Connect with us
sang penari review

Film

Sang Penari Review: Kisah Cinta Rasus dan Srintil yang Getir

Kisah cinta yang dibalut dengan nilai adat dan situasi politik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Sang Penari merupakan salah satu film Indonesia terbaik yang rilis pada 2011 silam. Disutradarai oleh Ifa Isfansyah, Ia berhasil membawa pulang piala Citra kategori Best Director. Begitu juga peran utama dalam film ini, Prisia Nasution memenangkan piala Best Leading Actress, serta Dewi Irawan sebagai Best Supporting Actress.

Dengan penulisan cerita dan keseluruhan produksinya yang mendekati predikat sempurna, Sang Penari juga memenangkan piala Citra untuk Best Film pada tahun tersebut. Film ini diangkat dari novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari pada tahun 1982.

Sang Penari pada dasarnya merupakan film bergenre drama romantis, tentang kisah cinta Srintil dan Rasus, penduduk Dukuh Paruk pada tahun 1960-an. Srintil selalu ingin menjadi penari ronggeng untuk menebus kesalahan keluarganya di masa lalu. Lepas dari niatan bakti pada penduduk Dukuh Paruk hingga bentuk pengabdian pada Eyang leluhur, menari sudah menjadi passion Srintil sejak kecil.

Namun, menjadi penari ronggeng tak hanya soal keahlian menghibur melalui tarian; penari ronggeng pada masa itu juga harus ahli dalam urusan memuaskan para pria melalui ritual ‘buka kelambu’. Hal ini ‘lah yang menjadi penghalang hubungan asmara antara Rasus dan Srintil yang akhirnya harus menempuh jalan hidup masing-masing.

ulasan sang penari

Sinematografi dan Produksi yang Menghidupkan Latar Tahun 1960-an

Satu lagi film modern berlatar tahun 60-an Indonesia dengan produksi terbaik selain Gie (2005) dan Athirah (2016). Sang Penari juga memiliki produksi maksimal dengan latar waktu yang sama dengan kedua film tersebut. Sinematografi dan filter yang diaplikasikan akan membuat kita benar-benar kembali pada tahun 1960-an di Dukuh Paruk. Dengan warna-warna hangat dan kualitas gambar yang raw.

Begitu juga dengan produksi latar pemukiman Dukuh Paruk yang apa adanya. Mulai dari bangunan rumah dari rotan, pakaian penduduk desa yang lusuh, hingga beberapa latar yang diambil di kota. Produksinya benar-benar detil dan maksimal membawa kita Indonesia tempo dulu.

sang penari

Photo via Salihara

Sang Penari termasuk film kolosal dengan banyak deretan aktor ternama maupun pemain pendukung dalam skala besar. Ada banyak adegan dengan banyak pemain pendukung dalam satu latar syuting, namun tak satupun lepas dari totalitas makeup dan pilihan busana. Dengan editing dan pemilihan aktor yang tepat, setiap pemeran utama tetap tampak mencolok di keramaian tersebut.

Casting yang Tepat Dengan Penampilan Setiap Aktor yang Maksimal

Tak hanya Prisia Nasution dan Dewi Irawan yang menampilkan akting terbaik mereka. Lawan main Prisia, Oka Antara sebagai Rasus juga menunjukan penampilan yang sangat menyakinkan. Rasus merupakan satu-satunya karakter yang memiliki perkembangan karakter; dari warga kampung yang tidak berpendidikan dan tak punya uang, menjadi tentara yang tegap dan berwibawa. Meski telah mengalami banyak perkembangan pribadi, cintanya pada Srintil tak pernah pudar.

Memilih Happy Salma sebagai penari pertama dengan screen time sangat minim juga merupakan bentuk dari totalitas film ini. Penari ronggeng harus tampak mempesona dan tidak terlupakan. Meski hanya muncul sebentar, Happy Salma telah memberikan standar yang pas sebagai bekal penokohan Srintil yang dibawakan oleh Prisia Nasution.

Aktor lain seperti Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Hingga Hendro Djarot, juga memberikan penampilan maksimal meski hanya sebagai karakter pendukung. Kita bisa melihat ambisi dari kru film Sang Penari yang tidak main-main dalam jajaran cast mereka.

Kisah Cinta Tragis Karena Latar Adat dan Politik

Ada banyak kisah cinta tragis yang sudah sering kita tonton dalam film. Sang Penari bisa menjadi salah satu yang paling meninggalkan lubang di hati penontonnya. Ketika cinta Rasus pada Srintil harus terhalang oleh nilai adat dan kepentingan politik. Kita bisa melihat bagaimana orang yang tinggal di masa lampau masih terikat oleh banyak hal dan harus mengorban cinta mereka dengan nilai moral yang tidak masuk akal.

Sebagai orang dari peradaban modern, dijamin kita bakal gemas dengan keputusan yang diambil sejoli yang sebenarnya saling jatuh cinta ini. Namun, dengan pengertian akan latar belakang karakter, kita akan merasa kasihan dan miris dengan situasi mereka.

Srintil memilih untuk mengabdi pada adat, sementara Rasus yang sakit hati memilih untuk mengambil peran sebagai tentara. Ada proses pengembangan karakter dan pengalaman dari masing-masing pemain, namun cinta mereka tidak pernah berubah.

Prisia dan Oka berhasil menampilkan chemistry yang sangat krusial dalam film drama romantis. Memang bukan penampilan mesra yang manis, lebih ke cinta yang tertekan oleh situasi, namun sekalinya diungkapkan terasa tulus dan membara. Kita akan merasakan cinta yang menyakitkan melalui kedua karakter ini.

Lebih kental dengan materi adat ronggeng Dukuh Paruk, sentuhan sejarah politik tentang PKI disematkan dengan komposisi yang pas sebagai pelengkap. Cinta, adat, dan politik, materi-materi tersebut dibungkus dalam satu karya film yang berkualitas dan memiliki statement yang jelas hingga adegan terakhir; tentang Srintil yang hanya ingin menari.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect