Connect with us
Senigma
River’s Edge: Sekelompok Remaja Depresi di Era 90-an

Film

River’s Edge: Sekelompok Remaja Depresi di Era 90-an

Sutradara Isao Yukisada sedang mencoba menjelaskan pada kita bahwa film remaja tidak selalu tentang romansa atau nostalgia.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

River’s Edge (2018) merupakan sebuah adaptasi dari manga berjudul sama. Settingnya adalah kehidupan remaja SMA di Jepan tahun 90-an. Film anak remaja ini tidak seperti Dilan atau Terlalu Tampan yang menyuguhkan romansa anak muda. Bahkan tidak ada hal yang cukup indah untuk dinikmati dalam film ini. Nuansa yang diberikan sama dengan Boyhood (2014). Semuanya penuh dengan kekacauan dan kehampaan. Satu-satunya yang terasa wajar hanya adegan ranjangnya saja.

River’s Edge (2018) merupakan sebuah adaptasi dari manga berjudul sama. Settingnya adalah kehidupan remaja SMA di Jepan tahun 90-an.

Haruna Wakagusa (Fumi Nikaido) adalah seorang siswi SMA yang hidup dengan ibunya. Rumah tangga orangtuanya yang buruk—hanya ditampilkan dalam narasi—nampaknya memengaruhi Haruna. Ia tak mampu mengekspresikan emosi. Wajahnya datar saja. Setiap kali melakukan hubungan seksual dengan pacarnya, Kannonzaki (Shuhei Ukesugi), ia tetap bergeming. Tak ada yang terasa. Hanya kehampaan.

Namun Haruna masih memiliki empati. Terutama terhadap Ichiro Yamada (Ryo Yoshizawa) yang selalu menjadi objek bully. Kannonzaki yang tak merasakan cinta dari kedua orangtuanya lalu melimpahkan kemarahannya pada siapapun, terutama Ichiro. Ichiro sudah tak dapat menghitung berapa kali ia dipukuli, ditelanjangi, sampai diikat dan dikunci dalam loker sekolah. Ichiro yang sudah terluka hanya bisa menelan semua perihnya sendiri sambil menghabiskan waktu di sebuah padang ilalang tempatnya menemukan tengkorak dan tulang belulang. Mayat itulah hartanya.

Sebagai kedok, Ichiro memacari Kanna Tajima (Aoi Morikawa), seorang gadis naif yang terus membual dan berhalusinasi mengenai hubungan mereka. Ia tak mampu menerima kenyataan bahwa Ichiro tidak menaruh rasa. Dengan mata seperti orang kesetanan, ia terus merajut sweater yang akan diberikan kepada Ichiro. Orang yang mengetahui siapa yang sebenarnya dicintai Ichiro adalah Kozue Yoshikawa (Sumire). Kozue adalah model yang memiliki konsep diri rendah dan mengalami bulimia.

Tokoh terakhir adalah Rumi (Shiori Doi), teman akrab Haruna sekaligus selingkuhan Kannonzaki. Ia memiliki gejala kecanduan seks. Sepanjang waktu ia hanya memasang wajah penuh senyum meski ada banyak hal yang ia pikirkan. Ia tak tahu siapa ayah dari bayi di perutnya. Ia tak ingat siapa saja yang menidurinya tanpa menggunakan kondom. Rumi lalu menyalahkan semuanya pada Kannonzaki dan memaksanya memberi uang untuk aborsi.

River’s Edge (2018) merupakan sebuah adaptasi dari manga berjudul sama. Settingnya adalah kehidupan remaja SMA di Jepan tahun 90-an.

Secara garis besar, film ini berhasil mendobrak pakem atau merusak ekspektasi kita mengenai indahnya masa muda. Masa SMA yang selalu diagung-agungkan sebagai masa paling menyenangkan kini terasa sebagai ilusi. Kita melupakan representasi dari kelompok anak-anak yang mengalami masa remajanya dengan sulit. Tak hanya karena rumah tangga yang kacau tetapi juga ketidakmampuan bersosialisasi dan memandang diri secara positif. Semua kekacauan itu dijadikan satu dalam River’s Edge.

Film ini akan menampar kita dengan kenyataan bahwa ada banyak anak di luar sana yang tak tahu harus diapakan hidupnya. Kita terlalu sibuk dengan gambaran anak yang pintar, cantik, tampan, populer, dari keluarga bahagia, atau sibuk dengan hubungan cintanya. Kita lupa ada anak yang terlalu depresi sampai-sampai menjadikan mayat asing di padang ilalang sebagai harta berharga. Pada salah satu scene, Kozue kegirangan ketika tahu Ichiro menemukan mayat lainnya dan mengajak ia serta Haruna untuk mengubur mayat itu. Melihat mayat adalah satu hal yang menyatukan mereka.

Satu-satunya scene yang mungkin terasa masuk akal dan sering kita temui di film lain hanyalah bagaimana remaja menikmati sex bebas. Tidak ada penghakiman di film ini. Dari awal hingga akhir, seluruh kebrutalan dan penyimpangan yang mereka lakukan hanya ditampilkan secara jujur. Dialog yang digunakan juga cenderung vulgar. Tapi penggunaan dialog itu bukan untuk menyenangkan pasar dengan memberi asupan konten porno. Kannonzaki dan Rumi adalah dua orang menyedihkan yang menjadikan ranjang sebagai cara sesaat melupakan dunia.

Bully yang ditampilkan pun akan menyulut emosi. Bagaimana mungkin para guru dan orangtua tak menyadarinya? Ketidakpedulian orang dewasa terhadap kesehatan mental anak remaja mereka adalah ironi. Mereka hanya disuruh makan dan sekolah tanpa berusaha dipahami emosinya. Bukankah kita juga sering begitu? Berapa banyak dari kita yang mau peduli dan bertanya pada orang lain apakah dia bahagia?

River’s Edge mungkin sulit dipahami dan bukan selera banyak orang. Film ini bisa saja dianggap membosankan atau terlalu gelap untuk ditonton sebagai hiburan. Namun River’s Edge tidak dibuat dengan sia-sia. Ia mengajak kita menjadi lebih memahami ada banyak orang yang terluka karena hilangnya rasa peduli antarmanusia.

Click to comment

Leave a Comment

Living With Yourself Review Living With Yourself Review

Living With Yourself Review: Serial Drama Komedi Bertema Cloning

TV

Failin in Love Review Failin in Love Review

Failin in Love Review

TV

crazy love review crazy love review

Crazy Romance Review: Sajian Romansa Komedi Yang Menghibur

Film

Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix

The End of the F***ing World Season 2 Review

TV

Connect