Connect with us
Malcolm & Marie Review
Netflix

Film

Malcolm & Marie Review: Pertengkaran dan Kritik Terhadap Jurnalis Film Hollywood

Brutal dan berani dalam mengeksplorasi pertengkaran pasangan dan cara berpikir kritikus film masa kini.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Malcolm Elliott (John David Washington) baru saja pulang dari premier film garapannya sebagai sutradara. Dari gelagat dan caranya menyalakan lagu dan menari bahagia, tampaknya filmnya menuai banyak pujian dan respon positif.

Sebaliknya, kekasihnya yang seorang model, Marie (Zendaya), terlihat tidak begitu bersemangat dan hanya merokok sambil mendengarkan ocehan Malcolm tentang kritikus kulit putih dari LA Times dan IndieWire. Bukannya merayakan malam yang seharusnya penuh dengan pencapaian dan kesuksesan, Malcolm dan Marie justru terjebak dalam adu argumen yang tak ada habisnya.

Malcolm & Marie Review

Netflix

“Malcolm & Marie” merupakan Netflix Original Movie yang telah lama dinanti perilisannya oleh media dan pecinta film sejak akhir tahun 2020. Disutradarai dan ditulis oleh Sam Levinson, anehnya film ini justru menuai banyak kritik dan memengaruhi rating film yang akhirnya standar saja. Mari kita bahas aspek terbaik dan kekurangan dari film “Malcolm & Marie”.

Sinematografi Minimalis dan Artistik Dipadukan Dialog yang Intens

“Malcolm & Marie” menggunakan film Kodak hitam putih untuk kamera sepanjang proses pengambilan gambarnya. Levinson memilih konsep ini untuk membuat filmnya tidak lekang oleh waktu. Marcell Rev telah berhasil menghadirkan sinematografi yang artistik dan menggugah dengan segala minimalisme yang kita saksikan dalam setiap frame. Ada pergerakan kamera yang repetitif pada setiap babak, kemudian diberi transisi yang mulus ketika perspektif hendak diubah. Ada juga adegan kaca yang menunjukan refleksi Malcolm dan Marie dengan cara paling smooth untuk memperlihatkan ekspresi keduanya di ruangan yang berbeda.

Segala aspek dalam film ini bisa dibilang minimalis. Mulai dari waktu yang cerita yang hanya mengambil momen semalam suntuk, lokasi yang hanya di satu rumah, dan hanya dua aktor yang menjadi bintang utama. “Ruang kosong” yang tampak banyak dalam produksi film ini diisi dengan naskah yang padat, ramai, dan intens. Dijamin keminimalisan yang kita saksikan tak lama terasa sangat penuh hingga membuat kita susah bernafas.

Malcolm & Marie

Netflix

Kesempatan Besar Zendaya dan Washington Tunjukan Akting Terbaik

Selain sinematografi dan konsep produksi, film ini tampaknya menjadi panggung sandiwara besar dimana Zendaya dan Washington secara totalitas menunjukan akting berkualitas mereka. Kita bisa melihat betapa Washington berusaha mempelajari karakter yang Ia mainkan; seorang sutradara kulit hitam di Hollywood. Ocehan dan opini yang Ia lontarkan terasa sangat otentik dan tulus dari hati. Membayangkan Levinson yang menulis naskah, penampilan Washington terasa seperti dirinya berhasil “kerasukan” Levinson dengan segala pemikiran sebagai seorang sutradara.

Zendaya juga kembali menunjukan kualitas akting terbaiknya, namun bukan sesuatu yang baru. Bahkan karakter yang Ia mainkan terasa seperti versi alternatif dari Rue dalam serial “Euphoria”, yang juga ditulis oleh Sam Levinson. Dimana Ia kembali berperan sebagai mantan pecandu obat-obatan terlarang dengan kepribadian yang sensitif. Bahkan ada satu dialog yang sudah sangat tidak asing lagi dan benar-benar sudah pernah dilontarkan oleh Rue.

Malcolm & Marie

Netflix

Pertikaian Pasangan yang Melelahkan dan Kritik untuk Jurnalis Film Hollywood

Terkadang argumen yang muncul antara pasangan dimulai dari satu kesalahan yang tampak sepele. Ketika tidak ada yang mau mengalah, akhirnya adu argumen yang tak ada habisnya akan terus berlanjut selama berjam-jam.

Dengan segala rasa cinta dan pengetahuan kita tentang seorang kekasih, semakin banyak kata yang mampu kita lontar untuk menyakiti bagian hati paling dalam, paling sensitif dari pasangan kita. Salah satu solusi yang seharusnya bisa diambil, namun sangat susah ditahan adalah; berhenti. Ya, berhenti melontarkan argumen. Sayangnya Malcolm dan Marie tidak mau berhenti.

Penampilan Malcolm dan Marie dalam film ini merupakan definisi tepat akan kiasan ‘benci untuk mencintai’. Emosi yang disajikan dalam film ini cukup repetitif dan naik turun. Ada saatnya keduanya berargumen dan saling menyakiti, namun menit berikutnya mereka bisa tertawa atau mulai bermesraan. Kemudian tidak selesai di situ, keduanya akan selalu menemukan alasan untuk memulai pertengkaran lagi.

Poin inilah yang banyak ditemukan di media lain sebagai kekurangan terbesar dalam film “Malcolm & Marie”. Tergantung seberapa kuat kita mampu melihat pasangan saling beradu mulut, bagi beberapa orang tampaknya film ini menimbulkan rasa lelah dan cukup menguras emosi secara negatif. Bayangkan satu adegan argumen ikonik dalam film Marriage Story (2019) diulang-ulang selama lebih dari dua bahkan tiga kali dalam sebuah film; kurang lebih seperti itulah pola pada dialog dan interaksi antara Malcolm dan Marie dalam kisah ini.

Apa mungkin karena kritik dari karakter Malcolm pada jurnalis film Hollywood yang membuat media-media tersebut mengkritik balik film ini? Salah satu poin menarik yang disebutkan oleh Malcolm dalam film ini bagaimana setiap jurnalis sekarang memiliki kecenderungan untuk memasukan opini tentang representasi ras atau politik dalam ulasan filmnya, daripada memberikan ulasan yang lebih teknikal sebagai sebuah buah karya seorang sutradara. Sebetulnya poin ini cukup menarik, berani, dan jujur dari sebuah naskah yang ditulis oleh seorang sutradara.

“Malcolm & Marie” tak diragukan lagi memiliki produksi film yang artistik dan tak akan lekang oleh waktu. Namun, bisa jadi cukup melelahkan sebagai tontonan buat orang yang tak kuat dengan materi pertikaian pasangan atau secara umum kurang menikmati genre film romansa.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect