Connect with us

Film

On The Basis of Sex Review: Melawan Hukum yang Diskriminatif

Felicity Jones kembali mendapatkan proyek film biopik. Apakah ia berhasil memerankan Ruth Bader Ginsburg?

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Ruth Bader Ginsburg adalah salah satu tokoh feminis fenomenal. Ia adalah Hakim Agung di Mahkahamah Agung Amerika. Ia juga berhasil lolos untuk menempuh studi hukum di Harvard. Di masanya dulu, apa yang ia lakukan adalah bagian dari mendobrak tradisi. Tak hanya itu, ia menjadi role model bagi kaum perempuan yang menempuh pendidikan di bidang hukum karena pencapaian karirnya yang luar biasa. Ruth juga menjadi bukti bahwa seorang feminis sekaligus seorang ibu dan istri mampu menjalankan perannya dengan baik, didukung support system yang baik pula.

ruth bader ginsburg

Image credit: Allison Shelley/Stringer/Getty Images

Ruth yang bertubuh mungil ini diperankan oleh Felicity Jones. Kita sudah familiar dengan Felicity sejak ia berperan dalam The Theory of Everything. Melalui perannya sebagai istri dari Stephen Hawking itu, ia meraih penghargaan dan berbagai nominasi. Kini ia kembali dalam proyek film biopik lainnya, On The Basis of Sex (2018). Kisahnya tak merangkum seluruh fase hidup Ruth. Namun dari sini kita dapat melihat kiprah Ruth berikut kisah cintanya.

Satu hal yang menarik perhatian adalah dukungan yang sangat besar dari suami Ruth, Martin D. Ginsburg. Ia juga seorang pengacara dan bidang keahliannya adalah hukum pajak. Ia mendukung studi maupun karir Ruth. Martin adalah tipe suami idaman semua perempuan. Bisa diajak berdiskusi, membantu pekerjaan rumah tangga, tak memprotes pula walau masakan istrinya tak enak. Bagi Martin, Ruth adalah istri yang ia banggakan karena cantik dan pintar. Martin adalah support system utama bagi Ruth yang menempuh sekolah hukum sekaligus mengasuh seorang bayi.

Ruth muda adalah salah satu dari sembilan perempuan yang berhasil masuk sekolah hukum Harvard. Ini adalah tahun keenam bagi Harvard “mengizinkan” kaum perempuan untuk menuntut ilmu di sana. Kita yang hidup di zaman ini mungkin merasa aneh, mengapa sebuah kampus hanya mengizinkan laki-laki menuntut ilmu. Itulah gambaran Amerika di zaman dahulu. Tak hanya sekolahnya saja yang diskriminatif, hukum yang dibuat pun pada dasarnya tidak adil secara gender. Hukum diciptakan hanya untuk menguntungkan pria.

Di acara makan malam penerimaan mahasiswa baru, sang dekan meminta para mahasiswi untuk memerkenalkan diri sekaligus menyebutkan alasan mereka masuk ke Harvard. Sebuah pertanyaan yang konyol bagi Ruth karena tentu saja orang bersekolah untuk mendapatkan ilmu. Salah seorang mahasiswi yang menceritakan alasannya justru dipermalukan oleh sang dekan. Menyadari dekannya seksis, Ruth menjawab ia memutuskan sekolah di Harvard karena mengikuti suaminya yang sudah berkuliah lebih dulu di sana. Dirinya mengaku ingin agar dapat lebih sabar dan memahami suaminya sehingga perlu kuliah di tempat yang sama.

On The Basis of Sex review

Film ini menggambarkan dengan nyata bagaimana diskriminasi gender terjadi di Amerika. Tak hanya hukumnya atau penerimaan mahasiswa barunya saja, dosen-dosen pun juga enggan memberikan kesempatan kepada mahasiswi. Mahasiswi sulit untuk terlibat aktif di kelas karena diabaikan. Ketika mencari kerja pun Ruth selalu dilecehkan dengan berbagai pertanyaan yang tak berkaitan dengan kemampuan akademisnya. Dia ditanya kapan punya anak lagi atau mengapa seorang perempuan Yahudi berani masuk (dan melamar kerja di sana).

Namun semua hal itu tidak membuat Ruth patah arang. Ditambah suaminya yang selalu mendukung, ia terus berjuang untuk membuat perubahan. Ia terpaksa mengalah dengan tidak bekerja di firma hukum dan memutuskan menjadi pengajar di sekolah hukum. Namun hal ini mendapat kritikan dari anak perempuannya. Anaknya mengatakan perubahan harus dilakukan dengan aksi, bukan hanya sekadar duduk-duduk berdiskusi di dalam kelas. Kritikan anaknya memberi tamparan keras bagi Ruth. Ia pun menjadi membulatkan tekad untuk berjuang lebih keras lagi.

Di sinilah akhirnya klimaks dari film ini ketika Ruth berjuang untuk menjadi pengacara seorang bujangan tua yang merawat ibunya. Hukum yang diskriminatif secara gender tidak mengizinkan pemotongan pajak bagi seorang laki-laki yang tidak menikah yang harus merawat lansia. Menurut hukum, perempuan sajalah yang bisa dikurangi pajaknya. Ruth pun berpikir inilah saatnya ia melakukan perubahan. Hukum yang diskriminatif terhadap perempuan mungkin tidak dipedulikan orang. Tapi bila hukum itu juga merugikan laki-laki, ia memiliki kesempatan menunjukkan kepada semua orang betapa berbahayanya diskriminasi atas dasar jenis kelamin.

Tentunya sebagai sebuah film biopik, kita tidak bisa berharap ada banyak plot twist atau elemen menarik lainnya. Film ini sebisa mungkin dibuat agar sesuai kejadian real. On The Basis of Sex juga hanya mengambil satu bagian dari hidup Ruth. Namun itu bisa menjadi kekurangan juga. Gambaran perjuangan Ruth bisa dibilang belum terlalu kuat. Film ini justru lebih banyak memasukkan unsur keluarga seperti suami Ruth yang baik hati atau anaknya yang sangat liberal. Perjuangan Ruth di bidang hukum menjadi kurang fokus.

Namun sisi positifnya adalah film ini menggambarkan Ruth dengan sangat manusiawi. Ia tak selalu kuat dalam perjuangannya. Ia bisa frustasi ketika belum mendapat pekerjaan. Sosok suami Ruth yang diperankan sangat baik oleh Armie Hammer membuktikan kepada kita bahwa masih ada laki-laki yang menyadari pentingnya kesetaraan gender. Ini tak hanya dramatisasi dalam film karena pada kenyataannya Martin begitu bangga pada Ruth. Martin diketahui menikahi Ruth dengan memutuskan bahwa mereka akan mengejar karir di bidang yang sama. Armie dan Felicity memiliki chemistry yang manis dalam film ini.

Film ini skenarionya ditulis oleh keponakan Ruth sendiri sehingga sentuhan personalnya akan sangat terasa. Ruth diketahui menyukai hasil dari On The Basis of Sex. Ini bukanlah satu-satunya film biopik mengenai Ruth. Salah satu film lainnya adalah dokumenter berjudul RGB yang rilis tahun lalu.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement Cultura Lists
Connect