Connect with us
Senigma
Antichrist
Antichrist (2009)

Cultura Lists

The 15 Best Gory Movies of All Time

Meski tren produksi film horor naik turun, subgenre gore/slasher/splatter selalu memiliki tempat sendiri di hati fans die hard-nya.

Gore dan slasher adalah subgenre dari film horor. Ada beberapa subgenre lain dari film horor seperti sekte, vampir, demoniac, splatter, hingga zombie. Berbagai subgenre ini memiliki masa keemasannya sendiri. Namun bisa dibilang film horor tidak ada matinya. Kelahiran film horor dimulai dengan dimulainya sejarah sinema. Film pertama yang masuk dalam genre horor dibuat oleh Mellies pada era 1890-an. Namun sebutan bapak dari film horor sendiri diberikan kepada Alfred Hitchcock “Master of Suspense” yang karya-karyanya masih dikenang hingga kini.

Film Gore fokus pada segi visualnya berupa adegan berdarah-darah. Film gore akan menampilkan penyiksaan yang kejam dan memilukan sehingga menghasilkan banyak darah. Sementara itu slasher adalah subgenre film horor yang menekankan pada proses penjagalan korban. Ada pakem tertentu yang umunya digunakan oleh film-film slasher seperti korbannya kebanyakan berusia muda, ada adegan penggunaan obat terlarang maupun kegiatan seksual, serta berada di tempat yang terisolasi. Salah satu film Indonesia yang memberikan gambaran semacam ini adalah Rumah Dara (2009).

Sebenarnya agak sulit memisahkan subgenre slasher dengan gore. Sebab di mana ada kegiatan penjagalan, di situ pula ada darah yang mengalir deras. Keunikan lain baik dari subgenre slasher maupun gore adalah kematian para korban yang tidak lazim. Misalnya dipotong gergaji, pakai gunting rumput, atau peralatan-peralatan non-konvensional lainnya. Inilah mengapa film-film tersebut masuk kategori disturbing dan ditujukan untuk penonton usia dewasa (R – Restricted).

Bila menilik sejarah, sebenarnya film gore/slasher bukanlah subgenre baru. Sudah sejak lama film horor tak hanya mengenai hantu atau kerasukan saja. Salah satu film horor yang dianggap paling disturbing adalah Freaks (1932) yang kemunculannya menjadi kontroversial. Akibat adegan-adegannya yang dianggap kelewat batas, film ini mengalami sensor habis-habisan. Kini, versi originalnya tidak dapat ditemukan dimanapun. Namun bukan berarti sejak itu dunia perfilman berhenti memproduksi film gore/slasher yang disturbing. Berikut ini 15 film kategori gore yang sangat direkomendasikan untuk pecinta genre horor.

120 days of Sodom (Italy, 1975)

The Days of Sodom (Italy, 1975)

Judulnya mungkin tidak membuat kita berpikiran bahwa ini adalah film gore ataupun slasher. Kita malah berpikir ini adalah film erotis. Namun perlu diketahui, scene erotis umumnya bagian dari pakem film slasher klasik. Film-film horor jadul seringkali menggambarkan tokoh perempuannya berbusaha provokatif dan dibunuh dengan cara yang mengerikan. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis Marquis de Sade.

Namun film ini tidak berfokus pada salah satu jenis kelamin saja. Kisahnya adalah beberapa perempuan dan lelaki muda yang diculik oleh empat lelaki kaya raya. Para korban yang diculik ini diperlakukan seperti hewan, diberi ikat leher, dan diharuskan telanjang. Mereka tak hanya disiksa secara fisik tapi juga secara seksual. Film ini dibagi dalam empat babak. Tak hanya berisi penyiksaan dan pembunuhan tetapi juga adegan menjijikkan seperti memakan kotoran manusia.

a serbian film

A Serbian Film (Serbia, 2010)

Beberapa kritikus menyebutnya sebagai salah satu film paling menjijikkan. Pemutaran filmnya sendiri melalui berbagai kontroversi bahkan ada yang menganggap tak layak tayang walau sudah disensor. Kisahnya tentang seorang pria yang telah pensiun sebagai bintang film porno. Ia mengalami kesulitan untuk menafkahi keluarga sehingga kembali berakting. Namun ternyata film yang ia perankan bukan film porno biasa.

Beberapa contoh dari adegan yang menjijikkan adalah perkosaan terhadap bayi baru lahir hingga hubungan seks dengan perempuan sambil memenggal kepalanya. Ini tentunya meresahkan apalagi dengan adanya kasus-kasus pedofilia. Sedikit sulit untuk memutuskan apakah film ini adalah bagian dari seni atau bukan.

The Human Centipede

The Human Centipede Series (Netherlands, 2009 – 2011)

Film ini memenangkan berbagai penghargaan meski ada beragam pandangan kritikus. Kisahnya tentang seorang ahli bedah yang menculik lalu menyatukan para korbannya menjadi satu. Para korban disatukan, dari mulut hingga anus, sehingga terlihat seperti lipan dalam wujud manusia. Sang sutradara sekaligus penulis skenarionya mengaku salah satu inspirasinya dalam membuat film ini adalah eksperimen medis yang dilakukan Nazi di masa perang dunia di kamp Auschwitz.

Sama seperti dua film sebelumnya, kita akan sulit memutuskan apakah ini film yang bagus atau buruk. Satu hal yang pasti adalah film ini menjijikkan untuk ditonton. Sang ahli bedah memutuskan para korbannya yang menjadi satu rangkaian panjang harus makan melalui mulut pertama. Mulut pertama akan mengeluarkan makanan dari anus dan makana itu disalurkan ke mulut yang lain.

Ichi The Killer

Ichi The Killer (Japan, 2001)

Film ini merupakan adaptasi dari manga karya Hideo Yamamoto. Sesuai dengan judul, kisahnya tentang Ichi seorang pembunuh yang meninggalkan seluruh korbannya dengan isi perut terburai hingga mengotori dinding dan perabotan. Ia dituduh membunuh seorang bos Yakuza. Anak buah dari si bos yakuza lalu mengejar Ichi. Karakter dari si anak buah adalah seorang Sadomasokis yang flamboyan dan seksi. Tak hanya masalah dengan geng Yakuza, Ichi digambarkan juga ringan tangan dalam menyakiti perempuan.

Karena unsur kekerasannya tinggi, beberapa negara melakukan pemboikotan terhadap film ini. Penjualan atas film ini dianggap ilegal dan dapat dijatuhi hukuman. Ketika film ini diputar di beberapa festival film, kantong muntah disediakan untuk para penonton.

saw movie

Saw Series (USA, 2003 – 2010)

Film karya James Wan ini sudah sering diputar di televisi dalam negeri. Kisahnya mengenai seseorang yang senang menjebak para korbannya untuk mengetes seberapa besar keinginan mereka bertahan hidup. Para korban akan diberi tes yang berkaitan dengan penyiksaan baik fisik maupun psikologis. Pada versi pertama film ini, salah satu korban diminta membunuh temannya atau keluarganya akan mati. Film ini meraih kesuksesan besar. Pada perayaan 10 tahun sejak rilis pertama kali, film ini sempat dirilis ulang secara terbatas.

martyrs review indonesia

Martyrs (France, 2008)

Sesuai judulnya, film ini berkisah tentang perempuan-perempuan muda yang dijadikan martir oleh sebuah sekte. Mereka percaya bahwa penyiksaan terhadap para perempuan muda ini akan memberikan mereka penglihatan mengenai dunia lain. Penyiksaan demi penyiksaan yang dialami oleh para perempuan menyebabkan mereka berhalusinasi. Salah satu perempuan berhasil kabur lalu membunuh keluarga yang dulu menjadikannya objek. Namun rasa penyesalan karena ia kabur seorang diri tanpa mampu membawa pergi temannya membuat ia bunuh diri.

Banyak aktris maupun rumah produksi yang menolak proyek film ini. Namun keunikannya sendiri membuat film ini dijuluki sebagai era baru dari film horor Prancis. Film ini juga dianggap menjijikkan karena ada unsur ketelanjangan juga penyiksaan terhadap anak-anak.

Hostel

Hostel (USA, 2005)

Filmnya berpusat tentang dua mahasiswa yang berkeliling Eropa. Ternyata mereka diburu oleh sebuah kelompok misterius yang senang menyiksa dan membunuh backpacker. Mereka tidak serta merta diculik tetapi dijebak secara halus. Awalnya mereka memiliki teman seperjalanan yang tiba-tiba hilang. Gadis yang mereka temui dan ajak berhubungan ternyata bagian dari kelompok misterius tersebut. Pada akhirnya kedua mahasiswa ini menjadi sasaran siksaan yang brutal.

Film ini adalah gambaran dari horor gore klasik era 70-an dan 80-an. Meski dianggap memiliki plot yang lemah, tetapi pecinta film brutal akan cukup “terhibur” melihat karya dari sutradara Eli Roth. Ia sebelumnya telah memproduksi film horor Cabin Fever (2002) yang mendapat kritikan pedas dan dianggap gagal total. Meski film horor buatannya dianggap tak cukup baik, ia pernah memproduksi film yang sangat bagus yaitu Inglorious Basterds (2009).

i spit on your grave

I Spit On Your Grave (USA, 2010 – 2013)

Film ini adalah remake dari film berjudul serupa yang rilis pada 1978. Meski dijuluki sebagai salah satu film terburuk yang pernah dibuat, nyatanya versi barunya cukup sukses dari segi materi. Namun kritikus tetap menilai film ini buruk seperti versi originalnya. Kisahnya mengenai pembalasan dendam atas kasus perkosaan. Seorang penulis yang sengaja menyepi untuk menulis buku barunya ternyata diperkosa oleh beberapa pria secara bergiliran. Ketika ia mencari pertolongan kepada polisi, ia kembali diperkosa. Ia berhasil kabur dan berusaha membalas dendam pada para pelaku.

Meski film ini mungkin dianggap menarik bagi penonton karena karakter korban yang awalnya lemah berubah menjadi kuat dan melawan, tetapi ada kekhawatiran yang muncul. Bisa saja penonton menyalahartikan adegan perkosaan itu sebagai suatu “hiburan” dan justru menyukainya. Tentunya film ini juga menawarkan kebrutalan ketika korban meneror para pelaku satu persatu hingga balik memerkosa salah satunya. Tentu saja kekerasan seksual tidak dapat dibenarkan walaupun si korban hanya berusaha membalas pelakunya.

Wrong Turn

Wrong Turn (USA, 2003 – 2014)

Ini adalah tipikal film yang tak hanya menawarkan kebrutalan tapi membuat para penontonnya tidak sanggup makan. Kisahnya tentang sekelompok anak muda yang diincar oleh tiga mutan kanibal. Sebenarnya makeup prostetiknya buruk tapi bagian gore-slashernya lah yang sulit untuk dihadapi. Ada adegan ketika korban yang masih hidup diambil dagingnya dan dimasak. Bisa ditebak para korban pun terpencar dan berusaha melawan balik agar selamat. Dibanding disebut mengerikan, film ini lebih cocok masuk kategori yang membuat jijik. Film ini sendiri seringkali diputar di ruang kelas sebagai bagian dari praktik kuliah psikologi komunikasi.

Cabin Fever (USA, 2002)

Film ini berkisah tentang virus yang menyebar di sebuah kabin. Namun virus dalam film ini berkaitan dengan hal supranatural, bukan penyakit biasa. Awalnya virus itu menyerang seekor anjing lalu merambat kepada pemiliknya. Ketika si pemilik ini meminta tolong para orang-orang yang menginap di sebuah kabin, dia dibiarkan. Namun ternyata virus itu mampu merayap ke orang-orang di dalam kabin. Virus itu menyebar semakin luas karena terjatuh ke dalam sungai sehingga mencemari air.

Meski dianggap film yang buruk oleh para kritikus, film gore-slasher semacam ini tetap memiliki tempat di hati penggemar dan meraih kesuksesan secara materi. Seperti umumnya pakem film slasher, ada banyak adegan yang brutal sekaligus sex scene. Ada beberapa ide bagus dalam film ini meski hal itu juga diikuti beberapa eksekusi adegan yang buruk.

