Connect with us
The Irregulars

TV

The Irregulars Review: Sekelompok Remaja dalam Investigasi Supranatural

Kasus supranatural yang cukup menarik, sayangnya diberi sentuhan romansa.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Irregulars” merupakan Netflix Original Series terbaru, membawa kita mengenal sekelompok remaja jalanan dari Baker Street, salah satu kompleks paling ikonik di London sebagai tempat tinggal detektif terkenal sepanjang masa, Sherlock Holmes. Bukan sekelompok remaja biasa; Bea, Spike, Jessie, dan Billy bekerja untuk Dr. Watson dalam melakukan investigasi berbagai kejadian supranatural yang melanda London.

Serial ini merupakan adaptasi yang bersifat canon, cerita original karya Tom Bidwell. ‘The Irregulars’ sempat muncul dalam dua novel Sir Arthur Conan Doyle sebagai sekelompok anak jalanan yang dijuluki Baker Street Irregulars yang dipekerjakan Dr.Watson sebagai informan, tidak lebih dari itu. Dalam serial “The Irregulars” satu ini, kita akan diajak mengikuti investigasi bersifat supranatural, misteri, bahkan horror.

The Irregulars

Netflix

Kisah Investigasi dengan Beragam Kasus Supranatural

Jika memiliki ekspektasi investigasi berbagai kasus yang mengandalkan logika dan ilmu deduksi Sherlock Holmes, kita dijamin akan kecewa karena “The Irregulars” menyajikan materi yang jauh berbeda. Setiap episodenya selalu ada kasus suprantural baru yang harus diinvestigasi oleh Bea dan kawan-kawan. Mulai dari penculikan bayi oleh sosok misterius, hingga sekte supranatural kelas atas. Berawal dari kebutuhan akan uang, kisah berkembang menjadi sesuatu yang ada hubungan dengan kehidupan personal Bea dan Jessie yang merupakan saudara dalam kisah ini.

Pada episode pertama dan kedua, kasus yang disuguhkan mungkin tidak terlalu menarik, terutama buat kita yang masih “dihantui” oleh ekspektasi kasus yang logis dari kisah Sherlock Holmes.

Memasuki episode ketiga, cerita akan mulai seru, episode ini bisa jadi episode terbaik dalam “The Irregulars”. Ada sentuhan persahabatan dan persaudaraan yang memberikan sentuhan sentimental dalam serial ini. Namun, sentuhan romansa remaja yang diselipkan tidak terlalu menarik dan pada akhirnya cukup merusak akhir dari kisah Bea dan kawan-kawan yang seharusnya bisa dirayakan. Satu lagi kekurangan yang mengganjal adalah adegan action yang tidak rapi dalam serial ini, jadi terlihat amatir.

The Irregulars

Netflix

Casting yang Tepat dengan Penokohan, Chemistry Antar Karakter yang Pas

Ada banyak aktor muda yang mewarnai jajaran cast utama “The Irregulars”. Mulai dari Thaddea Graham, aktor perempuan berdarah Asia sebagai Bea, Darci Shaw sebagai Jessi, McKell David sebagi Spike, Jojo Macari sebagai Billy, dan Harrison Osterfield sebagai pangeran Leopold. Ada perbedaan antara gang Bea dan Leopold yang sebetulnya adalah pangeran, merupakan pilihan tepat dari casting crew untuk memberikan peran tersebut pada Harrison Osterfield. Tampak ada usaha dari serial ini untuk menghadirkan deretan cast yang diversity. Mungkin bukan masalah karena kita tidak memiliki gambaran tentang gang The Irregulars sebelumnya.

Namun, jika kalian penggemar berat Sherlock Holmes dan Dr.Watson, mungkin akan ada rasa kesal bagaimana serial ini melupakan penokohan original dari dua sosok ikonik ini. Dr.Watson diperankan oleh Royce Pierreson, hadir sebagai “bad guy” dalam kisah ini dengan motivasi terselubung yang sentimental. Latar belakangnya sebagai veteran sama sekali tidak diselipkan, secara penokohan juga tampil sebagai sosok yang jauh dari karakteristik John Watson dari novel. Dalam kisah ini, kita akan melihat sosok Sherlock dalam titik terendahnya, mungkin masih bisa diterima karena ada faktor-faktor baru yang belum pernah kita lihat sebelumnya dari detektif super satu ini.

Pada akhirnya, yang menjadi alasan “rusaknya” penokohan Dr.Watson dan Sherlock Holmes dalam “The Irregulars” adalah sentuhan drama yang setimental dan emosional. Dimana sebagian besar penggemar dari semesta Sherlock mungkin kerap mengenyampingkan materi tersebut jika dirasa terlalu melankolis.

Konsep Musik Latar dan Sinematografi yang Tanggung dan Janggal

Menghadirkan latar kota London pada era Victoria tampaknya bukan menjadi masalah besar bagi tim produksi. Mulai dari desain hunian klasik yang elegan, hingga sisi kumuh kota London yang kumuh, semuanya sudah hadir cukup otentik dan memenuhi standard produksi sebuah serial yang niat. Begitu juga dengan pemilihan kostum dan make up yang melengkapi visual serial ini. Sayangnya sinematografi yang ditampilkan tidak terlalu konsisten dieksekusi dengan maksimal. Hanya beberapa episode yang cukup bagus secara sinematografi.

Satu hal yang bisa dibilang paling menggangu dari “The Irregulars” adalah pemilihan musik maupun lagu latar yang tidak nyambung dengan tema keseluruhan. Musik opening sudah memiliki komposisi yang tepat, seharusnya musik tersebut saja sudah bisa dijadikan sample yang dimodifikasi untuk scoring sepanjang episode. Rasanya sangat tidak pas mendengar scoring bergenre eletronic dubstep yang tiba-tiba terdengar ketika visual memperlihatkan London klasik. Kemudian sentuhan yang terasa sangat cheesy pada episode terakhir dimana tiba-tiba terdengar ‘Whe The Party’s Over’ dari Billie Eilish. Setidaknya “Bridgerton” mampu menghadirkan lagu modern dengan gubahan yang disesuaikan dengan tema serial klasik.

Secara keseluruhan, “The Irregulars” bukan serial yang akan disukai oleh penggemar berat Sherlock Holmes atau penikmat serial misteri dan investigasi kriminal pada umumnya. Namun penulisan kasus supranatural yang dihadirkan sebetulnya tidak terlalu payah, potret persahabatan dan persaudaraan yang dihadirkan juga menyentuh. Hanya saja, ada beberapa bagian dalam produksi yang konsep temanya kurang matang.

Penulis serial ini tampaknya tidak bisa menghindari trend serial Netflix yang “harus” diberi sentuhan romansa. Padahal jika segala unsur romansa yang tidak signifikan dihapus dari naskah, ada potensi “The Irregulars” menjadi serial investigasi supranatural remaja yang menyenangkan secara maksimal.

Click to comment

Love and Monsters Review Love and Monsters Review

Love and Monsters Review: Petualangan Joel Melawan Monster Demi Cinta

Film

Two Distant Strangers Two Distant Strangers

Two Distant Strangers Review

Film

Euphoria Special Episode Review Euphoria Special Episode Review

Euphoria Special Episode Review

TV

Thunder Force Thunder Force

Thunder Force Review: Film Superhero dengan Cita Rasa Parodi

Film

Advertisement
Cultura Live Session
Connect