Connect with us

Film

Spell Review: Kota Kecil dengan Praktek Voodoo yang Seharusnya Meneror

Black horror yang terasa amatir dengan naskah yang tidak rapi.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Black horror merupakan salah satu genre film yang kembali dieksplorasi banyak filmmaker Hollywood. Kaum kulit hitam dengan akar nenek moyang dari Afrika memiliki banyak mitos dan legenda yang menarik untuk diangkat menjadi film horror. Kurang lebih sama halnya budaya Asia dengan kisah supranaturalnya yang otentik dan telah diadaptasi ke berbagai film.

“Spell” merupakan sebuah film horor yang disutradarai oleh Mark Tonderai, naskah ditulis oleh Kurt Wimmer. Kali ini kita akan disuguhi materi horror tentang praktik ilmu hitam, voodoo dengan ekspekatasi akan teror, cukup serupa dengan teror ala film-film sekte yang sedang populer.

“Spell” bercerita tentang Marquis, seorang pengacara kulit hitam yang hidup makmur di kota bersama istri dan kedua anaknya yang sudah remaja. Ketika mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal, Marq harus pergi ke sebuah pedesaan di Appalachia yang jauh dari peradaban. Ketika sebuah kecelakaan terjadi, Marq tiba-tiba bangun dan menemukan dirinya di sebuah rumah miliki wanita bernama Eiloise yang menyimpan misteri mengerikan.

Diawali dengan Keputusan Tak Logis, Dilanjutkan dengan Berbagai Usaha yang Gagal

Kebanyakan film horror diawali dengan sebuah pelanggaran atau keputusan yang salah. Marq sebagai protagonis dan kepala keluarga jelas melakukan kesalahan besar sejak awal kisah dimulai; pergi ke Appalachia dengan mengemudi pesawat pribadi ketika cuaca sedang buruk. Entah mengendarai pesawat pribadi merupakan hal yang wajar di Amerika, adegan tersebut terlihat sangat konyol pada babak pertama film ini. Selanjutnya, akan semakin banyak keputusan dan usaha yang tidak dipikirkan dengan matang oleh protagonis.

Dalam menulis naskah film horor, menyakinkan penonton dengan rentetan adegan yang logis merupakan perjuangan terbesar; bagaimana membuat penonton yakin dengan sesuatu yang jelas fiksi dan bersifat supranatural. Jangankan aspek tersebut, prinsip logika yang mendasar saja tidak diterapkan dengan benar dalam “Spell”.

Terbang menggunakan pesawat pribadi sekalipun pasti ada izin dan pusat pemantaunya, kemudian smartphone yang secara ajaib tetap menyala setelah 5 hari, belum lagi usaha kabur Marq yang asal lari (dan gagal terus) tanpa memikirkan posisinya yang berada di pedesaan bebahaya, bermil-mil jauhnya dari peradaban.

Spell

Produksi dan Cast yang Terasa Amatir

Untuk membuat film horor yang ikonik dan berkesan, produksi merupakan aspek yang harus diperhatikan. Mulai dari pemilihan soundtrack, musik latar, hingga teknik pergerakan kamera yang digunakan alias sinematografi. “Spell” merupakan film yang secara visual sangat tidaknya nyaman, didominasi dengan warna kecokelatan yang panas dengan cara paling tidak artistik.

Memang bukan film horor yang mengandalkan jumpscare sejak awal, namun sinematografi yang diusung termasuk standard. Dengan beberapa footage dalam hitam putih yang dari masa lalu Marq yang sampai akhir film kurang jelas esensinya.

Penampilan akting para aktornya juga standard, bahkan penyampaian beberapa dialog terasa cringe. Terutama ketika anak-anak Marq tampaknya ingin ditapilkan sebagai tipikal remaja kota yang sombong dan suka bicara sembarangan. Penokohan setiap karakter dalam keluarga Marq, termasuk Marq terasa bland dan tidak menarik. Ada bagian dalam prolog dan kenangan flashback yang membentuk karalter Marq, namun pada akhirnya tidak berhasil memberikan apapun pesan yang dimaksud oleh penulisnya.

Black Horror dengan Kisah Voodoo yang Seharusnya Bisa Meneror dengan Benar

Premis tentang sebuah desa terpencil dengan praktik voodoo yang disturbing dan sedikit gore sebetulnya sudah cukup menarik, terutama sebagai film black horror. Ketiga karakter antagonis, Eilois, Earl, dan Sheriff juga cukup kuat sebagai subjek horor dalam “Spell”.

Pada dasarnya konsepnya cukup mirip dengan film seperti “Perempuan Tanah Jahanam” dan “Midsommar”. Namun, kesalahan dari penulis adalah kurang mengeksplorasi materi praktek voodoo dengan pendekatan yang lebih detail dan meyakinkan. Penulis lebih fokus pada plot bagaimana Marq berhasil kabur dan menyelamatkan keluarganya, kita tidak diberi kesempatan untuk memahami teror dari voodoo secara perlahan melalui protagonisnya.

Pada akhirnya, “Spell” merupakan eksekusi dari ide atau premis yang cukup menarik, namun tak berhasil “menyihir” penonton untuk mengalami kengerian yang pastinya menjadi goal dari film bergenre horror.

Click to comment

Love and Monsters Review Love and Monsters Review

Love and Monsters Review: Petualangan Joel Melawan Monster Demi Cinta

Film

Two Distant Strangers Two Distant Strangers

Two Distant Strangers Review

Film

Thunder Force Thunder Force

Thunder Force Review: Film Superhero dengan Cita Rasa Parodi

Film

Happy Old Year Happy Old Year

Happy Old Year: Tentang Minimalisme dan Kenangan yang Terbuang

Film

Advertisement
Cultura Live Session
Connect