Connect with us
Pretty Little Liar Versi Asia
Courtesy of Viu

TV

Pretty Little Liars Versi Asia: Menggigit Sejak Episode Pertama

Apakah remake drama remaja ini akan sesukses versi aslinya?

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pretty Little Liars adalah salah satu drama terpopuler di ABC yang mencapai 7 season. Bergenre thriller, drama ini mengangkat kisah pertemanan lima orang remaja. Salah satunya menghilang secara misterius. Selanjutnya dimulailah teror terhadap empat orang lainnya. Kesuksesan drama ini pun mengundang Viu untuk membuat remake versi Asia-nya. Ada tiga aktris Indonesia dan satu aktris Malaysia yang didapuk menjadi pemeran utama.

pretty little liars indonesia viu

Alissa (Yuki Kato) adalah leader dalam gengnya. Ia dikenal charming sekaligus manipulatif. Alissa tahu rahasia semua orang dan cara menggunakan hal itu untuk mengendalikan orang lain. Kemunculannya yang singkat di bagian awal episode pertama justru benar-benar memikat. Tim casting Pretty Little Liars sudah sangat tepat untuk memilih Yuki memerankan Alissa. Jam terbang yang tinggi membuat Yuki terlihat menonjol dibanding aktris lain.

Selain Alissa ada empat orang lain dalam geng itu. Hanna (Anya Geraldine), Ema (Eyka Farhana), Sabrina (Valerie Thomas), dan Aria (Shindy Huang) merupakan teman satu SMA. Mereka dan Alissa seharusnya merayakan kelulusan bersama. Namun Alissa hilang. Mereka lalu berjanji untuk saling menjaga rahasia. Karena bila rahasia tersebut bocor, akan ada banyak orang yang terluka. Sayangnya Alissa bukan hilang melainkan dibunuh. Jasadnya ditemukan setahun kemudian.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Cultura Magazine (@culturamagz) on

Sebenarnya agak riskan untuk memberikan peran utama pada empat aktris yang sama-sama pendatang baru. Ditambah lagi drama ini cukup fenomenal dan memiliki fanbase yang besar. Bila akting keempat aktris ini tidak mampu memenuhi ekspektasi maka akan mengecawakan penonton. Meski pada beberapa scene akting keempatnya nanggung secara garis besar Anya, Eyka, Valerie dan Shindy mampu bermain dengan apik.

Scene awal mungkin kurang menarik tapi secara keseluruhan episode satu sudah memuaskan. Ditambah lagi keputusan Viu untuk tidak meremake mentah-mentah drama ini melainkan memberikan sentuhan lokal sudah sangat bagus. Misalnya Eyka yang aktris Malaysia di sini mendapatkan scene berbahasa Melayu. Sementara itu untuk pemeran lainnya berbahasa campur-campur Indonesia dan Inggris.

Setting yang dipilih juga patut diapresiasi. Kelima gadis ini diceritakan berasal dari keluarga kaya raya. Viu berhasil memperlihatkan itu seperti pada setting rumah, sekolah, maupun tempat hiburan. Kalaupun ada setting yang janggal adalah ketika penemuan jasad Alissa yang terasa tak sesuai dengan setting lokasi lainnya.

pretty little liars indonesia viu

Courtesy of Viu

Pemain-pemain senior yang dilibatkan dalam drama ini juga menampilkan akting yang mumpuni. Hebatnya lagi nama besar seperti Wulan Guritno dan aktor maupun aktris lain mampu menjalin chemistry dengan para pemain pendatang baru. Para pemain kawakan ini tidak terlihat membuat pemain baru tenggelam. Mereka mampu melengkapi akting masing-masing tanpa salah satunya terlihat superior. Ini penting agar para pemeran utama tetap mendapatkan sorotan yang dibutuhkan.

Namun tentu ada kekurangan pada Pretty Little Liars versi Asia ini. Pertama, keempat gadis berusia 19 tahun ini digambarkan terlalu mature. Sebenarnya wajah mereka masih imut-imut dan cocok memerankan tokoh mahasiswa baru seperti dalam script. Sayangnya mereka lebih terlihat seperti mahasiswa tingkat akhir.

Remaja seusia mereka umumnya masih belum menemukan style yang mapan, masih belum dapat melepaskan antusiasme sebagai anak SMA. Apalagi Aria yang dikisahkan berpacaran dengan dosennya sendiri. Mereka malah terlihat memiliki umur tidak beda jauh.

Kedua, ekspresi sensual yang dimiliki karakter berusia 19 tahun dalam drama ini sedikit disturbing. Mungkin kalau para orangtua melihatnya, mereka akan menjadi khawatir membayangkan anak-anaknya berperilaku seperti itu. Mengapa mereka tidak digambarkan memiliki cinta monyet saja? Padahal kalau naksir lawan jenis tidak harus diperlihatkan dalam konotasi sensual. Bukan soal norma budaya semata tapi 19 tahun terlalu muda untuk terlibat dalam hal sejenis itu.

Viu sendiri menyatakan selain mengangkat tema cyber bullying, Pretty Little Liars juga membawa isu pemberdayaan perempuan. Ada sedikit hint tentang isu ini pada episode pertama yaitu ketika ibunya Hanna diperlihatkan memiliki hubungan problematic dengan lawan jenis.

Bila diarahkan dengan baik drama ini juga dapat mengajarkan pada remaja mengenai pertemanan yang toxic. Tak hanya soal hubungan cinta, dalam pertemanan pun tiap orang yang terlihat harus berdaya.

Kesuksesan Pretty Little Liars versi Asia ini seharusnya membuat Viu menjadi lebih percaya diri dalam memproduksi drama originalnya. Kalaupun Viu memutuskan untuk meremake drama lain, Pretty Little Liars adalah batu loncatan awal yang bagus. Pilihan untuk tidak memakai aktor maupun aktris yang umumnya berperan di FTV juga tepat. Kita perlu melihat tokoh-tokoh baru yang segar.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect