Connect with us

TV

Melihat Kegagalan Game of Thrones Season 8

Serial terbaik sepanjang sejarah televisi dan juga serial dengan ending paling mengecewakan.

Sebagai salah satu serial paling populer tentunya sangat wajar bila ada ekspektasi tinggi bagi musim kedelapan Game of Thrones. Bagaimana tidak? Musim kedelapan ini adalah penutup serta klimaks dari permainan takhta yang sudah berlangsung begitu lama atau lebih tepatnya selama 11 tahun, 8 season dan 73 episode. Ada berbagai respon dan reaksi yang berbeda-beda dalam menanggapi musim kedelapan ini. Namun, secara garis besar, para penggemar Game of Thrones menarik sebuah kesimpulan yang sama; yaitu musim kedelapan mengecewakan dan gagal memberikan penutup yang sepantasnya. Ada rasa tidak puas bahkan kemarahan terhadap bagaimana penyelesaian dari serial yang diadaptasi dari novel G.R.R Martin ini. Lalu apa sebetulnya yang memicu kemarahan serta kekecewaan para penggemar setia Game of Thrones? Berikut adalah pandangan serta analisa mengenai kegagalan Game of Thrones musim kedelapan.

Konsistensi karakter

Salah satu elemen yang membuat Game of Thrones spesial dan unggul dari serial lainnya adalah banyaknya variasi karakter yang ditawarkan. Setiap karakter di dunia GoT membawa karakteristik serta kompleksitas mereka masing-masing. Kompleksitas yang dimaksud adalah setiap karakter memiliki keunikan, latar belakang, serta motivasi mereka masing-masing. Motivasi yang berbeda-beda bahkan menimbulkan benturan atau konflik yang membuat jalan cerita semakin menjadi menarik. Selain itu, tidak ada protagonist utama di serial ini sehingga penonton dapat bersimpati dan memilih sendiri dari prespektif karakter siapa penonton akan mengikuti jalan cerita. Kompleksitas karakter membuat karakter di dunia Game of Thrones terasa sangat nyata dan relatable dengan kehidupan nyata sehingga mudah disukai. Ada sebuah kesalahan fatal yang menghilangkan daya tarik utama serial Game of Thrones di musim kedelapan, yaitu perubahan serta hilangnya konsistensi karakteristik mayoritas karakter di serial ini.

Karakter yang sudah dibangun sekian tahun mendadak berubah menjadi karakter yang penonton tidak kenal sebelumnya. Hal ini menghilangkan simpati serta kepedulian penonton pada karakter karena merasa seperti menonton karakter yang berbeda. Ada beberapa contoh yang bisa diambil jika melihat di musim kedelapan ini. Salah satunya adalah karakter Tyrion yang diperankan oleh Peter Dinklage. Bisa dibilang Tyrion adalah salah satu karakter paling pintar bahkan genius di dunia Game of Thrones. Dengan kepintarannya Tyrion bahkan menjadi salah satu karakter favorit penonton. Di musim kedelapan ini, aksi serta keputusan yang diambil oleh Tyrion patut dipertanyakan bahkan bisa dibilang jauh dari pintar sehingga berakibat fatal. Perubahan yang secara tiba-tiba terjadi ini menimbulkan jarak serta renggangnya simpati penonton pada karakter Tyrion. Lebih parah lagi, perubahan ini tidak terjadi pada satu atau dua karakter tetapi pada mayoritas karakter penting yang ada di dunia penceritaan (Daenerys, Sansa, Bran, Arya, Cersei). Penonton seakan seperti melihat karakter yang berbeda dengan tampilan yang sama, penonton merasa asing dan seperti belum mengenal karakter yang sudah mereka ikuti selama beberapa tahun.

Selama ini serial Game of Thrones memegang reputasi tinggi atas keberaniannya dalam memberikan sebuah kejutan dan bahkan bisa dibilang tidak ada karakter yang aman karena bisa menjadi korban kapan saja. Kemarahan para penggemar Game of Thrones dimulai pada episode ketiga “The Long Night” ketika Night King melakukan penyerbuan ke Winterfell. Salah satu momen terbesar di Game of Thrones ini menunjukan hilangnya keberanian para penulis atau showrunner dalam menulis cerita yang realistis. Seharusnya ada banyak korban jiwa dalam perang ini, apalagi melihat kata pembantaian lebih cocok untuk menggambarkan perang ini. Banyak adegan dimana karakter sudah terpojok tetapi tanpa alasan yang jelas selalu berhasil selamat. Setiap karakter seperti memakai ‘plot armor’ yang melindungi mereka dari berbagai bahaya. Keberadaan plot armor menjadi fatal karena menghilangkan nilai nyawa yang biasanya sangat berharga di serial ini. Rasa takut karena kehilangan karakter favorit menjadi hilang karena rasa aman yang diberikan dari plot armor. Dampak dari episode ini bahkan merambat pada episode-episode berikutnya sehingga membuat adegan kematian terasa tidak terlalu penting dan gagal memberikan dampak yang kuat seperti musim-musim sebelumnya.

Game of Thrones season 8: The finale series has received the lowest ratings

Game of Thrones season 8: The finale series has received the lowest ratings (Image: Express Online)

Surprise

Penggunaan kejutan/surprise secara berlebihan tanpa memperhatikan relevansi pada jalan cerita juga menjadi salah satu sumber kegagalan Game of Thrones musim ini. Sebuah twist dapat terjadi jika sudah disiapkan atau disetup sebelumnya. Tanpa sebuah setup maka yang tercipta adalah sebuah surprise namun bukan sebuah twist. Penggunaan surprise dalam elemen cerita bisa dibilang menjadi sebuah hal yang buruk. Mengapa? Contohnya jika pada akhir serial Game of Thrones muncul sebuah alien, maka itu bisa dikategorikan sebagai sebuah surprise karena tidak ada relevansi dan tidak pernah di setup sebelumnya tetapi menimbulkan efek surprise. Harus diingat surprise merupakan bagian dari twist tetapi twist berbeda dengan surprise.

Musim kedelapan Game of Thrones sepertinya lebih mengincar reaksi penonton dari berbagai surprise yang diberikan. Adegan seperti ketika Arya membunuh Night King, Daenerys membakar King’s Landing, Daenerys mengeksekusi Varys, Bran menjadi raja Westeros memang memberikan efek kejutan tetapi terasa janggal karena sebetulnya didasari oleh pembuatan ‘surprise’. Hal ini menjadi fatal karena demi menimbulkan reaksi sepertinya logika dari dunia penceritaan dilupakan. Hilangnya kepedulian membuat cerita yang utuh tentunya sangat terasa bagi penonton.

Memotong jumlah episode

Sebagai penulis sekaligus showrunner dari Game of Thrones, David Benioff dan D.B Weiss bisa dibilang merupakan orang yang paling bertanggung jawab dalam kegagalan musim kedelapan. Keputusan mereka untuk memotong jumlah episode di musim ini menjadi 6 episode berdampak fatal bagi plot serta keutuhan cerita. Pacing cerita pada serial ini terasa begitu cepat dan terburu-buru sehingga merusak kelancaran penyampaian cerita. Yang lebih mengecewakan lagi HBO sebetulnya sudah memberikan dukungan sepenuhnya untuk memberikan musim penuh berupa 10 episode tetapi ditolak oleh David Benioff dan D.B Weiss. Jika penonton mendapatkan sepuluh episode sepertinya cerita akan terasa lebih utuh dan tidak menggantung seperti ini.

Payoff

Penurunan kualitas sebetulnya sudah mulai terlihat dari musim keenam ketika cerita di serial sudah membalap materi di novel karangan G.R.R Martin. David Benioff dan D.B Weiss terbukti tidak bisa memikul beban berat untuk menulis sebuah cerita lanjutan tanpa didasari materi novel G.R.R Martin. Mayoritas setup atau misteri yang dibuat pada musim-musim awal tidak terjawab dan dilupakan begitu saja. Padahal bagi para penggemar setia banyak yang sudah memiliki teori serta ekspektasi masing-masing mengenai beberapa misteri di serial ini. Penonton malah diberikan sebuah payoff yang rasanya tidak pernah disetup sebelumnya. Hal inilah yang membuat akhir dari serial Game of Thrones jauh dari kata memuaskan apalagi karakter Bran yang mendadak menjadi raja. Naiknya karakter Bran sangat tidak masuk akal dan terasa sangat tidak tepat sehingga menimbulkan kemarahan penonton. Masih banyak pertanyaan yang sepertinya tidak akan pernah didapatkan jawabannya kecuali menunggu novel karangan G.R.R Martin.

Teknis

Dari segi teknis, episode ketiga sempat mendapat kritik pedas karena adegan yang terasa terlalu gelap sehingga mengurangi detail dan mengganggu pengalaman menonton penonton. Berbagai kesalahan tekhnis fatal juga banyak muncul sehingga semakin memperlihatkan kurangnya kepedulian terhadap kualitas pada musim kedelapan ini. Salah satu kesalahan tekhnis paling populer adalah kemunculan cup coffee di salah satu scene di episode keempat. Namun, tidak hanya kesalahan tekhnis tersebut yang muncul di musim kedelapan ini. Pada episode pertama kesalahan continuity rambut Daenerys juga sempat disadari oleh penonton. Pada episode keempat kembali kesalahan continuity terjadi ketika Jaime memeluk Cersei, terlihat tangan Jaime yang seharusnya terbuat dari logam kembali menjadi tangan manusia. Bahkan pada episode penutup muncul tidak satu tetapi tiga botol plastik dalam satu adegan dan shot yang berbeda-beda.

Dalam beberapa tahun kebelakang Game of Thrones memang memegang gelar sebagai salah satu serial terbaik sepanjang sejarah televisi. Namun jika melihat kualitas serta penutup musim kedelapan sepertinya Game of Thrones lebih cocok jika memegang gelar sebagai serial dengan akhir paling mengecewakan. Musim kedelapan Game of Thrones mengkhianati dukungan serta loyalitas para penggemar Game of Thrones yang sudah sangat antusias menunggu akhir dari cerita ini. Sangat disayangkan sebuah perjalanan panjang hingga delapan tahun lamanya harus diakhiri pada akhir yang mengecewakan. Tidak hanya mengecewakan penonton, musim kedelapan ini juga tidak menghargai kerja keras para aktor dan aktris yang luar biasa. Sepertinya kita harus bersyukur karena serial Game of Thrones telah hadir memberikan hiburan tidak tergantikan pada musim awal dan melupakan kekacauan musim kedelapan. Opsi paling baik bagi para penggemar yang masih penasaran pada segudang pertanyaan yang belum terjawab sepertinya adalah menunggu novel karangan G.R.R Martin. Setelah ini masih ada rencana beberapa prequel serta spin-off dari dunia Game of Thrones, mari berharap saja bahwa instalasi selanjutnya tidak berakhir pada nasib yang sama.

GOT Season Ratings by Tomatometer

GOT Season Ratings by Tomatometer

Season 8 Reviews

Episode 1 – Winterfell

Episode 2 – A Knight of The Seven Kingdoms

Episode 3 – The Long Night

Episode 4 – The Last of The Stark

Episode 5 – The Bells

Episode 6 – The Iron Throne

Click to comment

Leave a Reply

Connect