Connect with us
The Weeknd After Hours
Photo by Kevin Mazur/Getty Images for MTV

Entertainment

Mengulik Album “After Hours” The Weeknd dengan Karakter yang Ikonik

Karakter yang dibangun dengan susah payah ini berbuah manis.

Masih ingat dengan lagu “Starboy” atau “Can’t Feel My Face” yang sempat meledak beberapa tahun lalu? Di tahun 2020, The Weeknd kembali dengan album terbarunya, ‘After Hours’. Kesuksesan pun kembali menghampirinya dengan meledaknya album ini di berbagai platform musik digital dan lembaga rating musik terkenal seperti Billboard.

Kepopuleran tersebut juga diiringi dengan kontroversi ketika The Weeknd sendiri sama sekali tak mendapat tempat di salah satu ajang penghargaan musik paling bergensi, Grammys. Hal ini diduga dipicu oleh keputusan The Weeknd sendiri yang lebih memilih tampil di acara bergensi yang menjadi tradisi setiap tahun dari kompetisi NFL, Super Bowl Halftime, daripada acara Grammys itu sendiri. Tentunya hal ini bukan kali pertama Grammys bersinggungan dengan isu tidak sedap terkait sistem penjuriannya atau hal-hal lain di seputarannya.

The Weeknd pun sempat mengungkapkan kekesalannya di akun resminya sendiri. Namun, pembalasan yang sebenarnya ia tunjukkan dalam penampilannya di Super Bowl Halftime dengan memukau. Meskipun beberapa penggemar mengeluhkan tata suaranya yang lebih lirih seiring pertunjukan atau hambatan lainnya terkait regulasi Covid-19 yang ketat, tidak dapat dimungkiri bahwa The Weeknd mampu menduduki jajaran penampilan terbaik sepanjang sejarah Super Bowl LV Halftime.

Lantas, bagaimana The Weeknd sudah mampu mencuri perhatian sejak awal peluncuran albumnya? Hal ini juga tidak terlepas dari karakter yang dibangunnya dengan apik.

Strategi pemasaran sebuah album dengan konsep cerita dan karakter bak narasi sebuah cerita dramatis memang bukan hal yang baru, termasuk bagi The Weeknd. Jika “Starboy lekat dengan lambang salib menyala, maka After Hours tidak akan lepas dari karakter pria berjas merah, berbaju dan celana hitam, serta sarung tangan kulit dengan warna senada yang diperankan oleh sang penyanyi itu sendiri.

The Weeknd

American Music Awards 2020 (Photo: Kevin Mazur/Getty Images)

Pria yang bernama asli Abel Makkonen Tesfaye itu cukup dibilang konsisten dalam membawakan karakter tersebut dalam setiap penampilannya, baik di video klip maupun secara langsung di beberapa acara kenamaan Hollywood. Karakter ini pun tidak dapat dibangun dengan apik tanpa narasi cerita yang dibawa dalam seri video klip album “After Hours” yang disutradarai oleh Cliqua.

Mulai dari “Heartless”, lagu pertama dengan video klip yang membawa The Weeknd sebagai karakter yang flamboyan, namun tergila-gila dengan dunia gemerlap serupa Las Vegas. Barangkali seperti lagunya sendiri, ia mencoba menampilkan sosok yang tak peduli dengan apapun selain urusan yang menyenangkan. Akankah ia menjadi siluman kodok pada akhirnya? Tentu saja tidak. Itu hanya sebatas halusinasinya.

“Blinding Lights” adalah salah satu lagu terpopuler dalam ‘After Hours’. Video klipnya pun melanjutkan kisah dalam “Heartless”. Namun, kali ini si pria berjas merah lebih berurusan dengan mobil, jalan raya, perempuan ras Asia, dan babak belur di wajahnya. Tampilan wajah tersebut nantinya juga menjadi sampul utama ‘After Hours’. Nada synthwave serupa musik tahun 80-90an juga terasa kental dalam lagu ini.

Keseriusan The Weeknd dalam menghadirkan cerita tersendiri di albumnya ini diperkuat dengan sebuah film pendek dengan judul yang sama, “After Hours”. Film pendek ini juga melanjutkan kisah sebelumnya. Dalam keputusasaannya, Abel seolah diseret oleh sesuatu yang kemudian merasuk dalam tubuhnya. Dari titik ini, kisah si pria berjas merah berbalik menjadi genre thriller.

Berlanjut dalam video klip lagu selanjutnya, “In Your Eyes”. The Weeknd berubah menjadi pembunuh berdarah dingin dengan pisau tajam di tangannya. Ia meneror seorang gadis setelah membunuh teman pria yang bersamanya di awal kemunculan. Akhir ceritanya pun tak kalah mengejutkan, si gadis ternyata berhasil membunuhnya dengan kapak hingga kepalanya putus. Namun, apa yang membuat si gadis justru terpesona dengan wajahnya hingga mengajak kepala itu berdansa?

Dalam video klip “Until I Bleed Out”, si pria berjas merah terlihat masih hidup, namun dalam keadaan yang sempoyongan di sebuah pesta. Barangkali inilah gambaran alam pikirannya yang tersesat ketika sedang dirasuki sebagai pembunuh berdarah dingin. Ia tersesat dalam beberapa lingkungan, termasuk padang pasir di antah berantah.

Di tempat lain, pesona si pria berjas merah memang belum luntur meski tersisa kepalanya saja. Dalam video klip “Too Late”, kepalanya ditemukan di jalan raya oleh dua orang gadis bersaudara sepulang operasi plastik. Mereka memanjakan kepala pria berjas merah tersebut di kediaman yang mewah. Obsesi mereka menjadi berlebihan dengan membawa tubuh baru untuk kepala yang memesona itu. Video klip ini pun dirasa paling sensual sekaligus mengerikan sebagai penutup seri cerita si pria berjas merah.

Namun, satu video klip lagi hadir untuk lagu ‘Save Your Tears”. Pria berjas merah kembali muncul dengan wajah tipikal cetakan operasi plastik. Barangkali ini menyambung tampilan The Weeknd di beberapa acara penghargaan dengan kepala dibungkus perban. Sepanjang video berlangsung, ia menyanyi dengan antusias dalam sebuah jamuan makan malam mewah yang dihadiri penonton layaknya patung. Akankah masih ada kelanjutan cerita dari si pria berjas merah?

Yang jelas, karakter yang dibangun dengan susah payah oleh The Weeknd dalam ‘After Hours’ ini berbuah manis. Beberapa daftar lagu yang tidak/belum mendapat jatah video klipnya pun patut diperhitungkan, seperti “Alone Again” dan “Hardest To Love”.

Cerita yang berkesinambungan dalam seri video klip album ‘After Hours’ tersebut dirangkum kembali dalam Super Bowl LV Halftime Show yang menjadi panggung milik The Weeknd sendiri selama kurang lebih 14 menit. Penampilan ini ditutup dengan lagu “Blinding Lights” dan The Weeknd tampil di tengah-tengah Raymond James Stadium bersama ratusan penari latar berjas merah dan kepala diperban. Barangkali, karakter ikonik ini akan terus diingat sepanjang ‘After Hours’ tetap dikenang dalam industri musik Hollywood.

Click to comment

Julia Michaels Julia Michaels

Julia Michaels: Not in Chronological Order Album Review

Music

The Armed The Armed

The Armed: ULTRAPOP Album Review

Music

Young Stoner Life Young Stoner Life

Young Stoner Life: Slime Language 2 Compilation Album Review

Music

PJ Harding & Noah Cyrus: People Don’t Change Album Review

Music

Advertisement
Cultura Live Session
Connect