Connect with us
shadow movie review 2018

Film

Shadow Review: Kembalinya Sutradara Zhang Yimou Dengan Film Artistik dan Dramatik

Film ini menjadi salah satu karya seni masterpiece berpengaruh yang bisa dinikmati oleh para penggemar film terutama genre Wuxia.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Banyak yang mengenal sutradara fenomenal asal Cina Zhang Yimou lewat kesuksesan film ‘Hero’ yang keluar pada tahun 2002. Namun dalam beberapa tahun belakangan sepertinya nama Zhang Yimou selalu dikaitkan pada salah satu film Cina terburuk di tahun 2016 yaitu “The Great Wall”. Bagaimana tidak? Film ambisius yang pada masa produksinya menghabiskan budget terbesar dalam sejarah Cina itu jauh dari kesuksesan bahkan meraih kerugian hingga lebih dari 75 juta dollar. Tahun 2018 Zhang Yimou sepertinya kembali pada peforma terbaiknya lewat film Wuxia indah berjudul Shadow. Wuxia (martial heroes) adalah sebuah genre film asal Cina yang berfokus pada cerita petualangan ahli bela diri di zaman Cina kuno. Dengan cerita kompleks serta visual yang begitu artistik, Shadow mendapat berbagai pujian kritis dan menjadi bukti dari kemampuan penyutradaraan Zhang Yimou.

Salah satu hal yang paling menonjol ketika pertama kali melihat adegan di film ini adalah penggunaan warna monochrome. Visual hitam putih serta berbagai tingkatan warna abu-abu secara sekejap menarik perhatian dan rasa penasaran penonton. Tidak murni hanya bewarna hitam putih ada dua warna lain di film ini yaitu warna kulit manusia dan warna merah darah. Pemilihan warna monochrome sepertinya sangat kontras jika dibandingkan pada karya Zhang Yimou sebelumnya karena biasanya beliau lebih sering menggunakan warna yang terang, menyolok atau vivid. Terinspirasi pada kaligrafi Cina yang berwarna hitam putih, keputusan Zhang Yimou untuk menggunakan warna monochrome terbukti efektif dalam membangun atmosfer cerita di film ini. Warna monochrome juga mendukung filosofi tionghoa ‘Yin dan Yang’ yang menjadi dasar dari cerita di film ini.

shadow 2018 movie review

Shadow (2018) dengan judul asli “Yang” bercerita tentang usaha kerajaan Pei dalam perebutan kota Jing yang direbut oleh kerajaan Nan. Perebutan kekuasaan ini menciptakan berbagai polemik yang membangun drama serta tensi di film ini. Shadow sendiri sebetulnya mengambil materi yang sudah tidak asing lagi yaitu berdasarkan sejarah klasik Cina ‘Three Kingdoms’. Cerita yang ditawarkan sebetulnya cukup kompleks apalagi bagi para penonton yang tidak terbiasa menonton film Wuxia. Cerita berfokus pada karakter protagonist bernama Jing yang bertugas sebagai bayangan komandan Ziyu dan terjebak pada sebuah skema politik besar sambil menghadapi krisis identitas sebagai seorang Shadow. Sebagai seorang Shadow, Jing bertugas sebagai sebuah boneka yang muncul di publik dengan menggunakan identitas dari komandan Ziyu. Sebagai upaya menipu para kompetitornya keberadaan Jing menjadi krusial bagi komandan Ziyu bahkan berhasil menciptakan sebuah tensi yang begitu luar biasa.

Penggambaran karakter wanita atau feminisme di film ini juga terbilang sangat realistis mengingat pada masa kerajaan Cina kuno keberadaan perempuan hanya sebagai pelengkap atau bisa dibilang sebagai sebuah ‘alat politik’. Karakter perempuan seperti Xiao Ai istri dari komandan Ziyu serta Qing Ping adik perempuan dari raja Yang Ping tidak memiliki kekuatan dan harus terpaksa mengikuti takdir serta mengorbankan dirinya untuk memenuhi ambisi para pria di sekitarnya. Tabrakan antara feminisme serta maskulinitas juga menjadi salah satu topik utama yang dibahas di film ini. Bahkan feminisme menjadi senjata utama serta kunci untuk mengalahkan atau mengimbangi kekuatan oposisi yang terfokus pada maskulinitas. Diangkatnya topik feminism serta maskulinitas tidak terkesan dipaksakan dan cocok dengan cerita serta pesan yang ingin diberikan.

Topik feminisme dan maskulinitas sebetulnya merupakan sebuah bagian dari filosofi ‘Yin dan Yang’ yang diangkat di film ini. Konsep dualisme yang secara kasat mata menjadi sebuah kontras sebetulnya saling menyempurnakan, menghubungkan serta mendukung satu sama lain. Hal ini begitu terasa jika melihat dinamika antara karakter Jing serta komandan Ziyu. Keduanya merupakan sebuah kesatuan yang bergantung satu sama lain tetapi disisi lain keduanya bertentangan dan menjadi ancaman satu sama lain. Bahkan pada akhir film keduanya mengalami pertukaran posisi yang menyempurnakan siklus dari Yin dan Yang. Jika mengamati film ini secara lebih mendalam, tidak ada karakter yang benar-benar baik maupun jahat. Hal ini terhubung langsung pada filosofi Yin dan Yang, tidak ada yang baik atau salah karena setiap sisi memiliki potensi untuk berubah ke sisi yang lain. Hal utama yang dicari adalah sebuah harmoni serta keseimbangan dari kedua belah pihak.

shadow 2018 movie review

Shadow (2018)

Divisi artistik serta cinematographer di film ini juga patut diberi apresiasi karena berhasil mewujudkan visi dunia hitam putih milik sutradara. Adegan di film ini diambil secara tepat dan disusun dengan artistik sehingga menghasilkan visual luar biasa pada setiap framenya. Penonton bahkan mendapat impresi seperti sedang menonton sebuah lukisan yang bergerak. Dilengkapi dengan koreografi yang begitu indah, tidak heran banyak sekali momen ikonik dan tidak terlupakan di film ini. Salah satunya adalah adegan pertarungan yang menggunakan payung sebagai senjata utama. Penggunaan payung sebagai senjata sepertinya menjadi identitas ikonik yang akan terus diangkat ketika film ini dibahas. Dinamika luar biasa antara setiap divisi produksi bahkan menghasilkan salah satu adegan paling ikonik dimana para pasukan menyerbu kota Jing sambil berputar dan meluncur di diatas dua payung besi yang disatukan membentuk sebuah bola.

Peforma akting aktor asal cina Deng Chao bisa dibilang sangat memukau karena berhasil memerankan dua karakter yang begitu kontras. Deng Chao berkesempatan memerankan karakter komandan Ziyu serta bayangannya karakter Jing. Kedua karakter dibawakan dengan sangat baik bahkan ada beberapa momen dimana penonton sepertinya tidak sadar atau lupa bahwa kedua karakter diperankan oleh satu aktor yang sama. Lewat perannya dalam memainkan karakter Jing penonton dapat merasakan dilema serta krisis identitas yang dihadapi. Sedangkan lewat karakter Ziyu penonton dibuat merasakan ambisi serta rasa haus luar biasa akan kekuasaan. Tidak hanya Deng Chao, aktris cantik Li Sun juga berhasil menggambarkan dilema karakter Xiao Ai yang mulai jatuh cinta pada Jing. Dari peforma akting Li Sun, penonton dapat merasakan kompleksitas serta kesulitan perempuan yang hanya menjadi sebuah pion pada zaman tersebut. Tidak hanya kedua aktor/aktris diatas setiap akting dari aktor dan artis di film ini terasa pas sehingga menghasilkan dunia yang tidak fiktif tapi terasa nyata.

Shadow (2018) terbukti menjadi titik balik sutradara Zhang Yimou terhadap kegagalannya menyutradarai film The Great Wall di tahun 2016. Lewat film Shadow penonton tidak hanya diperlihatkan visual yang luar biasa tetapi lengkap dengan drama kompleks yang kental dengan penggambaran filosofi Yin dan Yang. Dengan penyutradaraan yang fenomenal penonton dibuat merasakan berbagai emosi bahkan terus tertipu lewat ambiguitas benar dan salah yang dimainkan oleh Zhang Yimou. Tidak heran Shadow (2018) menjadi salah satu karya seni masterpiece berpengaruh yang bisa dinikmati baik oleh para penggemar film Wuxia maupun yang bukan.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement Cultura Lists
Connect