Connect with us
Senigma
korupsi politikus indonesia

Culture

Menebak Korupsi dari Wajah Politisi

Wajah seorang politisi dapat memengaruhi penilaian masyarakat terhadapnya. Termasuk soal korupsi.

Sudah menjadi rahasia umum bila popularitas seseorang adalah salah satu modal menggiurkan ketika ia terjun ke dunia politik. Contohnya bisa kita lihat pada pemilu yang baru saja berlalu. Kita dapat melihat banyak figur publik terutama selebriti yang terjun ke dunia politik. Banyak yang tak punya latar belakang dunia politik dan baru-baru ini saja mencoba peruntungannya dengan mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Banyak yang berhasil, banyak pula yang gagal.

Tak hanya soal familiar tidaknya, wajah dan postur seorang politikus sangat memengaruhi pandangan masyarakat terhadap kiprahnya. Seseorang bisa dinilai kecakapannya hanya dari wajahnya. Meski penilaian semacam ini bisa jadi dianggap tidak adil, nyatanya penilaian tersebut dapat terbukti. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institut Teknologi California (Caltech) membuktikan masyarakat dapat mengetahui seseorang korup atau tidak hanya dari melihat fotonya saja. Tingkat keakuratan dari penilaian masyarakat terhadap politikus ini mencapai 70%.

Sebelum berpikir bila penelitian ini adalah pseudo science, sebenarnya ada banyak penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya. Misalnya, sebuah studi oleh Shawn N. Deniole dkk yang menunjukkan bahwa laki-laki yang berwajah lebar memiliki korelasi dengan perilaku agresif. Penelitian lain yang dilakukan oleh Robert G. Franklin Jr dan Leslie A. Zebrowitz menunjukkan bahwa ada kaitan antara wajah seorang kandidat dengan tingkat keterpilihan mereka. Dalam penelitian ini, pemilih di kelompok usia muda menilai kompetensi kandidat dari wajahnya dan memprediksi secara akurat kandidat mana yang terpilih dalam pemilu.

Penelitian dengan tahun lebih tua dilakukan oleh Alexander Todorov yang menunjukkan masyarakat mampu memprediksi kesuksesan seorang politikus dalam pemilu bahkan hanya dalam sekali lihat. Ketika para partisipan penelitian diberi waktu tambahan untuk memutuskan politikus mana yang mereka pilih dalam pemilu, mereka tetap memilih pilihan pertama mereka. Hasil penelitian itu menunjukkan masyarakat mampu memprediksi 70% tingkat keterpilihan politikus. Pada penlitian lanjutan, Todorov dan timnya memanipulasi foto para politikus dan meminta masyarakat memberikan penilaian. Politikus dengan wajah bulat, babyface, tulang pipi menonjol, alis yang melengkung, dan terlihat cerah dinilai lebih dipercaya.

Uniknya lagi, tak hanya fitur wajah dan tubuh saja yang berpengaruh terhadap tingkat keterpilihan seseorang. Politikus berjenis kelamin perempuan pun “terpaksa” menghadapi stereotip tertentu berkaitan dengan penampilan mereka. Politikus perempuan yang wajahnya lebih feminin dianggap lebih disukai publik sehingga terpilih. Tingkat keterpilihan mereka bisa dipastikan hanya dalam waktu 380 milidetik setelah pemilih melihat wajah mereka. Ini adalah gambaran masyarakat yang masih menilai perempuan berdasarkan keperempuanannya. Seorang perempuan dituntut untuk terlihat feminin karena dianggap sesuai dengan nilai-nilai masyarakat.

Nampaknya penelitian tersebut terbukti berdasarkan kasus yang ada di Indonesia. Farouk Muhammad, seorang caleg dari DPD Nusa Tenggara Barat, menggugat Evi Apita Maya. Evi yang memiliki perolehan suara terbanyak dituduh mengedit fotonya secara berlebihan sehingga tampak lebih putih dan tirus. Farouk menganggap hasil editan foto inilah yang membuat masyarakat memilih Evi. Ini bisa saja benar mengingat masyarakat kita masih beranggapan bahwa cantuk itu putih dan seringkali menilai perempuan dari tampilan fisiknya.

Mari kembali kepada penelitian yang dilakukan para peneliti Caltech. Chujun Lin dkk meminta 100 partisipan untuk menilai 72 foto politisi mengenai seberapa korup, tidak jujur, egois, dapat dipercaya, dan murah hatinya mereka. Seluruh politisi tersebut adalah laki-laki dari ras kaukasia yang memiliki rentang usia 12 tahun. Separuhnya telah dihukum dalam kasus korupsi dan separuhnya lagi memiliki catatan hukum yang bersih. Foto-foto tersebut dicetak dalam model hitam putih, dipotong dengan ukuran yang sama, dan memiliki pose tersenyum.

Hasilnya, para partisipan mampu membedakan mana foto politisi yang korup dan mana yang tidak. Pada percobaan kedua para partisipan diminta menilai foto 80 politisi asal California. Sama dengan percobaan pertama, pada percobaan kedua para partisipan berhasil membedakan mana yang bersih dan mana yang melakukan pelanggaran terhadap Undang-undang Reformasi Politik. Isi undang-undang itu antara lain regulasi keuangan kampanye, lobi politik yang kotor, hingga konflik kepentingan.

Ketika percobaan berikutnya dilakukan dengan memanipulasi foto para politikus, partisipan tetap memilih politikus dengan wajah yang cenderung lebar dibanding tirus mengenai seberapa korupnya mereka. Meski belum dapat dijelaskan secara lebih lanjut mengapa partisipan mampu menebak mana foto politisi yang korup, hal ini mungkin bisa dijelaskan dari ekspresi. Politisi yang korup bisa saja menampilkan wajah penuh rasa bersalah sehingga ketika masyarakat melihatnya, mereka menyadari ada hal yang disembunyikan. Politisi dengan wajah yang mencurigakan inipun lebih cenderung didatangi oleh penyuap karena mereka yakin si politisi akan menerima suap. Kekurangannya adalah politisi dengan fitur wajah tertentu dapat saja dirugikan karena lebih mungkin dicurigai sebagai seseorang yang korup.

Penelitian lanjutan penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana korelasi ketika otak mendeteksi wajah seorang politikus dan memberikan penilaian-penilaian tertentu. Keterbatasan penelitian ini adalah foto seorang politikus bisa saja merupakan hasil retouching sehingga ada sedikit perubahan dengan wajah aslinya. Sebaiknya penilaian juga dilakukan tidak hanya melalui satu pose atau satu angle foto saja. Bias lainnya adalah penelitian ini menunjukkan masih adanya bias di mata masyarakat mengenai seseorang berdasarkan tampilan luarnya. Padahal penilaian tersebut bisa saja salah dan tidak menggambarkan secara utuh kepribadian seseorang.

Akan sangat menarik bila penelitian serupa atau yang lebih komprehensif dilakukan di Indonesia. Terutama berkaitan dengan para selebriti yang terpilih menjadi anggota dewan dan tentunya popularitas mereka memainkan peranan penting dalam pemilu. Kita perlu mengetahui pula mengapa politikus yang di mata masyarakat terlihat sebagai koruptor dan ternyata memang korup masih memiliki kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu. Banyak hal yang masih bisa dipetakan dari budaya politik kita agar perbaikan dapat dilakukan dan calon yang terbaiklah yang dipilih, bukan karena faktor yang tak ada kaitannya dengan kapabilitasnya.

Click to comment

Leave a Comment

Salad Salad

Sejarah Salad dan Kaitannya dengan Stereotip Gender

Culture

Suara-suara Gelap (dari Ruang Dapur) Suara-suara Gelap (dari Ruang Dapur)

Kota dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Culture

kasus kesehatan mental kasus kesehatan mental

Ironi Isu Kesehatan Mental: Harus Ada Korban Dulu

Lifestyle

Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita

Membaca Keinginan Kita Dengan Algoritma

Culture

Connect