Connect with us
Saint Maud
A24

Film

Saint Maud Review: Antara Krisis Mental dan Kepercayaan

Ketika orang dengan gangguan mental salah interpretasi tentang agama.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Ketika seseorang mengalami krisis pada kesehatan jiwanya, ada banyak objek yang bisa menjadi pelampiasan. Mulai dari gangguan dalam pola makan, pemakaian obat terlarang, hingga aktivitas seksual yang abnormal. Dalam kasus seorang perawat bernama Maud, Ia terjebak dalam interpretasi akan kepercayaannya yang secara bertahap makin melenceng.

“Saint Maud” merupakan film garapan Rose Glass tentang seorang perawat bernama Maud (Morfydd Clark). Dengan masa lalu yang traumatis, Maud tetap melanjutkan profesinya sebagai perawat. Namun kali ini Ia bekerja sebagai perawat pribadi untuk seorang mantan penari bernama Amanda yang mengidap kanker.

Sebagai orang yang religius, Maud tiba-tiba memiliki rasa tanggung jawab besar untuk menyelamatkan jiwa Amanda. Niat baik tersebut pun berkembang menjadi obsesi yang tidak sehat terhadap kepercayaannya.

Saint Maud

Saint Maud

Kesakitan dan Penderitaan Sebagai Bentuk Devosi

“Saint Maud” menampilkan konten yang bisa dibilang gore dan bakal bikin penonton ngilu. Tak kemudian dieksploitasi, adegan gore atau kekerasan dimasukan memang untuk mendukung perkembangan plot. Pada babak awal film, kita tidak akan melihat banyak konten kekerasan, namun sudah tampak “bibit”-nya jika kita jeli memperhatikan kebiasaan dari karakter protagonis, Maud. Secara perlahan, adegan menyakiti diri sendiri mulai bertambah secara bertahap, menuju adegan terakhir yang sangat pendek momentumnya, namun dijamin akan menghantui kita dalam jangka waktu yang lama meski film telah selesai.

Dalam “Saint Maud”, unsur horor yang hendak disajikan memiliki vibe ala film-film cult elegan yang sedang tren beberapa tahun belakangan. Meski film ini sendiri tidak membahas tentang cult, namun interpretasi yang salah akan beragama. Dimana Maud menangkap bahwa penderitaan yang Ia alami adalah bagian dari pendewasaan imannya, bahkan lebih besar lagi; Tuhan punya rencana untuk dirinya.

Saint Maud

A24

Krisis Mental yang Bisa Disalahartikan Sebagai Sesat Dalam Beragama

Ada kalanya kita cenderung menyebut orang yang jauh dari agama adalah orang-orang yang tersesat. Namun jangan salah, kisah Maud bisa menjadi contoh bahwa orang juga bisa tersesat di dalam agamanya sendiri. “Saint Maud” mengandung pengertian bagai dua mata koin; antara krisis beragama atau krisis mental pada karakter Maud.

Pada perspektif tertentu, kita akan melihat seakan-akan agama yang dianut Maud adalah sesat. Ketika Ia mulai menyakiti diri sebagai bentuk devosi, hingga melakukan kekerasan atas nama Tuhan. Film ini juga dibawakan dengan sentuhan absurd yang memihak pada kondisi mental dan kesadaran dari Maud. Jadi, bisa saja apa yang kita lihat merupakan ilusi. Kita hanya diberi pengertian akan pandangan orang yang sudah tenggelam dalam radikalisme agamanya.
Namun, jika kita mau melihat sisi lain dari kisah Maud; Ia mengalami gangguan jiwa dan tidak mendapatkan pertolongan yang tepat.

Ada banyak gejala trauma dan depresi yang bisa kita temukan jika kita menyimak kisah Maud. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, agama menjadi satu-satunya media penyaluran dari krisis mental yang Ia alami. Kasarannya, Maud sebetulnya tidak membutuhkan “tuhan”, melainkan psikiater untuk menyembuhkan traumanya.

Saint Maud Review

A24

Masa Lalu Traumatis Maud yang Kurang Dibahas

Pada bagian awal film, kita akan melihat prolog berdarah yang belum jelas; apa ini awal dari kisah atau akhir dari kisah Maud? Kemudian ketika kisah mulai diceritakan, baru kita akan menangkap maksud dari adegan prolog tersebut. Namun secara keseluruhan, kita hanya diberi sedikit petunjuk tentang masa lalu Maud yang menjadi sumber dari traumanya.

Untuk mengalami kondisi mental separah itu, pastinya ada penjelasan yang lebih kompleks dalam penokohan Maud. Kita hanya akan melihat sedikit flashback sebagai bentuk trauma yang sedang kumat. Meski dengan keterbatasan latar belakang tokoh, kualitas akting Morfydd Clark sebagai Maud, patut diakui totalitasnya.

Tak hanya Maud, pada akhirnya kita sebagai penonton juga akan merasa “trauma” setelah menonton kisah Maud hingga akhir. Seperti film horor produksi A24 lainnya, “Saint Maud” menampilkan elemen horor yang minim, namun mengandung teror tersembunyi yang disajikan dengan elegan sekaligus mengerikan.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect