Connect with us
Ulasan film Lovely Man
Karuna Pictures

Film

Lovely Man Review: Kisah Cahaya dan Ayahnya yang Seorang Waria

Film tentang hubungan orang tua dan anak yang belum pernah diangkat sebelumnya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Lovely Man merupakan film drama garapan sutradara Teddy Soeriaatmadja. Rilis pada tahun 2011 silam, salah satu film terbaik Indonesia ini sempat dikecam oleh beberapa pihak. Lovely Man tidak bertengger lama di bioskop untuk dinikmati oleh masyarakat lokal. Namun hal tersebut tak memengaruhi kesempatan film ini memenangkan banyak penghargaan. Mulai dari penghargaan Citra sebagai Best Film, Maya Awards, Indonesia Movie Awards, dan masih banyak penghargaan dari berbagai festival film internasional lainnya.

Lovely Man bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Cahaya yang nekat pergi ke Jakarta untuk bertemu sang ayah. Dari awal Ia sudah menyakinkan dirinya bahwa akan menanggung semuanya sendiri jika menemukan kekecewaan. Namun, bertemu dengan sang ayah yang ternyata seorang waria adalah hal terakhir yang bisa Cahaya pikirkan.

Premis Cerita Menarik dan Berani

Lovely Man memiliki premis cerita yang sangat original, menarik, dan berani. Pada dasarnya film ini hendak mengangkat isu hubungan anak dan ayah. ‘Father issue’ merupakan salah premis yang sudah banyak diangkat dalam sebuah karya film, baik film lokal maupun film internasional. Namun, hubungan ayah yang seorang waria dengan anak perempuannya merupakan premis baru yang dekat dengan realita. Banyak pria yang sudah menikah hingga punya anak namun tetap tidak bisa lepas dari jati dirinya sebagai pecinta sesama jenis dan lebih dominan naluri femininnya.

Ulasan film Lovely Man

Karuna Pictures

Tak hanya memiliki premis yang menarik, Teddy Soeriaatmadja mampu mengembangan cerita menjadi bermakna secara natural. Plot utama dalam film ini sebetulnya sangat sederhana, yaitu kunjungan Cahaya ke Jakarta karena hendak bertemu dengan ayahnya, Syaiful alias Ipuy. Kemudian kita akan melihat Ipuy yang sedang memiliki masalah pribadi lepas dari kunjungan anaknya yang tidak terduga. Cahaya juga ternyata tak sekadar lari ke Jakarta karena ingin bertemu ayahnya saja. Lovely Man merupakan film drama yang cukup didominasi dengan dialog bermakna antara ayah dan anak. Mungkin sedikit kekurangannya adalah penulisan dialog Ipuy yang masih generik sebagai sosok ayah, menasehati anaknya secara satu arah.

Konflik dan masalah sebagai bumbu dramatisir dimasukan dengan komposisi yang tepat. Tidak kemudian mengeksploitasi drama bahagia maupun tragedi, Lovely Man akan meninggalkan perasaan manis getir pada akhir ceritanya.

Menampilkan Panorama Malam Kota Jakarta yang Melankolis

Selama 1 jam 16 menit, kita akan mengikuti “petualangan” Cahaya dan Ipuy di kesunyian malam kota Jakarta. Film ini menggunakan teknik pengambilan gambar footage yang kasar untuk memberikan kesan realistis. Dengan plot utama yang maju dan kronologis, cukup serupa konsepnya dengan film Before Trilogi dan Ada Apa dengan Cinta 2, namun dengan problem yang lebih dramatis. Misalnya ketika adegan Ipuy dikejar preman, kamera seakan ikut berlari mengikuti Ipuy dan dibiarkan bergoyang dengan cukup kasar. Namun, ada satu adegan ketika Ipuy dan Cahaya sedang makan di warung, kamera terlalu goyang padahal keduanya sedang duduk sambil berbincang-bincang saja.

Lovely Man memiliki latar Jakarta malam hari yang sunyi dan melankolis. Secara visual didominasi dengan warna oranye remang-remang lampu kota, ada juga panorama pasar malam dengan lampu warna-warni yang khas, serta tempat-tempat umum dengan lampu putih yang kontras dengan gelap malam. Emosi melankolis dan tragis dalam film ini semakin kuat dengan iringan musik latar klasik, Clair de Lune oleh Debussy.

Penokohan Ipuy dan Cahaya yang Ikonik

Ipuy dan Cahaya bisa jadi merupakan salah satu duo ikonik dan unik dalam sebuah film. Serupa dengan Mathlida dan Léon dalam film Léon: The Professional (1994). Penokohan Ipuy dan Cahaya direalisasikan dalam berbagai aspek yang sempurna. Ipuy tampil menonjol dalam setiap frame dengan gaun mini merahnya yang ketat, dipadukan dengan sepatu hak warna serasi, riasan menor dan rambut palsu. Kontras dengan penampilan Cahaya yang lugu dengan jilbab putih.

Tak hanya kontras secara penampilan, keduanya juga memiliki karakteristik yang bertolak belakang. Namun kita bisa merasakan, ikatan antara anak dan orang tua dari kedua karakter ini. Meski Ipuy tampil dengan dandan wanita, Ia tetap berhasil mewujudkan perannya yang juga sebagai seorang ayah. Donny Damara berhasil mendalami penokohan Ipuy yang feminin dan genit, namun tidak berlebihan. Bahkan saat Ia tidak mengenakan riasan wanita, kita masih bisa melihat sosok Ipuy sebagai jati dirinya.

Sementara Cahaya merupakan sosok lugu yang secara mengejutkan cukup terbuka pandangannya. Ia diceritakan baru saja lulus sekolah dari pesantren, membuat kita memiliki ekspektasi bahwa banyak hal baru yang Ia temui. Bertemu dan menerima ayahnya yang seorang waria bisa jadi pengalaman pertama Cahaya dalam menerima berbagai kemungkinan dalam kehidupan ini. Cahaya banyak bertanya pada ayahnya, menunjukan rasa ingin tahu yang kemudian disertai dengan timbal balik yang menunjukan keterbukaan.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect