Connect with us
The Verve: Urban Hymns Album Review
Photo via ig.ft.com

Music

The Verve: Urban Hymns Album Review

Urban Hymns tidak terasa seperti album 90-an karena dibuat agar tetap segar dan dinamis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Urban Hymns” adalah album studio ketiga The Verve yang dirilis pada 29 September 1997 di Hut Records. Album ini mendapatkan pujian kritis saat rilis dan kemudian menjadi yang salah satu album paling laris. “Urban Hymns” menduduki peringkat ke-18 sebagai album terlaris dalam sejarah tangga lagu Inggris karena terjual lebih dari 10.000.000 kopi di seluruh dunia. Album ini dibuka oleh megahnya orkestra pada lagu berjudul ‘Bittersweet Symphony’.

‘Bittersweet Symphony’ adalah lagu yang lugas. Diciptakan dengan nilai-nilai yang penting. Atau bisa terbayang bagaimana membayangkan pesona Richard Ashcroft berjalan pada video klipnya. Lagu Bitter Sweet Symphony ini sama seperti ‘Lucky Man’ yang bisa diturunkan dari generasi ke generasi.

Ada pelarian meditatif pada ‘Bitter Sweet Symphony’ dengan string gitar yang dicocokan dengan ‘Lucky Man’. Tapi, ‘Lucky Man’ lebih ekspansif. Titik poinnya kepada lirik dalam reff-nya yang menjadi sebuah pembuktian, “Well I’m a lucky man/ with fire in my hands!”.

The Verve Urban Hymns

The Verve – Urban Hymns

Penegasan itu mirip seperti ‘Sonnet’ memiliki penuh perasaan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Diawali oleh suara gitar dan kemudian masuk ke dalam intro yang terdengar easy going. Tapi ditekankan sebuah tujuan pada sesi reff, “Yes there love if you want it/ don’t sound like no sonnet/ my lord!”

Sebetulnya Sonnet mempengaruhi jiwa terluka yang membungkus Ashcroft. Sama seperti lagu yang berjudul ‘The Drugs Don’t Work’ pada album ini. Lagu ini memiliki ratapan yang memilukan hati dari Ashcroft untuk ayahnya. Ia memang benar-benar menulis tentang kematian ayahnya pada ‘The Drugs Don’t Work’.

Maka dari itu lagu ini terasa lebih personal dan sentimental bagi Ashcroft. Tapi ia mampu membuat para pendengarnya menemukan rasa sakit yang lebih manis dari ‘The Drugs Don’t Work’ layaknya “If Heaven falls/I’m coming too”.

Selain itu, ada lagi beberapa lagu yang bisa diikuti dengan lamunan. Yaitu ‘The Rolling People’ dan ‘Catching The Butterfly’ yang menjadi salah satu daya tarik utama album ini karena dipicu psikedelik. Drum yang funky pun menempatkan dirinya ke dalam lagu ‘Catching The Butterfly’.

Sementara lagu ‘Neon Wilderness’ mengubah mimpi menjadi menyeramkan karena mengungkapkan sesuatu melalui tarikan gitar yang tak biasa. Berbeda dengan gitaris tambahan dari Simon Tong bercampur dengan piano elektrik pada lagu ‘One Day’, sehingga terdengar lebih menenangkan.

“Urban Hymns” ditutup oleh ‘Come On’ dengan kegilaan sekitar hampir tujuh menit yang terasa cepat. Album ini diciptakan oleh orang-orang Inggris yang emosional sehingga terdengar mendebarkan. Melalui “Urban Hymns”, The Verve mampu membuat album yang melonjak dengan melankolis sebab aransemennya yang menyapu kegagalan memilukan. Maka penting untuk mengenali arti skala yang dipamerkan “Urban Hymns”. Secara jelas terdengar seperti karya sebuah band yang bekerja dalam harmoni sempurna. Di sinilah Ashcroft mulai membuat sejarah karena vokal dan harmoni yang sangat indah.

Karya utama The Verve terletak tepat di antara kelembutan dan dinamisme. Menghadirkan sensasi mati rasa yang tidak nyaman seperti fatamorgana. Ada banyak semangat yang sama untuk dirasakan di seluruh lagunya. Juga merasa jauh lebih mudah untuk berbagi dalam kesedihan dalam “Urban Hymns”.

Album ini menggali ruang mistik yang berkabut dan terputus-putus. Memang klasik pada masanya, tapi “Urban Hymns” tidak terasa seperti album 90-an karena dibuat agar tetap segar dan dinamis. Dan yang paling penting, “Urban Hymns” masih relevan didengarkan pada 20 tahun kemudian.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect