Connect with us
Senigma
feminisme

Lifestyle

Komersialisasi Isu Genitalia dan Rasa Rendah Diri Perempuan

Ada banyak produk yang diciptakan untuk perempuan tapi tak semua benar-benar dibutuhkan.

Ada banyak merek sabun pembersih organ genitalia yang tersedia di pasaran, seluruh segmentasinya adalah perempuan. Kita tidak menemukan produk serupa untuk lelaki meski sama-sama memiliki organ genitalia. Begitu pula klinik kecantikan yang menawarkan jasa mencabut bulu tubuh baik di ketiak, kaki, tangan, bahkan di area genitalia. Kita juga mengenal produk pencabut bulu yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Sebagian besar dari kita bahkan dibiasakan untuk menjaga organ genitalia tetap wangi sejak bayi. Hampir semua orangtua memakaian bedak di organ genitalia bayi-bayinya.

Perempuan telah terbiasa dituntut untuk menjaga kebersihan. Ini memicu rasa rendah diri perempuan ketika merasa dalam kondisi yang tidak semestinya. Kondisi ini dilegitimasi oleh masyarakat. Terdapat standar yang ditetapkan mengenai kondisi organ genitalia tersebut meski dasarnya tidak jelas. Akhirnya ketika ada perempuan yang dianggap tidak memenuhi standar tersebut, ia dianggap kurang. Kurang cantik, kurang bersih, kurang sehat, dan lain sebagainya.

Masih hangat dan menjadi perbincangan masyarakat kita ketika seorang figur publik membicarakan organ genitalia perempuan. Ia menyamakan perempuan itu dengan ikan asin. Hal itu ditimpali pula oleh sang host yang ikut tertawa dan merendahkan si perempuan. Host acara tersebut, yang juga perempuan, menunjukkan sikap superiornya karena merasa tidak seperti si perempuan. Perempuan yang menjadi objek pembicaraan kedua figur publik itu dianggap kotor dan tak mampu menjaga kebersihan. Sang host menanyakan secara detail apakah si perempuan tidak membasuh organ genitalnya dengan air. Si bintang tamu menjawab bahwa perempuan itu hanya menggunakan tissue.

Konten ini bukan saja tak etis muncul di ranah publik tetapi juga sangat merendahkan orang yang dibicarakan. Dalam waktu singkat, konten itu viral. Namun publik fokus pada nilai sensasinya. Publik lupa kalau pembicaraan seperti ini tidak hanya ada di dalam konten figur publik. Kita pun acapkali mendengarnya di kehidupan sehari-hari. Ejekan atau lawakan yang seksis dilontarkan tak hanya dari lelaki tetapi juga dari sesama perempuan.

Kita terbiasa menilai perempuan dari organ genitalnya. Ketika akan menikah, ia dipertanyakan apakah sudah pernah berhubungan seksual atau belum. Ketika sudah melahirkan, ia dianggap akan berkurang kualitasnya karena sudah longgar. Begitu pula industri kosmetik yang terus menyerang rasa rendah diri perempuan dengan strategi marketingnya. Perempuan dianggap harus mulus tanpa bulu di tubuhnya, harus kencang organ genitalianya, dan harus putih selangkangannya. Padahal semua kualitas yang disebutkan itu tidak berkaitan dengan kesehatan.

Perempuan tidak membutuhkan sabun untuk membersihkan organ genitalianya. Sabun justru dapat meematikan bakteri baik yang hidup di dalam organ genitalia perempuan. Saat bakteri baik mati maka perempuan akan lebih mudah mengalami infeksi, gatal-gatal, dan iritasi. Penggunaan sabun justru menyuburkan pandangan bahwa genitalia adalah organ yang kotor dan harus dibersihkan secara ekstra. Namun faktanya organ genitalia tidak kotor. Ia memiliki mekanisme untuk membersihkan dirinya sendiri. Kondisi alaminya harus dijaga dan itu semua hanya dapat diraih bila dibasuh dengan air.

Penggunaan bedak, sekalipun bedak bayi, juga berbahaya bagi organ genitalia. Tahun 2016, lebih dari 1000 perempuan menuntut Johnson & Johnson karena dianggap menutupi fakta kalau produknya berisiko kanker. Bayi-bayi perempuan yang dibesarkan dengan kebiasaan membubuhkan bedak ke organ genitalianya sebagian terus melakukan hal tersebut hingga dewasa. Akhirnya perempuan-perempuan ini mendapat vonis kanker. Bedak bayi tentu saja dibuat dari bahan yang aman. Tetapi produk itu akan tetap aman bila digunakan di bagian tubuh yang seharusnya, bukan di organ genitalia.

Salah kaprah lain kita temukan pada jenis kain yang dibuat untuk menjadi celana dalam. Perempuan berpikir menggunakan baju dalam yang terbuat dari sutra akan memberikan kesan seksi sekaligus mewah. Namun penggunaan sutra justru berbahaya bagi organ genitalia. Sutra tidak dapat menyerap keringat. Kondisi ini justru dapat mendorong pertumbuhan jamur dan hal tidak menguntungkan lainnya pada organ genitalia. Seharusnya perempuan lebih memilih kesehatannya dibanding merasa cantik.

Rasa rendah diri perempuan yang dimanfaatkan oleh industri sudah seharusnya membangkitkan kesadaran perempuan untuk memberdayakan diri. Perempuan tidak membutuhkan sabun khusus genitalia, mencabut bulu, memakai baju dalam dari sutra, menggunakan bedak, hingga melakukan operasi plastik demi mendapatkan organ genitalia yang cantik. Selama organ genitalia itu sehat dan dirawat dengan semestinya, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bila perempuan berhenti membeli atau memakai produk-produk yang tidak diperlukan lagi dan permintaan menurun maka industri pun akan berhenti menawarkannya.

Selain itu cara lain memerangi komersialisasi isu genitalia adalah membicarakannya secara terbuka. Bukan label kecantikan atau keindahan yang seharusnya dilekatkan kepada organ genitalia melainkan kesehatan. Kita perlu menjadikan isu genitalia sebagai bagian dari edukasi, bukan komersialisasi. Ketika perempuan telah teredukasi dengan baik maka ia akan meninggalkan pilihan yang merugikan dirinya.

Click to comment

Leave a Comment

kasus kesehatan mental kasus kesehatan mental

Ironi Isu Kesehatan Mental: Harus Ada Korban Dulu

Lifestyle

Senigma: Into Wanderland Senigma: Into Wanderland

Senigma: Into Wanderland, Pameran Seni Untuk Apresiasi Kesehatan Mental

Lifestyle

Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita Melihat Algoritma Membaca Keinginan Kita

Membaca Keinginan Kita Dengan Algoritma

Culture

buzzer politik buzzer politik

Mana yang Lebih Dipercaya, Buzzer atau Media?

Culture

Connect