Connect with us
Senigma
Suara-suara Gelap (dari Ruang Dapur)

Culture

Kota dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Suara-suara Gelap (dari Ruang Dapur) “memotret” 381 pengalaman narasi kekerasan & pelecehan seksual yang dialami perempuan-perempuan di Kota Makassar.

Ruang bukan hanya perkara tempat manusia tinggal. Lebih dari itu, ruang menjadi wilayah pergumulan yang kompleks untuk berbagai kepentingan, arena bagi pertarungan hidup yang menuntut siapa yang kalah dan siapa yang menang, siapa yang dieluk-elukkan dan siapa yang harus terasing. Sebegitu tidak sederhanya persoalan ruang itu sesungguhnya.

Kurang lebih, pertarungan semacam itulah yang bisa disaksikan dalam pementasan teater “Suara-suara Gelap (dari Ruang Dapur)” oleh Kala Teater. Pementasan ini merupakan bagian dari proyek Kota dalam Teater (City in Theater Project). Sebelum dipentaskan di Makassar, Suara-suara Gelap (dari Ruang Dapur) telah lebih dulu dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Suara-suara Gelap (dari Ruang Dapur)

Photo: Adriyani Ayu

Proyek dalam rangka membaca isu-isu yang terjadi di kota ini ditelusuri melalui riset terhadap warga kota. Suara-suara Gelap (dari Ruang Dapur) yang disutradarai oleh Shinta Febriany ini “memotret” 381 pengalaman narasi kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan-perempuan di Kota Makassar. Sehingga, berujung pada pengalaman traumatik. Pengalaman ini beragam, ada yang dialami secara langsung, juga ada yang didengar atau disaksikan. Mulai dari begal, pencurian, cat calling, dicabuli oleh kawan sendiri, payudara diremas, dan lain-lain.

Shinta Febriany meminjam gagasan Sartre tentang theater of fact sebagai strategi penciptaan teater dokumenter. Keseluruhan perangkat penelitian yang digunakan, mulai dari wawancara, penyebaran kuesioner, dan perekaman dari berbagai literatur lainnya diramu menjadi sebuah seni gerak yang estetis. Melalui imajinasi yang disandingkan dengan data, potongan-potongan pengalaman saling berkait kelindan satu sama lain.

Menerka Jawaban

Shinta Febriany melemparkan pertanyaan untuk setiap mata yang menyaksikan pementasan ini. Tentang, bagaimana Makassar memberi rasa sedih dan cemas pada warganya? Bagaimana Makassar menyusupkan Pengalaman traumatik ke diri warganya? Bagaimana upaya mereka yang mengalami trauma untuk sembuh dan kembali percaya pada sesama manusia? Bagaimana upaya untuk kembali mencintai kota di mana mereka hidup sementara kota tersebut justru sibuk membesar-besarkan dirinya sendiri?

Tentang bagaimana Makassar memberi rasa sedih, cemas, dan memberi trauma tersendiri pada warganya, pementasan ini dibuka dengan langkah kaki yang diseret oleh lima orang pementas yang tadinya berada masing-masing di kiri dan kanan panggung. Mereka bertemu di tengah, namun kemudian saling berlalu, sembari tetap melangkah dengen menyeret kaki. Lebih dari lima menit, satu-satunya bunyi bersumber dari suara tapak kaki bersepatu yang diseret, tidak cukup “nyaring” namun terdengar. Kemudian terdengar “Saya Ariana. Umur saya 22 tahun. Saya mahasiswi. Saya pernah dicabuli oleh teman sendiri”, lalu bunyi kaki dihentak-hentakkan dengan keras dan kencang. Satu per satu kesedihan dan kecemasan dinarasikan, bersaut-sautan dengan hentakan kaki.

Kala Teater

Photo: Adriyani Ayu

Bagi perempuan, sulit untuk mengekspresikan tekanan dan kesedihan atas pengalaman buruk yang pernah dialami, bahkan untuk sekadar bercerita. Butuh waktu dan energi besar untuk mengubah suara lirih menjadi teriakan yang terdengar. Tidak mudah untuk mendapatkan rangkulan, bahkan dari sesama perempuan itu sendiri. Perempuan lain adalah kawan namun juga bisa menjelma lawan. Suara-suara seperti “ya, salah sendiri tidak bisa jaga diri”, “ya, salah sendiri kenapa pulang malam”, dan banyak lagi tidak menyisakan harapan, bahkan menyudutkan. Sering kali, konstruksi gender tentang perempuan yang mengakar kuat di masyarakat kita serupa panci di wajah para pementas, penghalang.

Sepanjang pementasan, suara-suara sefrekuensi dari pukulan panci dan hentakan kaki mampu membuat suara lirih jadi jauh lebih terdengar, suara-suara yang gelap jadi lebih terang. Rasa-rasanya, suara-suara ini mampu menjawab pertanyaan tentang bagaimana upaya mereka yang mengalami trauma untuk sembuh dan kembali percaya pada sesama manusia, Tentu tidak mudah pulih secara psikologis, namun akan sangat membantu secara sosial ketika solidaritas bersama diperkuat. Ini juga menjadi kritik atas kesadaran individual selama ini. Bahwa, kapasitas seseorang sesungguhnya dibangun dari konstruksi atas diri sendiri, juga oleh relasinya terhadap orang lain.

Wasengngi ro matanre Bulu’e Latimojong (Kukira Gunung Latimojong itu tinggi),
Lebbipi ro tanrena minasakku lao ri idi’ (Ternyata lebih tinggi lagi harapanku padamu)

Potongan lirik di atas diambil dari lagu berbahasa bugis berjudul Bunga Ripalla. Lagu yang dinyanyikan oleh salah seorang pementas memantulkan kota dalam pemaknaannya sebagai ruang tinggal yang hidup. Dengan segala kompleksitas di dalamnya, ia terus berias untuk mengkonstruksi kesadaran identitas bagi setiap warganya. Akhirnya, pertanyaan tentang bagaimana upaya untuk kembali mencintai kota di mana mereka hidup dijawab dengan pongah oleh kota itu sendiri.

Lirihnya suara tentang kekerasan dan pelecahan seksual, tidak menghilangkan fakta bahwa ketimpangan relasi kuasa yang menuntut orang lain menjadi korban itu ada. Sialnya, setiap orang punya potensi yang sama untuk menjadi korban dan pelaku. Hal ini juga yang ditunjukkan pada peran protagonis dan antagonis yang dilakonkan secara bergantian oleh orang yang sama pada pementasan ini.

Faktanya, narasi tentang kekerasan dan pelecehan seksual ini memang tidak pernah selesai. Olehnya, salam hormat kepada mereka yang berani bersuara, pun segala aktivisme yang membantu menyuarakannya. Termasuk melalui pementasan estetis semacam ini. Kita tentu bersepakat bahwa, tidak ada pembenaran untuk orang-orang yang menganggap hal-hal semacam ini adalah sederhana dan biasa saja, baik secara sosial maupun secara “konstitusional”.

Click to comment

Leave a Comment

Salad Salad

Sejarah Salad dan Kaitannya dengan Stereotip Gender

Culture

kasus kesehatan mental kasus kesehatan mental

Ironi Isu Kesehatan Mental: Harus Ada Korban Dulu

Lifestyle

Senigma: Into Wanderland Senigma: Into Wanderland

Senigma: Into Wanderland, Pameran Seni Untuk Apresiasi Kesehatan Mental

Lifestyle

Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita

Membaca Keinginan Kita Dengan Algoritma

Culture

Connect