Connect with us
Sejarah dan Tren Kopi di Indonesia
Photo by Marta Dzedyshko from Pexels

Culture

Kopi Bukan Hanya Soal Rasa

Selain soal rasa, kopi juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Sejarah panjang penjajahan dan arus keluar masuk banyak orang dari berbagai Negara telah membawa segenap kebiasaan dan ragam produk sekunder dan primer dari Negara lain. Salah satunya adalah Kopi. Dalam berbagai catatan, kopi pertama kali dibawa oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC).

Artikel Kajian Budaya Minum Kopi Indonesia menuliskan bahwa kopi pertama kali dibawa masuk ke Indonesia dengan niatan VOC untuk memecah monopoli perdangan kopi di dunia oleh Arab. Daerah yang pertama kali ditanami kopi adalah Batavia, hingga ke Sukabumi dan Bogor. Baru setelah permintaan meningkat, lokasi penanaman kopi pun terus disebar ke berbagai wilayah di nusantara.

Hingga menjelang abad ke-20, berbagai perkebunan kopi di berbagai wilayah di dunia (termasuk Indonesia) mendapat serangan hama kopi. Serangan hama ini berdampak besar pada produksi kopi yang digenjot oleh pemerintah Belanda pada saat itu. Hal ini yang membuat Belanda memutuskan untuk beralih untuk membudidayakan varietas kopi Robusta yang lebih resisten terhadap hama-hama tertentu.

Penyebaran kopi ini juga berdampak secara meluas ke berbagai sektor, misalnya kelengkapan infrastruktur. Sebelum perang dunia kedua dan kopi sedang berjaya di nusantara, Jawa Tengah adalah daerah yang memiliki sistem transportasi rel yang unggul. Transportasi ini lah yang dikembangkan untuk mengangkut biji-biji kopi menuju kapal untuk diekspor ke berbagai Negara. Bagaimana tidak, Indonesia telah menjadi salah satu penghasil biji kopi terbaik di dunia. Bukan hanya di Jawa Tengah, melainkan merambah ke Aceh, Toraja, Flores, Lampung, dll.

Dari kebun, kopi diolah untuk disajikan di berbagai tempat. Ada banyak terminologi yang digunakan untuk merujuk pada tempat untuk menikmati sajian kopi dan menu-menu lain yang melingkupinya. Misalnya, warung kopi, angkringan, café, coffee shop maupun kedai kopi. Hari ini, kopi memang menemui trennya.

Berbagai kafe menjamur dimana-mana. Kafe berasal dari kata café dalam bahasa Perancis yang juga berarti kopi. Café terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Jika dulunya café atau yang dalam hal ini merujuk pada kedai kopi, memiliki tampakan yang selalu “sederhana” dan lebih sering ditemui di tepi-tepi jalan, maka hari ini kedai kopi telah banyak yang menyatu dengan tempat-tempat besar seperti pusat-pusat perbelanjaan, kampus, tempat wisata, dll. Menu yang ditawarkan pun bukan hanya kopi semata, melainkan juga telah menyajikan makanan ringan juga makanan berat.

Tren Coffee Shop

Photo by Helena Lopes from Pexels

Bagian dari Gaya Hidup

Toffin, sebuah perusahaan penyedia solusi bisnis, merilis hasil risetnya bahwa hingga pertengahan 2019 jumlah kedai kopi di Indonesia telah mencapai sekitar 2950 gerai. Namun jumlah ini tidak termasuk kedai kopi independen maupun yang kedai-kedai kopi tradisional yang jumlahnya juga terserak di berbagai daerah. Jumlah yang terus meningkat ini memunculkan berbagai jenis perubahan dan peningkatan kuantitas dan kualitas.

Misalnya, berbagai perubahan yang dilakukan oleh gerai kedai kopi bukan hanya dari segi tampakan dan menunya, melainkan juga dari segi fungsinya. Kedai kopi akhirnya menjadi ruang untuk mengeratkan interaksi sosial. Tidak sedikit masyarakat hari ini yang memindahkan obrolan-obrolan di kelas, di tempat kerja, di rumah ke kedai kopi. Sehingga yang dijual bukan hanya produk namun juga moment dan experience. Berbagai bentuk komodifikasi dilakukan hingga membentuk kopi dan ruang-ruang untuk menikmatinya sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat hari ini.

Sebagai gaya hidup, terminologi yang berbeda antara warung kopi dengan kafe misalnya, juga menunjukkan ada perbedaan yang cukup bisa diamati. Misalnya, di warung kopi (warkop) lebih banyak dikunjungi oleh kaum pria, sedangkan untuk kafe lebih fleksibel namun sekilas nampak lebih banyak dikunjungi oleh kaum perempuan. Warkop terlihat lebih maskulin dan kafe terlihat lebih feminin. Selain itu, kafe juga tidak hanya menyediakan minuman berjenis kopi tapi juga minuman-minuman lainnya sampai makanan berat.

sejarah dan tren kopi

Salah satu brand coffee to go | Photo via Pinterest/lily_badariah

Beberapa tahun terakhir juga semakin banyak coffee to go dan es kopi kekinian yang menjamur di setiap jalan. Sebut saja Tuku, Kulo, Janji Jiwa, dan masih banyak lagi. Berkembangnya tren kopi kekinian belakangan ini juga karna didukung dengan perkembangan teknologi. Selain menjadi wadah untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi, juga menjadi sarana yang dimanfaatkan pelaku usaha untuk memasarkan produk-produk kopinya. Dengan adanya GoFood dan GrabFood juga menjadi peluang bagi orang-orang untuk mulai berbisnis coffee-to-go. Walaupun masih banyak minuman kopi yang rasanya jauh dari sempurna. Entah karena hanya mengikuti tren untuk meraup cuan, atau memang pemahamannya tentang produk kopi masih minim?

Kopi pada akhirnya bukan hanya menggambarkan kehidupan masyarakat urban, namun ia juga berelasi dengan nilai-nilai spiritual yang masih terus dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia hari ini. Di Keraton Solo misalnya, pemberian sesajen kepada Kyai Petruk di hari selasa dan kamis. Kopi adalah salah satu sesaji yang diberikan dengan kepercayaan bahwa kopi adalah minuman dewa.

Click to comment

Leave a Comment

hippies hippies

Hippies: Melawan dengan Rambut Gondrong

Culture

7 Ide Masak Dan Bahan Praktis Untuk Stok Selama Self Quarantine 7 Ide Masak Dan Bahan Praktis Untuk Stok Selama Self Quarantine

7 Ide Masak Dan Bahan Praktis Untuk Stok Selama Self Quarantine

Food & Drink

Hikmah Pandemi Corona Hikmah Pandemi Corona

Apa yang Bisa Kita Petik dari Sebuah Pandemi?

Lifestyle

Menjaga Kewarasan Saat Harus Di Rumah Aja

Lifestyle

Advertisement
Connect