Connect with us
The White Tiger Netflix
Netflix

Film

The White Tiger Review: Kisah Balram Sebagai Budak yang Ingin Naik Status

Satu lagi kisah tentang kesenjangan sosial di India dengan estetika produksi yang naik kelas.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Mengekspos isu kesenjangan sosial di India memang tidak pernah ada habisnya. Di era modern dimana kita berpikir semua orang sudah hidup beradab, masih ada perbudakan dan orang-orang miskin yang diperlakukan seperti ayam dalam sangkar; menanti untuk disembelih, mengisi perut para orang kaya.

Balram (Adarsh Gourav), seorang pemuda dari kampung Laxmangarh, memiliki ambisi besar untuk keluar dari garis kemiskinan dan perbudakan yang Ia rasakan dari kecil. Ia menyadari bahwa dirinya memiliki potensi besar, Ia lebih dari seekor ayam dalam kandang, Ia percaya bahwa dirinya adalah macan putih (white tiger), siap keluar dari sangkar dan menerkam.

“The White Tiger” merupakan Netflix Original Movie terbaru yang disutradarai dan ditulis oleh Ramin Bahrani. Dibintangi oleh Adarsh Gourav, Rajkummar Rao, dan Priyanka Chopra. Film drama ini diadaptasi dari novel berjudul serupa karya Arvind Adiga. Sebagai film pembuka tahun 2021 di Netflix, tak perlu menunggu sepanjang tahun untuk mengklaim bahwa film ini akan masuk dalam jajaran Netflix Original Movie terbaik tahun ini.

The White Tiger

Netflix

Film India dengan Sinematografi Terbaik

Kesenjangan sosial terpampang jelas di India, dan film ini menampilkannya secara otentik dengan cara paling artistik. “The White Tiger” bisa jadi film berlokasi di India dengan sinematografi terbaik sejauh ini. Kebanyakan film berlokasi di India menampilkan latar di kota yang ramai dan kumuh dengan formula yang masih kurang sempurna. Otentik, namun kurang sedap dipandang mata. Paolo Carnera sebagai sinematografer telah melakukan kerja bagus untuk menyajikan visual berkualitas tinggi pada film ini.

Ada banyak warna, filter, dan desain frame yang diaplikasikan dalam film ini, namun hasilnya sangat pas dan tidak overwhelming. Mulai dari lokasi-lokasi underground city dengan lampu neon, hingga lokasi VIP dengan segala kemewahan yang kontras dengan daerah pinggiran kota. Ada beberapa frame potrait yang diselipkan dan berhasil memberikan statement, lebih dari sekedar pola yang disematkan dalam sinematografi.

The White Tiger

Netflix

Tidak ada scoring yang ikonik dalam film ini, namun hal tersebut tidak menjadi masalah besar karena storytelling dengan model narasi dijamin akan mencuri perhatian kita. Beberapa lagu disematkan untuk transisi yang pemilihannya juga sangat pas untuk memberikan mood tertentu pada setiap adegan. Setelah menonton film ini, dijamin kita memiliki perspektif baru tentang potensi Indian-aesthetic dalam sebuah karya film.

Menguak Kesenjangan Sosial di India dengan Sentuhan Noir dari Kisah Balram

Sebagai film adaptasi novel, “The White Tiger” langsung memikat melalui narasinya dari adegan pembuka. Kisah akan berpusat pada karakter Balram, satu orang dari jutaan masyarakat India yang terjebak dalam “kandang” kemiskinan dan perbudakan. Balram akan menjadi pembawa cerita yang mengisi narasi film dari awal hingga akhir, and he’s a good storyteller.

Plot secara keseluruhan merupakan kisah flashback yang diceritakan oleh sosok Balram yang tampaknya sudah sukses. Bagaimana Ia bisa lepas dari statusnya sebagai budak menjadi seorang entrepreneur? Jawabannya akan kita temukan seiring berjalannya film.

Awalnya kita akan diajak melihat asal Balram, dari sebuah kampung kecil bernama Laxmangarh. Balram sebetulnya sudah terlihat potensinya sejak kecil, namun isu finansial membuatnya harus putus sekolah. Hingga akhirnya Ia mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan membantu finansial keluarga besarnya.

The White Tiger Review

Netflix

Melalui sudut pandang Balram, kita akan melihat rupa tergelap dari India dimana perbudakan dan sistem kasta masih sangat melekat di negara tersebut. Sebagai oase, untungnya diselipkan karakter seperti Ashok (Rajkummar Rao) dan Pinky (Priyanka Chopra) yang telah lama tinggal di Amerika. Mewakili kita sebagai penonton yang kesal ketika Balram diperlakukan seenaknya sebagai budak dari keluarga orang kaya.

Setiap karakter memiliki kontribusi untuk menjadi media representasi dari berbagai belah pihak, menjalin interaksi yang natural. Setiap karakter dalam film ini memiliki kompleksitas pemikiran dan kepribadian; sama-sama memiliki sisi baik dan buruk.

Semua yang kita lihat terasa seperti kejadian nyata yang mungkin saja terjadi, bahwa inilah wajah perbudakan yang patut diekspos di mata dunia. Namun, ada sentuhan fiksi noir yang diselipkan pada kisah Balram secara personal. Konsep ini cukup serupa dengan film “Taxi Driver” (1976) dan “Joker” (2019). Dimana berfokus pada satu karakter anti-hero yang secara ajaib membuat kita mendukung mereka sekaligus ada “dosa” dalam tindakan yang diambil.

Perkembangan Karakter dan Akting yang Berkualitas dari Adarsh Gourav

Adarsh Gourav langsung menunjukan kualitas terbaik dalam akting perdananya. Banyak momen yang menampilkan statementnya dalam berakting. Adarsh selalu memanfaatkan momen kamera close up untuk menangkap ekspresi terbaiknya. Ada banyak ‘award-worthy’ footage yang dihasilkan oleh Adarsh melalui “The White Tiger”.

Ia juga memiliki kesempatan besar untuk membuktikan kualitas aktingnya terutama karena penokohan dari karakter Balram. Kita akan melihat karakter ini memiliki perkembangan yang dengan proses yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Mulai dari budak yang norak saat melihat hotel bintang lima, hingga supir oportunis dengan rencana besar untuk keluar dari statusnya sebagai budak.

Tanpa kita sadari, raut wajah, sorot mata, dan logat berbicara dari Balram berubah menjadi dua karakter yang berbeda. Namun, satu prinsip yang bisa kita lihat dipegang, penanda bahwa ‘this is Balram’ adalah ambisinya untuk keluar dari status budak dengan cara apapun; mulai dari cara yang baik dan membutuhkan proses, hingga cara ekstrim untuk memutar balik keadaan.

“The White Tiger” merupakan film yang memiliki estetika produksi dan pesan yang patut disebarkan ke seluruh dunia. Semakin banyak film yang menyuarakan kesenjangan sosial di India, semakin banyak hati yang akan tergerak untuk menaruh perhatian pada isu ini. Jika film sekelas “Parasite” (2019) bisa tembus Oscar, “The White Tiger” juga memiliki peluang yang sama di ajang paling bergengsi dalam industri perfilman tersebut.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect