Connect with us
The Assistant
Bleecker Street

Film

The Assistant Review: Stereotip Gender dan Pelecehan Seksual di Dunia Kerja

Melihat dunia kerja bernuansa dystopian melalui Jane yang bekerja sebagai asisten.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

The Assistant merupakan film drama yang disutradarai dan ditulis oleh Kitty Green. Sutradara asal Australia ini terkenal melalui film dokumenternya, Casting JonBenet (2017) di Netflix.

The Assistant merupakan feature film pertama dengan naskah pertama dari sang sutradara, namun masih mengadaptasi naskah dari isu sosial yang perlu diberi perhatian. Kitty Green selalu tertarik dengan tema isu sosial dalam setiap karyanya, Ia menyukai materi yang nyata. Mungkin itu mengapa kebanyakan film sebelumnya merupakan film dokumenter seperti Ukraine is Not a Brothel (2013) dan The Face of Ukraine (2015).

The Assistant Review

Bleecker Street

Dibintangi oleh Julia Garner yang terkenal melalui serial Ozark, Ia berperan sebagai seorang asisten bernama Jane. Jane merupakan pegawai baru di sebuah perusahaan produksi film. Suatu ketika, Jane menyadari bahwa bosnya melakukan pelecehan seksual terhadap banyak wanita muda di industri ini. Tak sanggup membiarkan hal tersebut terus terjadi, Jane pun memutuskan untuk segera mengambil tindakan.

Suasana Kantor yang Suram dengan Ketenangan yang Menegangkan

Buat yang sudah menonton film dokumenter Kitty Green sebelumnya, kita tak akan merasa asing dengan produksi dari film ini. Mulai dari gaya sinematografi dan visualnya yang didominasi warna-warna dingin, lembut, dan gelap. Menciptakan suasana kantor bagai penjara kubikel yang dingin dan claustropobhic. Seperti sebuah perusahaan dystopian; yang sayangnya merupakan sebuah realita.

Tidak ada musik latar pengiring sama sekali dari awal hingga akhir film. Namun, kualitas sound mixing untuk film ini sangat jernih dan jelas dengan memanfaatkan berbagai suara alami yang ada di kantor. Dipadukan dengan visual kantor yang suram, suara mesin fotokopi tak pernah membuat kita merasakan ketegangan seperti ini. Untuk merasakan suasana film secara maksimal, tonton dengan kualitas audio yang bagus atau menggunakan headset.

Bukan Film Membosankan, Melainkan Realita yang Perlu Kita Ketahui

Film ini menimbulkan ekspektasi sebagai drama slow pace dengan plot yang datar melalui premisnya. The Assistant memang tidak dinamis seperti Bombshell (2019) yang mengangkat tema serupa. Dengan sederet pemeran utama yang modis dan plot yang cukup dramatis. Kitty tampaknya masih belum bisa move on dari ciri khasnya sebagai sutradara film dokumenter, karena The Assistant mengangkat konsep dan teknik pembawaan cerita yang terasa nyata.

Bleecker Street

Film seperti Roma (2018) dan Copy of My Mind (2015) bisa menjadi contoh yang serupa dengan film ini. Dengan mengangkat kisah dari sudut pandang tokoh minoritas dan tidak punya kekuatan besar dalam sebuah sistem. Sosok-sosok seperti ini ‘lah yang biasanya menjadi saksi bisu dari sebuah agenda besar, namun tak memiliki kekuatan untuk menegakan keadilan.

Sekitar 19 menit pertama, kita hanya akan melihat rutinitas Jane sebagai seorang asisten. Membawa penonton untuk memahami posisi Jane dan mengajak kita untuk beradaptasi dengan suasana kantor yang menegangkan. Hingga akhirnya satu-satu konflik mulai muncul dalam pekerjaan Jane.

Dengan durasinya film termasuk pendek, The Assistant tidak memiliki alur cerita yang lambat, namun natural dengan perkembangan kisah yang pas. Cukup untuk membuat kita paham akan kepribadian setiap karakter dan secara sempurna membuat penonton paham bagaimana sebuah sistem yang kejam berjalan di perusahaan tersebut.

The Assistant

Ty Johnson / Bleecker Street

Jauh dari Agenda Feminisme, Namun Mencangkup Lebih Banyak Hal Seputar Dunia Kerja

(Spoiler alert)

Bicara soal pelecehan seksual di dunia kerja yang sempat marak dengan gerakan ‘me too’ hingga film dokumenter Jeffrey Epstein: Filthy Rich (2020) yang sangat menarik para pejuang feminisme di luar sana. It’s always about men against women. The Assistant merupakan sebuah film yang tak mengeksploitasi materi apapun, hanya secara sederhana dan “elegan” membawa film dengan isu ini secara artistik.

Kita tak akan menangkap basah pihak tertentu dalam melancarkan aksinya, bahkan Jane sekalipun. Sebagai wanita yang cerdas, Ia mampu mengambil kesimpulan dari setiap bukti yang Ia dapatkan. Hingga akhirnya Jane memutuskan untuk melapor ke HRD perusahaan karena Ia khawatir dengan nasib perempuan-perempuan tersebut. Namun, ketika idealisme bertentangan dengan kebutuhan untuk mempertahankan pekerjaan, Jane dengan berat hati harus menyerah pada sistem. Pada akhirnya, banyak pegawai senior yang “menenangkan” Jane, bahwa nanti juga Ia akan terbiasa dengan situasi tersebut. Hal tersebut bahkan datang dari mulut pegawai wanita.

Tak hanya pelecehan seksual, kita juga bisa melihat isu lainnya dalam film ini. Salah satunya ada stereotip gender yang dialami oleh Jane. Sebagai satu-satunya asisten perempuan, dia yang terlihat paling sibuk dibandingkan dengan asisten pria lainnya. Mulai dari merapikan kantor, mencuci piring, memesan makanan, hingga menerima telepon dari istri bos yang bawel. Dan masih banyak lagi sikap tidak profesional dalam dunia kerja yang diekspos dalam film ini.

Pada akhirnya, The Assistant merupakan film yang secara sempurna membawakan realita yang terjadi di dunia kerja, terutama industri perfilman. Film ini juga tepat sasaran; bayangkan berapa banyak penonton di festival atau acara screening yang bekerja di industri perfilman pemutaran film ini? Pegawai minoritas tak bisa menjadi “pahlawan” sendirian, isu ini menjadi tanggung jawab bagi setiap pekerja dalam industri perfilman.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect