Connect with us
kembang api
Photo by Rahul from Pexels

Culture

Kembang Api: Bahaya di balik Gemilang Cahaya

Apakah kembang api hanya soal spirituliatas, keindahan atau bising suara?

Perayaan peralihan tahun 2019 ke 2020 telah usai. Ada banyak ragam cara perayaan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Mulai dari refleksi diri, menuliskan resolusi, dan tentu saja menyaksikan keindahan kembang api.

Waktu terus bergulir dan gelegar kembang api pun telah redup. Namun kembang api telah mewujud sebagai bagian kecil dari simbol perayaan dan kebahagiaan. Selain tahun baru, kembang api juga kerap ditemukan di perayaan idul fitri, event, dan perayaan agama-agama besar lainnya, hingga pada berbagai perayaan hari jadi.

Konon, kembang api berawal dari penciptaan bubuk mesiu. Bubuk mesiu ini dihasilkan dari potassium nitrat, batu bara dan sulfur yang dimasukkan secara bersama-sama ke dalam bambu. Bahan-bahan yang ada di dalam bambu inilah yang ketika dibakar akan memunculkan ledakan.

Pada narasi lain yang mirip, kembang api berelasi dengan kepercayaan spiritual orang China dahulu untuk mengusir roh jahat. Pemaknaan mengusir ini disimbolisasi melalui ledakan yang dihasilkan dari bambu yang dilempar ke dalam api. Ledakan disebabkan karena di dalam bambu tersebut terdapat kantung udara berlubang yang suhunya akan semakin meningkat ketika distimulus dengan suhu yang juga lebih tinggi (panas) dari luar.

Narasi tentang upaya untuk mengusir roh jahat ini dipertahankan oleh orang-orang China dahulu dalam perayaan tahun baru China ataupun Imlek setiap tahunnya. Hal ini tentu berelasi dengan harapan-harapan positif yang terus dirawat. Seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi kembang api terus dipertemukan dengan berbagai rasionalitas masyarakat hari ini. Mulai dari simbol spiritualitas sampai hanya sebatas simbol hiburan semata.

Zat Berbahaya

Namun apakah kembang api hanya soal spirituliatas, keindahan dan atau bising suara? Tentu tidak. Agency for Toxic Subtances and Disease Registry menulis tentang perchlorates. Percholates atau perklorat adalah zat kimia reaktif yang menjadi bahan utama peledak, juga kembang api. Bahkan, pemberi energi yang besar hingga roket dari pesawat ulang alik dapat terdorong diperolah salah satunya dari perklorat ini.

Dampak perklorat terhadap lingkungan tentu tidak bisa diabaikan. Karena pada dasarnya, sekalipun kemungkinan perklorat dapat hanyut terbawa air hujan, namun pada beberapa daerah yang kontur geografisnya kering akan dapat mengendapkan perklorat dalam kurun waktu yang lama.

Lantas bagaimana efek perklorat terutama bagi kesehatan setelah menjadi salah satu zat penyusun dalam kembang api? Dalam hal ini, kembang api yang dilontarkan ke langit akan melepaskan suara, warna, dan tentu saja memecah zat-zat kimia yang ada di dalamnya. Perklorat adalah salah satu komponen penyusun kembang api yang akan turun saat warna-warna indah menghias langit. Ia akan menyatu dengan udara dan tentu saja akan sangat mudah dihirup.

Sebagai contoh, salah satu festival yang popular dan ditunggu-tunggu oleh umat Hindu di India. Festival ini dikenal dunia sebagai perayaan Diwali. Perayaan ini adalah Festival Cahaya yang digelar pada bulan Ashwajuya menurut kalender Hindu. Cahaya adalah simbol harapan umat manusia, maka tak heran jika festival ini disajikan dengan gelimang cahaya. Selain dari lampu, cahaya juga diperoleh dari letupan kembang api.

Berdasarkan artikel penelitian Characterization of PM10 and Impact on Human Health During the Annual Festival of Lights (Diwali) yang dimuat di Journal of Health and Pollution, kembang api yang diletuskan selama perayaan Diwali menyumbang peningkatan partikel logam yang menyatu dengan udara. PM10 dalam penelitian ini merujuk pada logam (cadmium, kobalt, besi, seng dan nikel), Ion (kalsium, amonium, natrium, kalium, klorida, nitrat, dan sulfat) dan beberapa bakteri-bakteri lain yang turut dipelajari selama sepuluh hari pada bulan November 2015 (selama perayaan Diwali).

Selain itu, sebagai metode, penelitian ini juga memperkuat data yang diperoleh dengan merujuk pada survei yang dilakukan di rumah sakit untuk melihat pola karakteristik kesehatan masyarakat yang datang pasca perayaan Diwali. Ditemukan, beberapa penyakit yang meningkat pasca perayaan Diwali adalah sakit kepala, cemas, iritasi, batuk, bersin, bahkan sinusitis.

Adanya relasi positif antara meningkatnya partikel logam di udara dengan kecenderungan pola kesehatan masyarakat di saat yang bersamaan adalah peringatan bersama. Tidak peduli dimana pun tempatnya, apapun gendernya, bagaimanapun motifnya, efek-efek kesehatan yang mungkin timbul pada setiap keterpukauan cahaya kembang api harus selalu diwaspadai.

Click to comment

Leave a Comment

hippies hippies

Hippies: Melawan dengan Rambut Gondrong

Culture

cuci tangan cuci tangan

Bagaimana Sejarah Manusia dalam Menyadari Pentingnya Cuci Tangan?

Lifestyle

Tanaman Kopi di Desa Kahayya Tanaman Kopi di Desa Kahayya

Kahayya: Kopi dan Gerakan Literasi

Culture

Raja Ampat Raja Ampat

Narasi Lain dari Raja Ampat dan Miangas

Culture

Advertisement
Connect