Connect with us
Senigma
Shoplifters review indonesia

Film

Shoplifters: Ketika Mencuri adalah Satu-satunya Cara Menciptakan Keluarga

Sutradara sekaligus penulis naskah Hirokazu Kore-eda telah membuat kita terpana dengan cerita yang ia ciptakan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Suatu malam, Osamu dan Shota pulang dari mengutil di supermarket. Itu adalah rutinitas mereka, salah satu cara bertahan hidup sekaligus merekatkan hubungan antara seorang ayah dengan anaknya. Mereka menemukan seorang gadis kecil bertubuh kurus kering di balkon rumah yang dilewati ketika berjalan pulang. Singkat cerita, mereka membawanya ke rumah. Sebuah rumah kumuh yang lebih mirip gudang dan tempat hidup enam orang berdesakan. Keluarga itu, tanpa banyak tanya memberi si gadis kecil kasih sayang. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan dalam hidupnya kecuali bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya.

Bisa dibilang kita tidak akan banyak mendengarkan musik latar di sepanjang film. Shoplifters (2018) terasa hening. Kadang hanya diisi dengan suara kereta lewat. Kalaupun ada musik latar, rentang waktunya sebentar saja. Shoplifters lebih dipenuhi dengan dialog maupun kebisuan dari para aktor dan aktrisnya. Meski mereka cenderung memiliki ekspresi yang datar, kita secara pasti dan yakin dapat merasakan emosi dari kedalaman mata mereka. Salah satu tokoh paling ekspresif di sini adalah Osamu. Ketika ia menghibur Shota dan Lin, ia tampak sangat sayang pada keduanya. Padahal mereka bukanlah anak kandungnya. Begitu pula dengan Nobuya. Tak ada pertanyaan mengapa Osamu mengangkat dua orang anak meski mereka kesulitan mencari makan. Nobuya hanya melakunkan perannya secara natural sebagai seorang ibu. Cintanya muncul begitu saja begitu Shota dan Lin datang ke dalam hidupnya.

shoplifters

Sutradara sekaligus penulis naskah Hirokazu Kore-eda telah membuat kita terpana dengan cerita yang ia ciptakan. Kita bahkan tidak mampu menghakimi perilaku Osamu yang gemar mengutil maupun mencuri. Kita juga tidak menyalahkan Osamu yang jelas-jelas menculik dua orang anak dan menjadikan mereka anaknya sendiri. Kore-eda telah mengacak-acak persepsi kita tentang keluarga dan kriminalitas. Kita sampai pada titik di mana justru mensyukuri dan berterima kasih karena Osamu menculik Shota dan Lin. Bila tidak, entah bagaimana hidup mereka selanjutnya. Osamu dan Nobuya sangat tulus mencintai kedua anak itu—yang membuat kita bertanya-tanya atas segala perbuatan kriminal yang mereka lakukan, bisakah mereka dimasukkan saja ke surga. Osamu dan Nobuya bahkan jauh lebih baik dan manusiawi seribu kali lipat dibanding orangtua kandung Lin, atau kebanyakan orangtua lain di dunia nyata.

Heart warming social realism. Sometimes water can be thicker than blood.

Meski kemudian kita tentu mulai mempertanyakan kenapa Osamu mengajari anak kecil mencuri. Ia menanamkan prinsip bahwa selama toko itu tidak bangkrut maka tidak apalah kita ambil sedikit. Lama-lama Shota pun goyah dan mulai berpikir apakah prinsip yang ia pegang teguh bersama ayahnya adalah hal benar. Kita pun mempertanyakan kenapa Nobuya begitu berat hati kepada kedua anak angkatnya. Ando Sakura lebih dari berhasil dalam memerankan Nobuya. Bagaimana pula keluarga ini terbentuk karena silsilahnya tidak jelas. Lalu kita mulai heran dengan sikap nenek yang menganggap normal profesi yang dijalani Aki. Selain karena profesi Aki tidak ada di Indonesia, kita pun akan bingung menyebut bentuk bisnisnya. Apa ia pekerja seks? Tapi ia tidak melakukan seks. Namun ia menjajakan tubuhnya.

Kore-eda telah membuat film ini sangat indah. Kita diajak menyelami kehidupan manusia yang begitu rumit dan abu-abu. Tidak ada yang benar-benar salah atau sepenuhnya benar. Rasanya kita tak mampu menghakimi perbuatan kriminal yang dilakukan Osamu demi keluarganya ketika melihat limpahan cinta yang ia berikan pada mereka. Walau hidup bersama dan saling mencintai pun kita bisa melihat ada interaksi yang aneh dan sulit dijelaskan di dalam rumah itu.

Shoplifters terasa suram sekaligus menyayat hati dengan caranya sendiri. Ia benar-benar sebuah tamparan bagi realita. Wajar saja bila film ini mendapatkan penghargaan Palme d’Or. Apalagi dengan ending yang sangat menyiksa pikiran dan membuat penonton kalut. Kore-eda membiarkan kita merasa frustasi selayaknya menjalani hidup—kadang tidak berjalan sesuai rencana dan tetap gagal pada akhirnya. Beberapa dialognya akan terus membuat kita terjaga di tengah malam. Seperti kata Nobuya, “Giving birth automatically makes you a mother?”

Script: 9/10
Cinematography: 8/10
Scoring: 8/10
Acting: 8/10
Setting: 8/10

Click to comment

Leave a Comment

Failin in Love Review Failin in Love Review

Failin in Love Review

TV

crazy love review crazy love review

Crazy Romance Review: Sajian Romansa Komedi Yang Menghibur

Film

Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix

The End of the F***ing World Season 2 Review

TV

suspiria suspiria

Rekomendasi Film Horror Bertema Sekte

Cultura Lists

Connect