Connect with us
Sam Smith
Photo: Alasdair McLellan

Music

Sam Smith: Love Goes Album Review

Eksplorasi dengan transformasi kurang sempurna dari Sam Smith.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Setelah sempat tertunda berbulan-bulan karena pandemi Covid-19, serta mengalami pergantian judul; dari yang semula memiliki title ‘To Die For’, album studio ketiga penyanyi dari Inggris ini akhirnya meluncur ke pasaran. ‘Love Goes’ dirilis pada 30 Oktober kemarin, dengan lama rekaman dan produksi selama kurang lebih 2 tahun.

Bersamaan dengan dirilisnya album ‘Love Goes’, Sam Smith juga merilis video musik untuk “Kids Again,” yang menjadi single ketiga. Sebelum perilisan album ditunda, Sam Smith sudah meluncurkan sederet pre-release dan juga dua single lain dari album ini.

‘Love Goes’ terbilang diterima dengan cukup baik oleh pendengar. Terbukti studio album ketiga ini berhasil duduk di peringkat 5 tangga lagu US Billboard 200 setelah dirilis. Di minggu yang sama, album ini juga mengumpulkan akumulasi 29.66 juta stream untuk seluruh lagu-lagunya. Raihan yang tentu saja cukup memuaskan. ‘Love Goes’ juga menjadi album ketiga dari Smith yang duduk di peringkat 10 besar tangga lagu di Amerika Serikat.

Sam Smith Love Goes

Sam Smith – Love Goes

‘Love Goes’ menghadirkan sisi baru dan lain dari Sam Smith. Identitas baru sang penyanyi yang terakhir kali merilis album pada tahun 2017 tersebut sebenarnya sudah ditunjukan saat merilis “How Do You Sleep?.”

Dikenal sebagai penyanyi dengan lagu-lagu sendu, berlirik galau, irama dentingan piano dan musik choir, ditambah dengan vokal yang kaya akan emosi dan luapan perasaan. “How Do You Sleep?” menyulap Sam Smith menjadi sosok berbeda. Bila hits demi hits sebelumnya Smith meraungkan rasa patah hati hingga membuat pendengarnya berderai air mata. Maka “How Do You Sleep?” juga menyenandungkan rasa patah hati, lirik yang mempertanyakan cinta, kebohongan, hingga kehilangan jati diri. Hanya saja kali ini Smith tidak mengajak pendengarnya menangis.

Sebaliknya, irama dance dan sentuhan electro pop justru mengajak pendengarnya untuk menggoyangkan pinggul dan menari. Vokalitas sang penyanyi yang tidak lama kemudian memilih beridentitas non-binari ini juga tidak meraung dengan kesedihan. Justru liukan vokal yang dihadirkan menyuguhkan sensualitas tersendiri saat menanyakan “Baby, how do you sleep when you lie to me?”

Sayangnya setelah hits menjanjikan dengan “How Do You Sleep?”, pre-release lain (yang menjadi bonus track di dalam album) sampai single di ‘Love Goes’ justru tidak berhasil menyajikan excitement yang sama.

Track di album ‘Love Goes’ dibagi menjadi dua bagian; satu sisi merupakan lagu-lagu ballad, yang sayangnya sangat jauh dari kualitas rilisan hits Smith sebelumnya; serta sisi lain dengan lagu demi lagu berirama tekno pop, funk, sentuhan irama electro, deep-house, sampai pop dengan tempo medium.

Perpaduan dua polar musikalitas yang berbeda ini terdengar kurang berimbang. Sam Smith seolah siap untuk melepaskan image-nya di masa lalu, setelah mega hits seperti “I’m Not The Only One,” dengan meluncurkan “Dancing with a Stranger,” atau “Promises.” Serta tentunya “How Do You Sleep?.” Sayangnya di sisi lain, Smith seakan masih berusaha untuk mempertahankan pendengar setianya dari niche lagu-lagu galau; dengan menyisipkan track ballad “For the Lover That I Lost”, “Young,” dan “Breaking Hearts” yang justru terdengar out of place.

‘Love Goes’ berakhir dengan keraguan dari Smith untuk benar-benar bebas dengan identitas dan sosok barunya, secara musikalitas tentunya, tanpa mendapat bayang-bayang dari rilisan mega hits yang membesarkan namanya. Proses eksplorasi genre baru ‘Love Goes’ sayangnya malah diganggu dengan hadirnya niche ballad di tracklist album ini.

“Diamonds” dirilis di bulan September kemarin sebagai single kedua, dan merupakan track kedua di album ‘Love Goes’. Heartbreak on dance floor menjadi definisi paling tepat untuk lagu ini. Smith melantunkan mengenai kesedihan dan patah hati dengan iringan musik techno, dance pop yang tetap mampu menghadirkan perasaan yang mendalam.

Kekuatan vokal dari Sam Smith memang sangat pas untuk lagu-lagu dengan tema patah hati yang syahdu dan menyesakkan seperti ini. Bagaimanapun iringan musik dan genre-nya.

Synth dan juga 808 drum di “Another One” membawa sesuatu yang benar-benar baru dan berbeda untuk Smith. Kombinasi antara Smith dengan Guy Lawrence memang tidak pernah salah untuk menghadirkan track pop berkualitas. “So Serious” juga menjadi track lain yang membawa pendengarnya bergoyang.

Track ini benar-benar berhasil membuat kita mengapresiasi kemampuan vokal Smith. Smith memang bukan sekedar penyanyi kacangan, dan itu justru dibuktikan melalui lagu dance pop ringan seperti “So Serious”.

“So Serious” juga menghadirkan lirik yang cukup menarik. Salah satu bagiannya menyinggung tentang bagaimana Smith seolah “ketagihan” dengan sisi teatrikal dari kesedihan itu sendiri: “The second that I’m happy and I’m fine,” nyanyinya, “Suddenly there’s violins and movie scenes and/Crying rivers in the streets and/God I don’t know why, I get so serious sometimes.”

Lawrence dan Smith kembali bergabung untuk memproduseri track berikutnya “Dance (’Til You Love Someone Else).” Satu lagi track dengan niche heartbreak-on-the-dancefloor yang kali ini lebih kaya akan iringan house musik di tahun 90-an. “Dance (’Til You Love Someone Else)” sebenarnya bisa menjadi track yang solid, hanya saja terdengar ada bagian yang kurang.

Sayangnya “Dance (’Til You Love Someone Else)” juga menjadi highlight terakhir dari ‘Love Goes’. Track selanjutnya di album ini melemparkan Smith kembali ke “Stay With Me” era. Sekali lagi, bagian dari album dimana Smith belum ingin kehilangan para pendengarnya dari niche lagu-lagu galau, iringan piano, choir, musik minimalis, dan vokal meraung penuh kesedihan dan patah hati.

Pre-release seperti “Dancing with a Stranger” yang merupakan kolaborasi dengan Normani, “I’m Ready” dengan Demi Lovato, dan club-hit “Promises” yang diproduseri oleh Calvin Harris menjadi bonus track di ‘Love Goes’. Satu bagian lagi yang menjadi ketidak seimbangan dari album ini.

Akhir kata, ‘Love Goes’ sukses membawa Smith bereksplorasi di genre dan irama musik baru, dengan sosok dirinya yang baru. Sayangnya, ‘Love Goes’ juga menjadi bukti bahwa sama sekali tidak mudah untuk meninggalkan identitas dan niche lama yang melambungkan nama sang penyanyi dari Inggris. Dua sisi bertolak belakang yang menjadikan transformasi Smith seolah tidak sempurna.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect