Connect with us
sexy killers review

Film

Sexy Killers: Sisi Kelam Industri Batu Bara

Topik yang seksi membuat film dokumenter “Sexy Killers” mendapat penonton yang banyak dalam waktu singkat.

Masa tenang menjelang Pilpres, sebuah film dokumenter berjudul Sexy Killers dirilis pada 13 April 2019. Sampai saat ini film-nya telah mendapatkan 6,6 juta views di YouTube. Sebenarnya Sexy Killers tidak hanya dapat ditonton melalui Youtube saja. Acara nobar gratis Sexy Killers dilakukan di berbagai daerah termasuk di kampus-kampus. Bisa dibilang angka 6,6 juta penonton di Youtube itu bukan angka sebenarnya. Jumlah penonton Sexy Killers lebih besar dari itu. Mengapa film dokumenter ini viral dan banyak dibicarakan di media sosial? Apalagi ada tudingan yang menganggap film ini “sengaja” dirilis menjelang Pilpres untuk alasan tertentu.

Sexy Killers, Sebuah Dokumenter

Sexy Killers adalah sebuah film dokumenter produksi Watchdoc. Nama rumah produksinya bisa jadi merujuk pada istilah watchdog karena inilah yang mereka lakukan: membuat dokumenter sebagai alat kritik. Pertama film ini bercerita tentang Kalimantan Timur. Masyarakat setempat sebagian adalah kelompok transmigran. Mereka meninggalkan kampungnya dan membangun hidup baru di tanah orang hanya untuk menyadari kenyataan bahwa mereka telah dipermainkan.

Pemerintah yang dahulu membuat mereka pindah ternyata memberi izin kepada perusahaan tambang. Air bersih sudah lama menjadi sejarah. Bisa saja mencari air ke tempat yang agak jauh. Tapi airnya pun keruh. Seorang petani yang menolak pembangunan tambang justru dikriminalisasi dan dipenjara tiga bulan lamanya. Bertolak ke masalah lain, ada banyak kolam bekas tambang. Sejak 2011 hingga 2018 sudah ada 32 jiwa yang hilang akibat kolam tambang. Terdapat kutipan pernyataan Gubernur Kalimantan Timur, ketika ditanya mengenai permasalahan yang muncul dari kolam tambang. Sebetulnya cuplikan wawancara dengan Pak Gubernur ini sudah ada di media sosial berbulan-bulan yang lalu. Pada debat capres pun topik ini sudah diangkat. Kedua kubu hanya memberikan jawaban diplomatis. Padahal diperkirakan ada 3500 lubang bekas tambang yang luasnya mencapai 8 juta hektar. Bukan angka yang kecil. Selain kolam tambang yang menjemput nyawa, warga sekitar juga dirugikan oleh rumah-rumah yang rusak. Jarak tambang yang terlalu dekat membuat tembok-tembok terbelah, pintu dan jendela tak bisa ditutup.

Kasus ini tak hanya terjadi di Kalimantan. Karimun Jawa, sebuah tempat wisata ternama, karang-karangnya rusak karena menjadi jalur kapal tongkang yang membawa batu bara ke PLTU. Ternyata PLTU itu dibangun di atas tanah milik petani. Jangankan uang pembebasan lahan, pagar langsung dibikin begitu saja tanpa peduli tanah itu milik siapa. Di Cirebon, PLTU membuat nelayan-nelayan kesulitan mendapat ikan. Hasil tangkapan menurun drastis. Di Bali, PLTU membuat pohon-pohon kelapa mati dan petani gigit jari. Uniknya, setiap tahun sejak 2013, 50 PLTU selalu dinyatakan lolos AMDAL. Padahal masyarakat kena bronkitis bahkan kanker. Warga meregang nyawa yang diduga akibat polusi udara.

Siapa yang harus bertanggung jawab? Jawabannya ada di film Sexy Killers. Orang-orang yang berada di balik perusahaan tambang maupun PLTU dikupas habis. Sexy Killers juga menjelaskan secara detail mengenai keterlibatan orang-orang tersebut dengan dunia politik kita. Berakibat banyak korban, membuat para petani dan nelayan kehilangan sumber pendapatannya. Mereka hanya diberi satu hal sebagai kenang-kenangan: wilayah yang tercemar. Ke mana rakyat harus mengadu? Bila bersuara, mereka dikriminalisasi. Seorang nelayan sampai menangis dengan nelangsa karena hingga akhir hayat sang istri memintanya untuk menolak pembangunan PLTU.

sexy killers (2019) review

Penonton Terbanyak

Sexy Killers adalah pemecah rekor. Dibanding dokumenter lain yang sama-sama digarap rumah produksi Watchdoc, inilah yang paling tinggi (juga cepat meningkat) jumlah penontonnya. Bandingkan dengan Sandelwood yang tak sampai 1000 penonton. Padahal cinematography-nya bagus sekali. Harus diakui bahwa topik yang seksi membuat Sexy Killers menyedot penonton sedemikian rupa. Mungkin kurang yang peduli dengan keindahan Indonesia atau kebudayaan di dalamnya. Tetapi bila ada sangkut pautnya dengan politik, orang menjadi bersemangat menonton.

Watchdoc patut diacungi jempol karena mau memproduksi film-film antimainstream. Filmnya pun tidak membosankan. Pada bagian timelapse di atas kapal, gambarnya terlihat cantik. Narasi yang dibagus juga bagus, tidak kurang ataupun berlebihan. Ada beberapa scene yang menarik selain timelapse misalnya ketika menyorot wajah seorang lansia dari atas tanah. Gambaran wajah lansia berkulit coklat dengan wajah keriput itu ternyata dapat terlihat begitu dramatis ketika dilihat dari bawah. Aerial juga terlihat menarik, intro yang dibangun pun cukup apik dengan sengaja menampilkan dua dunia yang berbeda. Gambaran pertama adalah dua insan manusia yang dimabuk cinta. Sementara gambaran kedua adalah bumi pertiwi kita saat sedang dikeruk isi perutnya. Hal lain yang patut diacungi jempol adalah data-data yang ditampilkan baik dalam bentuk angka maupun adanya infographic yang menjadi pemanis sehingga dokumenter ini tidak terasa monoton.

Energi Lain

Sudah saatnya bagi negara kita untuk memikirkan energi terbarukan lainnya sebagai cara memproduksi listrik. Kita tidak dapat terus bersandar pada kebutuhan terhadap batu bara. Dari segi produksi, batu bara disebut oleh Sexy Killers sebagai yang paling murah. Tetapi ada harga mahal yang harus dibayar. Yaitu kualitas hidup kita dan anak cucu. Ide yang dicetuskan salah seorang narasumber dalam Sexy Killers benar adanya. Jika saja pemerintah mau memberikan subsidi untuk panel tenaga surya, kita mungkin bisa mengurangi ketergantungan terhadap batu bara. Kita bisa saja memakai gelombang laut, angin, ataupun air terjun sebagai tenaga pembangkit listrik. Matahari pun masih bersinar terik. Kita tidak bisa membiarkan petani, nelayan, maupun orang-orang yang hidup di sekitar tambang dan PLTU merana karena memenuhi kebutuhan kita.

Sebagai langkah awal, kita dapat melakukan introspeksi. Mengubah kebiasaan. Menghemat listrik. Berpikir kritis terhadap sumber energi yang kita nikmati. Kita harus peduli. Kita harus membuka hati. Memang bukan saudara atau anak-anak kita yang mati di kolam tambang. Bukan pula saudara kita yang tak dapat menangkap ikan atau memanen kelapa. Namun suatu saat nanti, dampaknya akan kita rasakan juga.

Click to comment

Leave a Reply

Connect