7 days

7 Days (Canada, 2010)

Penulis skenarionya mengadaptasi film ini dari novelnya sendiri berjudul Les sept jours du talion. Kisahnya tentang seorang ahli bedah yang hancur ketika putrinya diperkosa dan dibunuh. Ia lalu berencana membunuh pelakunya dalam waktu tujuh hari juga menginformasikan kepada polisi bahwa akan menyerahkan diri. Hal ini membuatnya menjadi incaran polisi yang juga pernah merasakan di sisi sebagai keluarga korban pembunuhan. Pada masa tujuh hari inilah si pelaku pembunuhan dan perkosaan menghadapi siksaan yang brutal dari si ahli bedah. Ia juga memaksa pelaku mengakui perbuatan terhadap korbannya yang lain. Jangan berharap film ini akan menggambarkan kebrutalan dengan intens. Si ahli bedah digambarkan sangat manusiawi, kadang ia harus berdiam diri setelah menyiksa si pelaku. Tetap saja adegan brutalnya cukup mengguncang dan bikin perut penonton mulas.

Bedevilled (Korea, 2010)

Seperti pada umumnya film Korea, meski ada banyak darah tapi juga ada sisi emosional yang bisa kita rasakan. Plotnya kuat dan ada kisah yang sangat dalam. Tak heran film ini meraih banyak penghargaan. Pada awalnya kita tidak sadar siapa pemain kunci utamanya. Kisahnya tentang seorang perempuan kota yang tak mau peduli dengan urusan orang lain. Ketika ia pergi ke sebuah pulau dan bertemu temannya dari masa kecil, ia tutup mata. Padahal temannya telah menjadi korban kekerasan. Suaminya berselingkuh, ia dilecehkan oleh sang ipar, dan disalahkan oleh anggota keluarga yang lain. Suatu hari ia pun membalas dendam dan membantai warga desanya.

The Evil Dead

The Evil Dead (USA, 1981 & 2013)

Kisahnya adalah beberapa pasangan yang menginap di sebuah kabin di tempat terpencil. Film ini berkisah tentang kekuatan supranatural yang menggangu mereka ketika berada di kabin. Namun beberapa kritikus menyayangkan buruknya gambaran yang didapat para tokoh perempuan. Para perempuan diperkosa, dipotong, ditikam, dipukul, dibakar, dan tak ada yang selamat. Sementara itu para penggemar film horor gore-slasher mengaku puas dengan adegan berdarah-darah di sepanjang film, begitu pula wajah orang-orang yang kesurupan. Film ini meninggalkan kesan yang dalam. Remake-nya muncul pada 2013.

The Green Inferno (USA, 2013)

Film ini terinspirasi pada tren film kanibal di era 70-an dan 80-an. Kisahnya tentang beberapa anak muda aktivis yang pergi ke hutan Amazon. Namun mereka justru menjadi santapan hidup-hidup dari suku kanibal. Dapat dibayangkan bagimana berdarah-darahnya adegan sepanjang film. Ada adegan yang sangat disturbing seperti pemotongan bagian genital hingga mereka yang disuruh memakan daging temannya sendiri. Salah satu kritikan terbesar mengenai film ini adalah gambaran tidak adil terhadap suku pedalaman. Hal ini hanya menyuburkan padangan kolonialisme karena kulit putih dianggap superior dan memiliki hidup waras sementara suku pedalaman dianggap aneh.

Antichrist (Denmark, 2009)

Film ini disebut sebagai film horor eksperimental yang bersetting di sebuah kabin. Kisah berpusat pada pasangan suami istri yang tengah mencoba memperbaiki hubungan sekaligus kesedihan karena kehilangan anak. Si anak meninggal dari jendela ketika orangtuanya sibuk bercinta. Istrinya yang berduka lalu menjadi tak waras dan melakukan perilaku sadis seperti melubangi kaki atau memutilasi bagian genital. Namun sang istri tak hanya melakukan kekerasan pada suaminya tetapi juga pada dirinya sendiri. Meski ada banyak adegan sex, namun penonton rasanya akan sulit menikmatinya. Nampaknya meski kontroversial film ini dapat diterima dengan baik karena kritikus memberikan penilaian positif.

Click to comment

Leave a Comment

Zara Larsson Zara Larsson

Track of The Week: Celine Dion, Indila, Zara Larsson

Cultura Lists

crazy love review crazy love review

Crazy Romance Review: Sajian Romansa Komedi Yang Menghibur

Film

suspiria suspiria

Rekomendasi Film Horror Bertema Sekte

Cultura Lists

ratu ilmu hitam review ratu ilmu hitam review

Ratu Ilmu Hitam Review

Film

Connect