Connect with us
Nick Jonas
Photo: Anthony Mandler

Music

Nick Jonas: Spaceman Album Review

Konsep interstellar dan musikalitas berkualitas belum berhasil melahirkan lagu yang catchy.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Nick Jonas menambah deretan kesibukannya dengan meluncurkan album solo terbaru. ‘Spaceman’ dirilis pada 12 Maret kemarin, menyusul peluncuran single dengan judul sama satu minggu sebelumnya.

Dibandingkan dengan dua saudara Jonas yang lain, Kevin dan Joe, Nick memiliki paling banyak kesibukan. Pentolan group Jonas Brothers ini menjadi coach di The Voice, sekaligus host dan bintang tamu di Saturday Night Live. Ia juga akan merilis film ‘Chaos Walking’ dan sedang bersiap memerankan Frankie Vallie di versi streaming theater untuk ‘Jersey Boys.’

Kesibukan tersebut masih ditambah dengan aksinya sebagai narator di drama misteri Apple TV, ‘The Call’ serta menjadi pembaca nominasi di Oscar 2021 bersama sang istri, Priyanka Chopra Jonas.

Diluncurkannya album ‘Spaceman’ menjadi kejutan tersendiri. Terutama karena album ini menjadi rilisan solo perdana Nick setelah reuni Jonas Brothers di tahun 2019. Seperti diketahui, diantara Jonas Brothers lain ia juga menjadi paling aktif secara musikalitas. ‘Spaceman’ merupakan album solo keempat Nick. Sedangkan kedua saudara lainnya masing-masing merilis satu album solo.

Nick membagi album ini menjadi 4 bagian dengan tema berbeda: distance, indulgence, euphoria, dan commitment. Masing-masing track di setiap tema memiliki lirik dengan narasi dan penggambaran berbeda. Meskipun setiap track mengusung garis merah genre yang sama.

“Spaceman” menjadi single promosi pertama dan terinspirasi dari pandemi COVID-19. Track ini juga mengungkap sisi lain Nick; sosok yang ia akui hanya muncul ketika berada di zona nyamannya: “Mask off minute I get home/All safe now that I’m alone.”

Tema distance yang menjadi narasi di tiga track pertama jelas terinspirasi dari proses kreatif album ini sendiri selama pandemi. Nick mengeksplorasi bagaimana isolasi memberi pengaruh mendalam pada keadaan emosional seseorang. Bagian kedua menggambarkan tentang coping mechanism dalam indulgence.

“Delicious” mengawinkan genre pop dengan funk. Track ini seakan pas bila dimasukkan ke dalam tracklist album ‘Who I Am’ yang dirilis pada 2010 silam. Nick menarasikan skenario manis untuk track berikutnya, “2Drunk.” “Now I’m dancing in the kitchen/Breaking all the dishes/Breaking all the rules that I set myself” dinarasikan melalui vokal memukau dengan iringan irama pop yang menggoda sekaligus mengalir halus.

“Sexual,” seperti judulnya, merupakan horny jam. Tidak hanya Nick menyangkutkan lagu ini dengan Marvin Gaye, namun juga menarasikan lirik dengan frasa-frasa seksual.

Meski jauh dari kualitas “Sexual Healing” atau “Let’s Get It On,” “Sexual” cukup catchy dan menarik. Terutama adanya instrumen sitar, yang sepertinya didedikasikan untuk sang istri yang memiliki darah India.

“Deeper Love” membawa album ini memasuki tema selanjutnya: commitment. Tidak sulit membayangkan Nick akan memasukan tema cinta dan komitmen ke dalam album solonya. Terlebih dengan image “wife guy” yang menjadi publik persona Nick dalam beberapa tahun terakhir.

Track ini menyenandungkan mengenai cinta. “I wanna know what it’d be like to know what I believe in/I wanna find it in your eyes,” meski secara lirikal, Nick belum berhasil menggambarkan bagaimana komitmen menjadi bentuk cinta lebih dalam. Sebaliknya, lagu ini justru jatuh pada lubang lirik picisan; sedikit banyak mengingatkan pada hits Jonas Brothers “When You Look Me in the Eyes” yang sebenarnya kala itu ditulis untuk album debut solo Nick di usia 12 tahun.

Setelah rangkaian irama synth pop, “If I Fall” hadir dengan melodi yang lebih menenangkan. Meski sayangnya Nick kurang bisa mengeksekusi dengan baik. Hingga akhirnya track ini pun terasa tidak konsepsual.

“Death Do Us Part” menjadi salah satu track paling menarik di album ini. Tidak hanya Nick menuliskan lirik yang terinspirasi dari sang istri dan pernikahan mereka. Melainkan metafora-metafora yang digunakan sebagai penggambaran pernikahan dengan perbedaan budaya serta kultur.

Irama yang seksi ditambah adlib memukau dari Nick menjadikan “Death Do Us Part” mempesona dibalik lirik absurd mengenai semangka, Cool Whip, Pringles, caviar.

Secara tematik, ‘Spaceman’ berhasil memasukkan tema antariksa melalui suara sinyal radio sampai blip-blip futuristik. Album ini digarap bersama produser dan co-writer Greg Kurstin, yang sebelumnya berhasil melahirkan hits-hits pop untuk 3 dari 5 member One Direction, Maggie Rogers, Maren Morris, dan banyak lain. Keduanya meramu album dengan beat synth pop serta permainan drum ala Phil Collins.

Nick pun sukses memperlihatkan vokalisasi apik. Warna suara sang de-facto leader Jonas Brothers ini sendiri sudah sangat sempurna untuk genre pop. Ditambah dengan aplikasi adlib serta falsetto ciamik di beberapa track. Tidak berlebihan sepertinya bila mengatakan ‘Spaceman’ menjadi album dengan vokalisasi terbaik dari Nick Jonas. Terutama bila dibanding 3 rilisan sebelumnya.

Konsep interstellar yang tergarap dengan baik. Serta kualitas produksi dan musikalitas menjadikan album ini jauh dari kata mengecewakan. Meski track demi track tidak cukup catchy untuk memukau pendengar dan membuat mereka memutar ‘Spaceman’ on repeat.

Nick belum berhasil pula memberikan ke dalaman secara lirikal maupun makna dalam lagu itu sendiri. Membuat ‘Spaceman’ berakhir sebagai album yang hanya akan cocok didengarkan sambil lalu.

Click to comment

Julia Michaels Julia Michaels

Julia Michaels: Not in Chronological Order Album Review

Music

The Armed The Armed

The Armed: ULTRAPOP Album Review

Music

Young Stoner Life Young Stoner Life

Young Stoner Life: Slime Language 2 Compilation Album Review

Music

PJ Harding & Noah Cyrus: People Don’t Change Album Review

Music

Advertisement
Cultura Live Session
Connect