Connect with us
Lamalera Paus, Tradisi dan Kecaman
Photo by Rudolf Kirchner on Pexels

Culture

Lamalera: Paus, Tradisi dan Kecaman

Lautan bagi masyarakat Lamalera adalah ruang hidup, ruang yang hidup.

Berbagai upaya pendokumentasian tentang orang-orang Lamalera mudah ditemui dalam berbagai medium. Saya pun tertarik untuk menuliskannya setelah menonton film dokumenter Hunters of the South Seas: The Whale Hunters of Lamalera (2014).

Will Millard melakukan perjalanan menuju Lamalera. Tujuannya adalah memotret kebiasaan masyarakat lokal dalam berburu ikan-ikan besar. Lamalera terletak di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Serupa dengan kebanyakan daerah di Indonesia, Lamalera tumbuh dengan kearifannya sendiri. Salah satu aktivitas yang menjelma menjadi praktik kebudayaan mereka adalah berburu paus oleh kaum laki-laki. Perburuan ini dilakukan sekitar bulan Mei-Agustus. Selama periode itu, paus melakukan migrasi besar-besaran dan melintasi laut Sawu.

Millard jelas datang dengan membawa pengetahuan tentang bagaimana tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Lamalera bertentangan dengan gaung World Wild Foundation (WWF) juga International Whaling Commission (IWC) yang melarang perburuan paus dengan keras. Ia menyatu dengan masyarakat lokal dan terbaca sangat hati-hati dalam menampilkan dirinya di hadapan orang-orang yang ia ajak berbincang. Dalam salah satu dialog, ia menggunakan diksi “Kawan-kawan saya di barat sana…..” untuk mengirim signal pada lawan bicaranya bahwa kawan-kawannyalah yang bepikiran demikian.

hunters of the south seas

Masyarakat setempat telah menyadari bahwa sesuatu yang mereka namakan tradisi telah mendapat label terlarang dan dikecam oleh banyak orang di luar mereka. Namun bagi mereka, upaya terbaik merawat tradisi adalah dengan terus mempraktikkannya, semaksimal mungkin. Meskipun, harus menghadapi kenyataan bahwa mereka memasuki masa-masa kritis generasi penerus lemafa (juru tikam/penombak). Juru tikam adalah orang yang berdiri di ujung perahu dan memegang bambu tajam untuk menaklukkan raksasa lautan. Lemafa bukanlah orang sembarangan, ia dipilih menurut adat.

Ini tentang hidup dan mati. Mereka melakukan perburuan paus dengan secara sadar tahu konsekuensi terburuk adalah mati. Rofinus sebagai salah satu yang disorot oleh Millard mengungkapkan bahwa satu dari banyak motif yang masih menggerakkan mereka adalah pemahaman bahwa paus ditangkap agar masyarakat setempat memiliki asupan makanan untuk bertahan hidup. Hal ini mengamini analogi bahwa kalau tidak ada paus, mereka bisa saja mati karena persoalannya adalah perut. Paus dan hewan-hewan laut lain yang diperoleh selama lemafa mampu memberikan “penghidupan” lebih dari biasanya bagi masyarakat yang hidup di atas tanah yang tandus, kurang lebih seperti itu.

Tapi bagi masyarakat Lamalera dan para lemafa, berburu paus tidak hanya sesederhana persoalan perut semata. Sebagai “tradisi”, leluhur mereka telah mempraktikkan perburuan ini bahkan sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam salah satu narasi, sebelum abad ke-18 paus memang telah lebih dulu diburu di Jepang dan Indonesia.

Jika masuk musim perburuan, tradisi memberi ruang atas relasi sosial dan spritiualitas yang saling berkait kelindan. Fatris MF dalam buku Kabar dari Timur menuliskan bahwa dalam setiap lapis daging hasil tangkapan di laut ada hak janda, anak-anak yang ditinggal mati bapaknya, hingga laki-laki tua yang kehilangan anggota tubuh sehingga tidak bisa lagi mencari “kehidupan” di laut. Begitulah masyarakat Lamalera memaknai kolektivitas.

Lautan bagi masyarakat Lamalera adalah ruang hidup, ruang yang hidup. Ia mampu memberi respon atas ritual yang dijalankan tidak sempurna ataupun gesekan-gesekan sosial yang terjadi diantara masyarakat. Wujudnya, bisa macam-macam. Misalnya, tidak adanya paus yang melewati wilayah mereka. Begitulah masyarakat Lamalera membaca lautan.

Cara pandang ini pun yang dapat ditangkap pada narasi Aloysius dalam dialognya di Hunters of the South Seas: The Whale Hunters of Lamalera. Laut baginya adalah bapak berhati ibu. Meskipun, ayahnya dahulu adalah seorang Lemafa dan gugur di lautan. Tidak banyak ingatan yang ia punya tentang ayahnya. Namun saat ini ia telah meneruskan posisi ayahnya sebagai lemafa, tentu dengan segenap ketakutan dan keberanian yang dipupuk bersamaan. Aloysius juga telah kehilangan Maria, istrinya. “Ketika saya menurunkan tombak, saya bilang Maria….tanganmu Maria…,” ungkapnya. Begitulah, lautan adalah ruang hidup, ruang pertemuan.

Hari ini, sudut pandang yang sama perlu didudukkan bersama untuk melihat para lemafa dan orang-orang yang bergantung pada mereka.

Click to comment

Leave a Comment

Museum Musik Indonesia Malang Museum Musik Indonesia Malang

Museum Musik Indonesia dan Dominasi Rock di Malang

Music

Sejarah dan Tren Kopi di Indonesia Sejarah dan Tren Kopi di Indonesia

Kopi Bukan Hanya Soal Rasa

Culture

Skena Musik Malang Skena Musik Malang

Skena Musik Malang “Antara Idealisme dan Realita”

Music

Hari Keju Cheddar Tillamook Hari Keju Cheddar Tillamook

Selamat Hari Keju Cheddar!

Culture

Advertisement
Connect