Connect with us
Soul
Disney/Pixar

Film

Soul Review: Perjalanan Spiritual Mencari Arti Kehidupan

Terlalu imajinatif untuk orang dewasa, terlalu serius untuk anak-anak.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Soul” merupakan film animasi Disney Pixar terbaru yang telah rilis di Disney+ pada 25 Desember 2020 lalu. Telah melalui proses produksi sejak tahun 2016, Pete Docter sebagai penulis naskah hendak mengeksplorasi asal mula kepribadian kita sebagai manusia; Apa yang membuat dirimu ‘kamu’? Begitu tagline dari “Soul”.

Bersama dengan Mike Jones dan Kemp Powers, Pete mengembangan konsep kehidupan yang hendak dieksplorasi dalam film ini. Herbie Hancock dan Terri Lyne Carrington sebagai musisi jazz juga membantu Pete serta tim untuk memberikan ‘passion’ yang esensial dalam kisah ini.

Jazz selalu menjadi hasrat Joe Gardner, tampil di panggung sebagai pianis jazz selalu menjadi mimpi terbesarnya. Bahkan ketika Ia mendapat posisi tetap sebagai guru musik di sebuah sekolahan, Joe lebih memilih kesempatan untuk tampil bersama Dorothea Williams, pemain saxophone jazz ternama. Ketika Joe merasa hari baik akhirnya datang dalam kehidupannya, Ia mengalami kecelakaan yang membuatnya masuk dalam alam dari mana jiwa-jiwa manusia berasal.

Disney/Pixar

Membawa Kita Menuju Perjalanan Spiritual Memahami Makna Kehidupan

Pada awalnya, kita akan memiliki ekspektasi kisah bagaimana terbentuknya jiwa, karakter, hasrat, pada manusia. Seperti halnya dalam film animasi Pete Docter sebelumnya. “Inside Out” yang menjelaskan cara kerja emosi dan perasaan manusia dengan karakter-karakter fantasi lucu. Namun, “Soul” memiliki cerita dengan makna yang lebih dalam, lebih dari sekedar terbentuknya karakter, namun sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan makna kehidupan.

Sebagai film animasi anak-anak, plot yang dihadirkan tetap linear dengan permulaan dan objektif yang jelas. Mulai dari Joe dengan penokohannya yang jelas, bahwa Ia mencintai musik jazz, kemudian muncul masalah, dengan objektif Joe yang berusaha untuk kembali kehidupannya. Kemudian ada 22, jiwa yang tidak memiliki hasrat untuk hidup dan menemani perjalanan Joe yang mulai memberikan pengalaman baru bagi 22.

Dua karakter ini memberikan representasi yang kontras; jiwa dengan hasrat dan mimpi besar untuk hidup dan jiwa yang tak ingin memiliki kehidupan. Ada ketakutan, kegelisahan, dan pertanyaan akan tujuan hidup terpapar dalam kisah yang diangkat film ini. Hingga akhirnya memberikan jawaban sederhana yang mungkin selama ini telah kita lupakan; apa yang membuat kita merasa hidup.

Disney/Pixar

Lebih Relevan untuk Penonton 20 Tahun Keatas Ketimbang Anak-anak

Buat kita yang sudah 20 tahun ke atas dan sudah merasakan asam manis kehidupan, pasti lebih mudah merasa relevan dengan Joe sebagai karakter utama. Mulai dari usaha memegang erat hasrat atau apa yang menjadi passion kita, dengan segala idealismenya, hingga perdebatan dengan orang tua yang lebih realistis dalam memberi saran.

Begitu pula makna akan hasrat dan tujuan hidup yang nantinya akan kita temukan melalui film ini, “Soul” akan membuat kita menghela nafas dan mendapatkan pencerahan baru tentang kehidupan. Namun, anak-anak mungkin akan garuk-garuk kepala dan mempertanyakan jawaban konkrit dari film ini.

Penulis seakan lupa bahwa segmentasi Disney Pixar adalah anak-anak yang bisa jadi masih dibawa belasan tahun. Meski banyak juga penggemar dari kalangan 20 tahun ke atas. Disney sepertinya telah menyadari hal tersebut dengan membuat “Frozen 2” yang menggaet Weezer dan Panic! At The Disco untuk Original Soundtrack.

Kali ini, “Soul” memilih musik jazz sebagai tema utama; berapa banyak anak yang tertarik akan musik jazz sejak usia dini? Ada, namun bukan mayoritas. Problematika yang dialami oleh Joe juga pastinya belum dialami oleh anak-anak dengan cita-cita naif mereka. Membuat film ini mungkin akan kurang meninggalkan kesan pada penonton usia dini, tak lebih dari sekedar animasi dengan visual yang indah saja.

Bukan Animasi dengan Karakter dan Adegan Lucu Ikonik ala Pixar

Secara visual, “Soul” memiliki gaya desain animasi yang cukup serupa dengan “Inside Out”, namun lebih minimalis. Memasuki “alam baka” dalam film ini, tidak banyak warna yang akan kita lihat. Ada frame dimana hanya menampilkan void hitam dengan garis putih, dipadukan dengan scoring mendengung yang minimalis. Ada juga desain lokasi jiwa yang didominasi dengan warna biru, putih, dan sedikit hijau. Tidak banyak permainan warna mencolok seperti yang biasa kita lihat pada film-film animasi Pixar sebelumnya.

Karakter desain yang dihadirkan juga tidak terlalu ikonik seperti sederet karakter dalam “Inside Out”, “Zootopia”, “Toy Story”, dan judul-judul populer dari Disney dan Pixar lainnya. Kita bisa membayangkan Joe dalam bentuk jiwa putih yang minimalis atau 22 sebagai karakter ikonik yang menjadi favorit anak-anak seperti Buzz Lightyear atau Elsa.

Film animasi Disney dan Pixar selalu memiliki banyak adegan lucu yang menjadi cuplikan membekas pada penontonnya. Namun “Soul” mungkin sama sekali tidak memiliki adegan humor ikonik yang akan kita lihat cuplikannya di YouTube. Lebih banyak adegan-adegan monumental maupun sederhana dalam kehidupan yang akhirnya membentuk kesimpulan akan makna kehidupan pada akhir film.

“Soul” merupakan sajian terbaru dari Pixar yang meninggalkan banyak ciri khas dari semua animasi yang diproduksi oleh studio ini. Termasuk film yang bagus dan inspiratif, namun perlu dipertanyakan segmentasinya mengingat citra Pixar sebagai studio animasi anak-anak. Kita sudah menonton “Soul” di Disney+ Hostar.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect