Connect with us
Memahami Batasan-batasan Musik Folk dan Perkembangannya di Indonesia

Music

Memahami Batasan-batasan Musik Folk dan Perkembangannya di Indonesia

Folk bukanlah sekedar gitar akustik, pecinta kopi dan penikmat senja.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, musik Folk di Indonesia kembali mulai terdengar suaranya. Banyak orang menyandingkan bahwa musik Folk yang minimalis dengan nada mendayu-dayu sangat cocok dinikmati sembari menyantap secangkir kopi dan ditemani indahnya senja di sore hari.

Namun, apabila kita tarik sedikit ke belakang, Folk sendiri sebenarnya bukan identik dengan musik yang minimalis. Bukan identik dengan pecinta kopi. Dan bukan pula musik yang hanya cocok dinikmati di kala senja datang menghampiri.

Dalam bahasa Inggris sendiri definisi dari Folk merupakan rakyat atau bangsa. Apabila kita hubungkan definisi tersebut dengan musik disebut beraliran Folk, kata kunci rakyat tersebut lah yang menjadi patokan identik dari aliran musik ini. Mengutip dari tulisan Rachel Clare Donaldson dengan judul Music for The People: The Folk Music Revival and American Identity, 1930 – 1970, musik Folk sebenarnya memiliki kekuatan di liriknya yang sangat kerakyatan. Lirik yang dihasilkan oleh musik beraliran Folk ini didominasi oleh suara-suara rakyat yang seolah-olah bercerita akan keluh kesahnya dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Mungkin beberapa dari kalian pasti familiar dengan musisi-musisi Amerika seperti Peter Seeger, Bob Dylan, atau kelompok musik Nash & Young. Yap! Ketiga musisi tersebut adalah sedikit dari beberapa musisi Amerika yang mulai mempopulerkan aliran musik Folk ini di rancah dunia.

Perkembangan musik folk di Indonesia

Di Indonesia sendiri, sebenarnya musik Folk memiliki sejarah yang cukup panjang dan kuat dalam perkembangannya. Dibandingkan dengan aliran musik popular lainnya seperti Pop, Blues atau pun Jazz, Folk sendiri memiliki penggemarnya tersendiri.

Kepopuleran musik Folk Indonesia diawali oleh Gordon Tobing pada tahun 1965, di mana dirinya berhasil membawakan musik Folk Indonesia di acara Press Fest Jerman.

Apabila kita sebutkan beberapa nama seperti Noor Bersaudara, Trio Bimbo, Lemon Trees, Gipsy, atau bahkan Guntur Soekarnoputra, mungkin kalian masih belum bisa menyadari betapa bersejarahnya musik Folk di Negara Indonesia ini. Akan tetapi, bagaimana dengan nama-nama besar seperti Iwan Fals, Doel Sumbang atau mungkin Ebiet G Ade? Yap! Mereka bertiga adalah musisi besar Indonesia yang mengusung musik dengan aliran Folk.

Masih belum sadar juga bagaimana besarnya perkembangan musik Folk di Indonesia? Mungkin untuk kalian yang lahir di tahun 2000 ke atas masih cukup asing dengan nama-nama yang kami sebutkan sebelumnya. Tapi bagaimana dengan Endah N Rhesa? Pasti tahu dong! Endah N Rhesa merupakan salah satu musisi indie, duo gitaris dan bassis, yang berhasil menggebrak musik Folk di kancah permusikan Indonesia, terlebih dengan target pendengar yaitu anak-anak muda. Selain Endah N Rhesa, adapula beberapa nama hits musisi Folk lainnya yang kini sedang naik daun, seperti Rusa Militan, Mr. Sonjaya, Dialog Dini Hari, Stars and Rabbit, Payung Teduh, Banda Neira, Jason Ranti, Junior Somantri, Adithia Sofyan, dan masih banyak lagi.

Musik Folk adalah tentang lirik dan penyampaian, bukan sekedar akustik, pecinta kopi atau bahkan penikmat senja

Dari beberapa nama yang kita sebutkan sebelumnya, tentu kalian tahu beberapa musisi tersebut. Saya pun yakin kalian saat ini semakin bertanya-tanya, “Kok mereka termasuk musik Folk sih? Padahal kan ada yang seperti Jazz, Blues, Pop bahkan mirip-mirip ke musik Hardcore”.

Seperti yang sudah ditekankan sebelumnya, Musik Folk sendiri merupakan musik yang ‘cukup minimalis’ dan dikombinasikan dengan sedikit teknik monolog dengan lirik yang terdengar seperti bercerita. Beberapa dari nama-nama musisi tersebut bahkan menggunakan lirik yang menyerupai sajak yang apabila dinyanyikan sebenarnya tidak begitu bernada, tapi masih sangat enak untuk dinikmati. Musisi-musisi yang mengukuhkan musik mereka dengan tipikal Folk memiliki sebuah keresahan yang ‘cukup spesifik’ untuk mereka sampaikan, bukan hanya untuk pendengar mereka saja, tetapi bisa saja ditujukan untuk ‘pendengar-pendengar’ lainnya.

Disamping itu semua, tidak bisa dipungkiri bahwa aliran atau nuansa musik seorang musisi sangat sulit untuk dikukuhkan sebagai aliran tertentu. Bukan hanya itu, bahkan definisi dari aliran atau nuansa musik pun kini semakin melebar. Salah satunya tentu saja musik Folk ini yang kini sangat identik dengan pecinta kopi dan penikmat senja.

Untuk membantu kita lebih memahami musik yang seperti apa sebenarnya Folk tersebut, berikut akan kami berikan kutipan dari artikel Vice yang mewawancari 3 musisi folk; Harlan Boer, Haikal Azizi dan Galih Nugraha Su terkait apa itu musik Folk.

Harlan Boer mengatakan bahwa musik Folk adalah musik rakyat di mana pada tahun 1960-an musisi-musisi di Amerika Serikat membawakan musik minimalis dengan gitar akustik yang berisikan lirik-lirik kondisi sosial-politik saat itu. Sedangkan menurut Haikal Azizi, musik Folk adalah musik yang memiliki lirik berkaitan dengan sosial kultural, simpel dan relatable dengan kehidupan sehari-hari. Lalu yang terakhir, pendapat Galih Nugraha Su terkait musik Folk adalah musik dengan aliran apapun itu, Jazz, Metal, Blues, Rock, Punk ataupun yang lainnya, asalkan itu adalah musik masyarakat yang memiliki identitas dari satu kelompok masyarakat.

Dengan makna yang begitu luas, dan persepsi yang cukup beragam, kata kunci dari musik Folk itu sendiri adalah ‘rakyat’. Musik ‘rakyat’ seperti apa yang termasuk ke dalam musik Folk? Itu semua kembali ke persepsi kalian masing-masing. Paling tidak, semoga sedikit pemaparan di atas bisa membantu kalian semua untuk memahami sedikit lebih dalam tentang apa itu musik Folk, dan tentu saja menyadari betapa besarnya sejarah dan perkembangan musik Folk di Negara kita ini, Indonesia.

Contributor of Cultura Magazine, an introvert Brit-pop guy. Speak-less, write more, and more, and more, and more.

Click to comment

Leave a Reply

Connect