Connect with us
Madame Claude Review
Netflix

Film

Madame Claude Review: Kisah Pemilik Jasa Prostitusi Kelas Atas di Paris

Biografi Madame Claude yang kaya kisah, namun tak satupun tersampaikan dengan sempurna.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Fernande Grudet atau lebih dikenal sebagai Madame Claude adalah seorang pimpinan jasa prostitusi kelas atas di Paris, Perancis pada tahun 1960-an. Ada sekitar 300 wanita yang dipekerjakan oleh Madame Claude, untuk memenuhi hawa nafsu costumer eksklusif mulai dari politikus, petinggi negara, hingga selebritis. John F. Kennedy, mantan presiden Amerika Serikat bahkan pernah meminta pekerja seks yang mirip dengan istrinya, Jackie, pada Madame Claude saat Ia berkunjung ke Paris.

Sebagian besar orang mungkin meremehkan Madame Claude dan “koleksi” perempuan yang ada dalam katalognya, namun posisi tersebut memungkinkan wanita satu ini terlibat dalam berbagai lingkaran informasi yang sangat bermanfaat; sekaligus berbahaya. “Madame Claude” merupakan film biografi dari Perancis yang hendak memperkenalkan kita lebih dalam lagi tentang sosok kontroversial satu ini.

Madame Claude Review

Akting Terbaik Karole Rocher, Reuni dengan Garance Marillier

Bagi kalian yang sudah menonton “Raw” (2016), pastinya sudah tidak asing lagi dengan aktris Garance Marillier. Ia kembali menampilkan kualitas akting terbaiknya dalam “Madame Claude” sebagai Sidonie, perempuan dari keluarga kaya yang hanya ingin bersenang-senang dengan bekerja untuk Madame Claude. Hal ini tak lepas dari casting crew yang secara tepat memilih Garance untuk berperan sebagai Sidonie.

Penokohan karakter pendukung satu ini sangat cocok dengan penampilan fisik dan aura yang dimiliki oleh sang aktris; menawan, berkelas, dan keras kepala. Meski penampilannya di “Raw” masih lebih monumental dari film satu ini, karena memang tidak terlalu banyak hal yang bisa dieksplorasi dari karakter Sidonie.

Sementara Karole Rocher sebagai Madame Claude juga tak kalah maksimal mengeksekusi perannya. Secara teknis, Ia mampu mengeksekusi setiap adegan dengan emosi dan membawakan dialog dengan tepat. Namun, naskah yang diberikan padanya memang kurang berpihak padanya untuk secara all out mempresentasikan sosok Madame Claude.

Jangkauan Kisah yang Terlalu Luas Ditambah Editing yang Berantakan

Salah satu tantangan membuat film biografi adalah bagaimana merangkum kehidupan seorang publik figur dalam film dengan durasi 2 jam. Seorang penulis naskah harus benar-benar memiliki hati untuk menulis ulang kisah publik figur tersebut, memilih peristiwa yang tepat, kemudian menghidupkannya ke layar lebar dengan pesan yang tersampaikan dengan jelas; apa alasan sosok ini patut kita tonton biografinya?

“Madame Claude” memiliki jangkauan naskah yang terlalu luas, dari tahun 1960-an hingga 1996, disajikan dengan lompatan waktu bertubi-tubi namun tak ada satupun peristiwa yang digaris bawahi secara monumental.

Secara garis besar, film ini ibarat rangkuman sejarah dari karir Madame Claude yang tidak artistik. Belum lagi teknik dragging yang terasa setiap kali ada adegan pesta yang hanya memperlihatkan orang menari atau adegan dewasa yang sekedar mengulur waktu. Editing yang diaplikasikan dalam produksi film ini juga cukup berantakan. Dimana ada dua hingga tiga kejadian yang terjadi bersamaan dalam satu babak, namun beberapa kejadian berakhir dengan plot hole secara visual maupun narasi.

Bicara soal narasi, film ini menghadirkan voice over dari Madame Claude sepanjang film. Namun penepatan narasi tidak rapi, beberapa bahkan tertumpuk dengan adegan yang sedang ada dialognya.

Seharusnya penulis naskah lebih spesifik tentang apa yang hendak Ia sampaikan melalui filmnya. Bisa tentang prinsip hidup Madame Claude yang sebetulnya cukup eksentrik dan menarik (bagaimana Ia memiliki disorientasi pada cinta dan tahu benar kelemahan pria sekalipun memiliki status sosial tinggi), atau sebuah peristiwa yang monumental dalam sejarah karir Madame Claude.

Contohnya seperti “Darkest Hour” (2017) yang hanya mengekspos Winston Churcill ketika dihadapkan sebuah keputusan krusial saat Perang Dunia II, atau “The King’s Speech” (2010) yang hanya fokus pada persiapan pidato pertama King George VI. “Madame Claude” merupakan sebuah usaha yang dipaksakan untuk merangkum keseluruhan hidup figur satu ini yang akhirnya tidak membawa penonton kemana-mana.

Lepas dari penampilan Karole Rocher dan Garance Marillier yang maksimal dalam segi akting maupun casting, “Madame Claude” tidak menyuguhkan naskah yang monumental seperti film biaografi pada umumnya. Durasi 2 jam yang rushing sekaligus dragging, menjadi sebuah kesempatan yang disia-siakan untuk naskah dengan narasi yang bersifat general dan kurang spesifik.

Click to comment

Love and Monsters Review Love and Monsters Review

Love and Monsters Review: Petualangan Joel Melawan Monster Demi Cinta

Film

Two Distant Strangers Two Distant Strangers

Two Distant Strangers Review

Film

Thunder Force Thunder Force

Thunder Force Review: Film Superhero dengan Cita Rasa Parodi

Film

The Serpent Review The Serpent Review

The Serpent: Mengikuti Perjalanan Charles Sobrahj Memburu Hippie Traveler

TV

Advertisement
Cultura Live Session
Connect