Connect with us
Slowdive: Slowdive Album Review

Music

Slowdive: Slowdive Album Review

Slowdive telah mempelajari bagaimana suara tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Slowdive menggunakan nama band mereka sendiri di album rilisannya pada 2017. Slowdive seperti ingin menunjukan bahwa rilisan ini semakin masuk jauh ke dalam karir mereka sendiri. Mungkin Slowdive mengharapkan hasil yang terasa lebih sederhana.

Sejak awal terbentuk, Slowdive bisa membuat apa saja dengan semua yang telah dicoba. Mulai menulis lagu balada, ambient techno dan mengubah instrumentasi band rock menjadi seperti mesin jet stream. Tapi di album “Slowdive”, lagu-lagunya begitu mencolok melalui pembacaan lirik maupun suara gitar yang lebih terdengar.

Dibuka dengan lagu berjudul ‘Slomo’ yang seolah mengambil sebuah impian. Sudah terdengar dari lirik pertama “Give me your love/ it’s a curious love/ Give me your heart/ it’s a curious thing”. Kemudian masuk ke single utama ‘Star Roving’ yang tidak terdengar rumit.

Justru lebih terasa seperti generasi band indie saat ini. Single luar biasa dari ‘Star Roving’ adalah contoh sempurna dari album “Slowdive”. Suara gitar yang rimbun namun memiliki lapisan indah dan juga suara Neil Halstead terasa lebih dalam. Suara Halstead terdengar seperti remaja yang berkontribusi kepada nuansa-nuansa halus. Suaranya memberikan sesuatu yang benar-benar baru pada lagu. ‘Star Roving’ adalah kembalinya Slowdive kepada yang diinginkan para pendengarnya. Menciptakan momen kelegaan yang nyata.

Sementara terasa tegang saat mulai masuk lagu ‘Don’t Know Why’. Dimulai dengan suara ketukan drum dan kemudian gema musik yang mengiringi lirik. Namun lagu ini perlahan memasuki keputusasaan “I don’t remember much about it all/ just saw your loving someone else”.

Kemudian ‘Sugar For the Pill’ menemukan band ini berurusan dengan suatu perangkap “There’s a buzzard of gulls/They’re drumming in the wind”. Lagu ini layaknya sedang merinci pengalaman mengerikan dari perasaan yang diliputi kecemburuan dan pelarian melalui kegelapan mirip ‘Don’t Know Why’.

Sampai pada klimaks lagu yang lembut inilah mereka memberikan penjelasan “You know I had the strangest dream”. Struktur naratif itu akan membuat malam hari sering kali terasa meresahkan. Tetapi band ini menggunakan transisi sebagai deja vu yang menyenangkan.

Begitu pun dengan ‘No Longer Making Time’ dan ‘Go Get It’ menunjukan bahwa Slowdive mencurahkan semua energinya. Sementara ‘Falling Ashes’ adalah lagu penutup merupakan kontemplatif yang indah. Album “Slowdive” memiliki niat mendorong batas antara musik rock dan elektronik.

Dengan mudah bisa dijadikan kesederhanaan di permukaan yang menyoroti betapa eksperimentalnya band ini dalam membuat lagu-lagunya. Mendengarkannya terasa seperti perjalanan dalam tidur. Menghubungkan fragmentasi emosi dan adegan yang hancur. Dengan progresi serta gema suara yang tebal.

Kualitas itu bergema di seluruh material album “Slowdive”. Itulah mengapa Slowdive memiliki lagu rock kosmik seperti ‘Slomo’. Atau lagu dengan suara piano minimalis seperti ‘Falling Ashes’. Sekarang, kenangan jauh Slowdive tentang rekaman rock-nya sudah lama terlupakan.

Simpelnya, banyak hal berubah seiring berjalannya waktu. Termasuk selera juga bisa berubah. Album “Slowdive” memperlihatkan bahwa band ini masih penuh dengan ide. Membantu bahwa shoegaze layak mendapatkan penilaiannya sendiri.

Slowdive telah mempelajari bagaimana suara tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Jadi, alih-alih mengandalkan apa yang mereka ketahui sebagai shoegaze, yaitu sebuah genre yang berakar kuat pada waktu dan tempat. Slowdive menerapkan suara baru ini ke perangkatnya melalui keahlian mereka.

Terlepas dari itu, Slowdive adalah bukti bahwa musik tidak perlu bergantung kepada sebuah warisan. Sebab mereka telah menyesuaikan lagu-lagunya untuk generasi baru tanpa kehilangan apa yang membuat Slowdive bisa dikenal. Memang sulit dan harus berjalan dengan susah payah. Tetapi Slowdive cekatan melakukannya dan kembali dengan album yang tidak mengecewakan.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect