Connect with us
Islam Aboge

Culture

Masyarakat Onje dan Kebanggaan Masa Lalu yang Mulai Dilupakan

Mengenal praktik Islam Aboge dari salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa.

Apa saja yang kita ketahui dari Purbalingga? Purbalingga terkenal akan industri knalpotnya, yang merupakan sentra produksi knalpot terbesar di Indonesia. Mungkin orang-orang juga akan menyebut produksi bulu mata dan rambut palsu yang menjadi andalan. Lebih jauh lagi, kabupaten di provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Pemalang, Banjarnegara, dan Banyumas ini juga menyimpan suatu fakta sejarah dan nilai budaya yang tinggi.

Bersamaan dengan menggeliatnya industri dan kota yang sedang bertumbuh di berbagai sektor, nilai-nilai tradisional ini masih terus dilakukan dan eksis hingga hari ini.

16 kilometer dari pusat kota, desa adat Onje menyajikan bukti-bukti adanya tradisi yang masih eksis tersebut. Dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya Kabupaten Purbalingga sekaligus salah satu tempat penyebaran agama Islam pertama di Jawa, tentu saja tempat ini lebih dari sekadar menarik untuk ditelisik lebih jauh.

Masyarakat Onje Islam Aboge

Cikal Bakal Kabupaten Purbalingga

Saat ini, wilayah Onje terletak di Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Ketika memasuki Desa Onje, kita akan disambut dengan hamparan sawah-sawah hijau dan angin semilir yang sejuk. Di bagian pintu masuk desa, rumah-rumah masih cukup jarang, baru kemudian di bagian yang lebih dalam warga mulai banyak beraktivitas. Akan dijumpai petani-petani yang memikul hasil tanamnya di sepanjang jalan beraspal, atau anak-anak yang sedang berlarian di siang hari.

Desa Onje dinamai dari nama sebuah tanaman yang sekarang banyak dikenal dengan sebutan “kecombrang”. Saat pertama kali disinggahi, wilayah Desa Onje merupakan hutan belantara dan banyak ditemui tanaman kecombrang. Oleh sebab itulah Desa Onje dinamai demikian. Orang Onje mengklaim dirinya sebagai keturunan langsung Kerajaan Pajang, di mana Ki Tepus Rumput (versi lain Syekh Maulana Maghribi) dihadiahi istri sang Sultan Pajang yang telah hamil sebagai imbalan menemukan cincin sang Sultan. Mereka pun diperintahkan untuk mengurus wilayah Onje.

Situs bersejarah makam Adipati Onje

Situs bersejarah makam Adipati Onje (Photo: YouTube/ Sorot Nuswantoro)

Melalui Babad Onje, ditemukan benang merah antara Adipati Onje dengan klan Arsantaka, yang merupakan penguasa Purbalingga yang pertama. Teks Babad Onje pula lah yang kemudian dijadikan rujukan untuk menulis Babad Purbalingga. Hal ini cukup menarik, karena selain fenomena ini menegaskan keberadaan masyarakat Onje pada masa lampau, para bupati Purbalingga juga merujuk kepada Babad Onje untuk mengesahkan asal-usulnya.

Sejarawan Sugeng Priyadi menyebutkan bahwa hal ini merupakan salah satu bentuk legitimasi kekuasaan. Pada masa lampau di wilayah Purbalingga dan sekitarnya, terdapat tiga pusat kekuasaan, yakni Onje, Wirasaba, dan Cahyana. Kabupaten Banyumas telah terlebih dahulu mengklaim pusat peradaban tua Wirasaba sebagai asal usul wilayahnya. Selain lebih tua dari pusat peradaban Onje, wilayah Wirasaba memang lebih dekat ke Banyumas. Hal ini telah disadari Purbalingga sehingga mereka harus mencari pusat lain yang masih bebas dari klaim.

Islam Aboge dan Awal Penyebaran Islam di Jawa

Jika hanya dilihat sekilas, wilayah dan masyarakat Onje tidak terlihat berbeda dengan masyarakat desa lainnya. Tidak seperti suku adat Baduy yang mengenakan busana khas, ataupun desa adat Penglipuran Bali yang memiliki rumah dengan gaya unik dan senada.

Yang menjadikan masyarakat adat Onje unik selain sejarahnya sebagai cikal bakal Purbalingga adalah tradisi keagamaan yang dianut. Tradisi ini dikenal dengan sebutan Islam Aboge. Banyak orang salah kaprah menyebut tradisi ini sebagai suatu aliran. Namun, mulai dari Kepala Desa Onje hingga Kyai Onje sepakat menegaskan bahwa Aboge bukan merupakan suatu aliran tersendiri. Aboge lebih merupakan suatu akidah atau keyakinan.

Masjid R. Sayyid Kuning

Masjid R. Sayyid Kuning (Photo: visitpurbalingga.comO

Praktik Aboge di Onje dilaksanakan di Masjid Raden Sayyid Kuning. Menurut Kyai Maksudi yang merupakan keturunan Raden Sayyid Kuning sekaligus sesepuh Onje, masjid ini sudah ada sejak tahun 1500. Para wali yang singgah ke Onje pun terkejut ketika mengetahui sudah terdapat masjid di sana. Raden Sayyid Kuning sebagai salah seorang wali mengajarkan ajaran-ajaran Islam seperti cara wali yang lain. Untuk memudahkan para warga dalam sistem penanggalan hari besar dalam Islam, dikenalkanlah akronim Aboge. Cara perhitungan untuk menentukan hari raya ini berdasar Al-Qur’an Surat Yunus ayat 5.

Aboge merupakan akronim dari Alif Rebo Wage. Untuk memahami maksudnya, kita harus mengenal sistem peritungan bulan yang mereka gunakan untuk menghitung jatuhnya awal puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Penganut Aboge menggunakan sistem satu windu (delapan tahun) untuk menyelesaikan satu periode waktu.

Satu windu terdiri dari tahun Alif, He, Jim Awal, Za, Dal, Be, Wawu, dan Jim Akhir. Untuk hari ditentukan pasaran yang terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing. Terkait sistem ini, hari pertama pada tahun Alip jatuh pada hari Rebo Wage. Begitu juga selanjutnya, tahun Ha pada Minggu Pon (Hakadpon), tahun Jim Awal pada Jumat Pon (Jimatpon), tahun Za pada Selasa Pahing (Zasahing), tahun Dal pada Sabtu Legi (Daltugi), tahun Be pada Kamis Legi (Bemisgi), tahun Wawu pada Senin Kliwon (Waninwon), dan tahun Jim Akhir pada Jumat Wage (Jimatge). Pada tahun ini (1442 H), masyarakat Aboge Onje memulai 1 Ramadan pada hari Rabu Kliwon, yakni tanggal 14 April 2021.

Perhitungan Aboge ini selain untuk menentukan awal waktu puasa dan Idul Fitri, juga digunakan untuk penentuan hari besar lainnya, seperti contohnya hari pernikahan. Di luar sistem penanggalan yang sedikit berbeda, praktik keagamaan Aboge Onje ini sama dengan para muslim lainnya.

Menurut Kyai Maksudi, Islam Aboge juga tidak bisa disamakan dengan Islam Kejawen, meskipun pengaruh lokalitas Jawa masih tercermin dalam beberapa tradisi masyarakat Onje. Contohnya, budaya penggelan (mengarak nasi yang dibungkus daun pisang) yang biasa dilakukan untuk menunjukkan rasa syukur dan mandi di sungai Kedung Pertelu untuk membersihkan jiwa raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Selain diterapkan di Onje, Aboge juga berkembang luas di daerah sekitar Kabupaten Banyumas, seperti Jatilawang, Ajibarang, Rawalo, Pekuncen, Karanglewas, dan Wangon.

Desa Onje Pada Masa Modern

Jika orang awam saat ini melewati Desa Onje, tidak akan disangka bahwa wilayah ini dipercaya merupakan salah satu tempat awal penyebaran Islam di Jawa, sekaligus cikal bakal berdirinya Kabupaten Purbalingga. Memang situs-situs bersejarah di Onje telah diberi label sebagai cagar budaya, namun nuansa kesejarahan dan keistimewaan tempat ini masih belum dirasakan.

Acara Grebeg Onje

Acara Grebeg Onje (Photo: jatengprov.go.id)

Selain terdapat berbagai situs bersejarah, tradisi Islam Aboge dan ritual-ritual keislaman di Onje juga menjadikannya sebagai desa religi. Hingga tahun 2019 lalu masih dilaksanakan acara Grebeg Onje, yakni rangkaian ritual dan perayaan menyambut bulan Ramadhan. Namun, sejak 2020 lalu acara ini tidak dilanjutkan karena dana dari APBD untuk menyelenggarakan peristiwa ini tidak diturunkan lagi.

Potensi pariwisata Desa Onje sebenarnya telah disadari pemerintah, namun langkah-langkah lanjutan belum kunjung dilakukan. Sungguh disayangkan apabila anak-anak di sana telah melupakan kebanggaannya sebagai seorang warga Onje. Rasa bangga ini akan dengan sendirinya memunculkan sense of belonging, sehingga keunikan dan kelebihan desa ini senantiasa terjaga.

Dengan keistimewaan dan kebesaran wilayah ini di masa lalu, sudah sepantasnya perawatan dan pengembangan yang lebih intensif digalakkan, supaya generasi muda di masa depan tidak melupakan sejarahnya.

Baca Juga: Upacara Penyempurnaan Kematian Dalam Rambu Solo’

Click to comment

Photo via Press Photo via Press

Spirit of Ecstasy: Mengenal Simbol Ikonik Rolls-Royce

Lifestyle

Lada Katokkon Jagoan Pedas dari Toraja Lada Katokkon Jagoan Pedas dari Toraja

Lada Katokkon, Jagoan Pedas dari Toraja

Culture

Ma Badong Toraja Ma Badong Toraja

Upacara Penyempurnaan Kematian Dalam Rambu Solo’

Culture

Lolai Toraja Lolai Toraja

Berkunjung ke Lolai, Bertemu Negeri di Atas Awan

Travel

Advertisement
Cultura Live Session
Connect