak. Jadi tetap beli.” Uniknya, meski makan begitu banyak tak membuat berat badan Dedy naik. Katanya lebaran ataupun tidak tubuhnya tetap saja kurus.

Medan

Sudah lama Dewi menetap di Pulau Jawa. Meski asli Medan, ia telah lama merantau dan tinggal bersama bibinya. Kini Dewi bersekolah dan bekerja di Bandung. Ia mengaku tak selalu pulang ke Medan akibat keterbatasan dana. Menurutnya juga tak ada yang spesial dari tradinya merayakan lebaran. Namun ada satu hal yang berubah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kini Dewi berhenti membeli baju lebaran. Keputusannya dipengaruhi oleh padangan hidup zero waste. Ia ingin hidup lebih ramah lingkungan.

Pakaian adalah salah satu penyumbang masalah lingkungan dan ia tak mau mengambil andil dalam hal itu. Selain berhenti membeli baju baru, Dewi juga seringkali mengampanyekan hidup ramah lingkungan melalui media sosial maupun podcastnya. Ia tak lagi membeli pembersih makeup karena bisa memakai minyak zaitun. Dewi pun telah beralih dari kapas sekali pakai ke kapas reusable. Mengenai tradisi makan-makan, Dewi tak ikut urun dana ataupun memasak. Semua bibinya yang menyiapkan. Piknik keluarga juga bukan sebuah kebiasaan.

Sukabumi

Mesya adalah seorang karyawati BUMN. Baginya, pulang kampung adalah sebuah kewajiban. Tak bisa tidak. Ia rindu kehangatan keluarganya. Apalagi bekerja di ibukota membuatnya tak bisa sering-sering bertemu orangtua. Lebaran adalah momen yang ia nantikan. Tak hanya berkumpul tapi juga makan bersama. Salah satu menu yang ia nantikan adalah uli. Uli adalah cara orang Sunda menyebut ketan. Ketan yang pulen dan gurih ini dimakan dengan tape. Ada tape hitam, ada pula tape hijau. Di kampung-kampung tape uli juga menjadi suguhan bagi para tamu.

Ada lagi satu hal menarik dari keluarga Mesya yaitu rasa cinta mereka terhadap sirup ABC rasa jeruk. Kalaupun ada anggota keluarga yang salah beli sirup, sirup itu takkan laku. Keluarganya tetap memilih sirup ABC jeruk. Sirup itu telah menjadi ajang nostalgia tersendiri sekaligus bagian dari tradisi.

Tradisi tiap daerah berbeda satu sama lain. Begitu pula satu generasi dengan generasi lainnya. Kini, generasi milenial mendominasi angkatan kerja. Merekalah yang bertanggung jawab secara ekonomi untuk menyiapkan kebutuhan lebaran. Terutama mereka yang laki-laki. Dalam budaya kita, laki-laki masih dipandang sebagai pemegang peranan penting dalam hal finansial. Mereka dituntut pulang kampung dan menyediakan sejumlah dana. Ini juga membuktikan keberhasilan mereka merantau dan menandakan mereka telah dewasa. Dengan pulang kampung, tradisi merayakan lebaran beserta budaya makan-makannya akan tetap lestari. Kekayaan tradisi kita akan dapat diwariskan ke garis keturunan berikutnya.

Click to comment

Leave a Comment

lumpia lumpia

Keberagaman Asia Tenggara dalam Sepotong Lumpia

Culture

bubble milk tea bubble milk tea

Boba Milk Tea, Minuman Khas Taiwan yang Mendunia

Lifestyle

kecak dance uluwatu kecak dance uluwatu

Epos Hindu Klasik di Tengah dan Selatan Bali

Culture

vanilla vanilla

Vanila, Perasa Termahal Nomor Dua Dunia

Culture

Connect