Connect with us
The Handmaiden Review Indonesia

Film

The Handmaiden Review: Harta, Erotika, Cinta

Thriller erotis penuh tipu muslihat dan pengkhianatan demi mendapatkan cinta dan harta.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Dirilis pada tahun 2016, film The Handmaiden memang tidak pernah muncul di layar lebar tanah air. Meski begitu, para pecinta film thriller tetap berbondong-bondong memuji film Korea ini karena kisahnya yang tidak sederhana, sinematografinya yang indah, serta penggambarannya yang penuh estetika.

Kisah film dimulai ketika seorang pria penipu ulung bernama Fujiwara bersekongkol dengan seorang pencuri wanita bernama Sook-hee untuk menguasai harta kekayaan seorang keturunan bangsawan Jepang bernama Hideko. Hideko tinggal dengan pamannya, Kouzuki, yang telah membantu Jepang menjajah tanah airnya demi mendapatkan kekayaan.

The_Handmaiden_Review

Estetika The Handmaiden sangat khas seperti karya-karya Park Chan-wook lainnya.

Keempat karakter tersebut menjadi fokus utama dalam The Handmaiden dan saling memengaruhi tindakan satu sama lain. Namun siapa yang menyangka bahwa ternyata film Korea ini merupakan adaptasi sebuah novel Inggris berjudul Fingersmith yang dirilis pada tahun 2002 oleh penulis Sarah Waters.

Latar belakang era Victorian di Inggris yang ada pada novel diubah menjadi era kolonial di Korea yang sedang berada di bawah jajahan Jepang. Meski diadaptasi ke latar oriental, bangunan kastil yang menjadi tempat tinggal Hideko dan Kouzuki tetap memiliki nuansa Barat yang melekat dan menambah keindahan dalam kesuraman film ini.

Estetika The Handmaiden sangat khas seperti karya-karya Park Chan-wook lainnya yang memiliki nuansa suram dengan saturasi rendah. Warna-warna yang dingin dan kelam menjadi senjata sejatinya, namun dalam film ini Park Chan-wook sepertinya mengurangi pergerakan kamera yang terlalu rumit. Segala keputusan teknis itu rasanya sangat tepat untuk menggambarkan kisah yang penuh dengan pengkhianatan dan manipulasi. Maka tidak heran jika film ini berhasil meraih penghargaan film asing terbaik di BAFTA Awards ke-71.

The Handmaiden Review

Terdapat banyak aspek yang dapat dikaji mengenai film ini, mulai dari persoalan teknis hingga hal-hal yang tidak terlihat langsung. Namun hal yang paling menonjol dari film ini adalah aspek sapphic yang direpresentasikan dalam hubungan antara Sook-hee dan Hideko. Dalam industri film Korea yang cukup konservatif, kisah lesbian tentu akan mengundang kontroversi dari berbagai kalangan. Bahkan bukan hanya dari kelompok yang homofobik, tapi juga dari kelompok LGBT.

Tentu para kritikus film belum melupakan kontroversi film Prancis berjudul Blue is the Warmest Color (2013) yang juga mengangkat kisah romansa lesbian. Film karya Abdellatif Kechiche tersebut dikritisi karena adegan seks yang sangat pekat dengan male gaze. Alih-alih menggambarkan hubungan dua perempuan sebagai hal yang intim dan sama seperti hubungan heteroseksual, sang sutradara justru dianggap mengobjektifikasi hubungan lesbian tersebut menjadi pemuas hasrat di mata laki-laki.

The Handmaiden Review

The Handmaiden

(Warning: spoiler!)

Untungnya, Park Chan-wook tidak terjerumus ke dalam lubang male gaze yang sama dengan menampilkan adegan seks lesbian yang tidak mengobjektifikasi kedua karakter perempuannya. Adegan tersebut justru diperlihatkan sebagai perkembangan hubungan mereka dan pertumbuhan komposisi karakter masing-masing.

Ditambah dengan akhir yang cukup mengejutkan setelah berhasil menipu penonton berkali-kali, kisah The Handmaiden dapat dianggap sebagai perjuangan kebebasan perempuan (terutama perempuan lesbian) dari tangan laki-laki manipulatif.

Membalut segala intrik hubungan antarkarakter dan keindahan latar yang membuat penonton terhanyut di dalamnya, Park Chan-wook tetap menyuguhkan hal-hal sadis, mengagetkan, bahkan menjijikkan dalam film thriller ini. Darah tentu sudah melekat dalam karyanya. Namun sisi erotis dalam The Handmaiden memberikan rasa yang lebih mengganggu lagi bagi penonton. Salah satu adegan bahkan menunjukkan tentakel yang sangat khas dengan kisah erotika Jepang.

Namun berbeda dari film Park Chan-wook lainnya seperti Oldboy (2003) yang memiliki akhir mengejutkan dan tragis. Akhir dari The Handmaiden justru seperti secangkir cokelat panas di tengah malam yang dingin; manis dengan cita rasa yang kaya untuk mengakhiri hari panjang yang melelahkan dan penuh dengan kebohongan.

Menutup sebuah kisah yang menunjukkan bahwa mungkin hanya cinta yang bisa membuat seseorang berhenti berbohong. Ataukah justru cinta yang mendorong orang untuk berbohong demi bisa bersatu? The Handmaiden dapat ditonton di Amazon Prime.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect