Connect with us
Tanaman Kopi di Desa Kahayya
Tanaman Kopi di Desa Kahayya | Photo: Adriyani Ayu/Cultura

Culture

Kahayya: Kopi dan Gerakan Literasi

Dalam setiap prosesnya, terdengar sunyi yang mungkin terbungkam di tengah konflik agraria dan dalam setiap cangkirnya.

Sejak abad ke-17, masyarakat Sulawesi Selatan telah mengenal kopi. Kopi pertama kali dibawa oleh pedagang Arab yang melakukan interaksi perdagangan dengan Kerajaan Gowa. Selama periode itulah, pengembangan kopi telah dilakukan di sekitar Gunung Lompobattang dan juga di daerah Toraja.

Artikel ilmiah Budidaya dan produksi kopi di Sulawesi bagian Selatan di Abad ke-19 inilah yang mengurai bahwa Sulawesi Selatan telah berperan penting dalam proses produksi dan arus perdagangan kopi di nusantara sejak lama. Kopi di periode tersebut dihasilkan di Kabupaten Pangkajene, Maros, Bantaeng, Sigeri, Sesayya,Bulukumba, Bakungan, Selayar, dan Sinjai. Dari daerah-daerah inilah, arus perdangan internasional terlihat. Diantaranya, menuju Singapura, Belanda, Inggris, Prancis, dan Amerika.

Diantara beberapa daerah yang disebutkan di atas, Kabupaten Bulukumba adalah daerah yang masih terus mempertahankan produksinya hingga hari ini. Salah satu penghasil kopi di daerah ini adalah Desa Kahayya. Dari desa ini dikenal produk Kopi Kahayya.

Kopi Kahayya, sesuai namanya, adalah kopi yang ditanam oleh para petani kopi di Desa Kahayya. Nama Desa Kahayya diambil dari bahasa konjo. Kaha yang berarti kopi dan penambahan partikel “yya” setelahnya adalah penegasan bahwa tanah ini memiliki persebaran kopi yang dominan. Mayoritas jenis kopi yang ditanam di Kahayya adalah varietas Arabika.

Lereng Gunung Bawakaraeng

Lereng Gunung Bawakaraeng | Photo: Adriyani Ayu/Cultura

Desa Kahayya terletak di lereng Gunung Bawakaraeng, salah satu pegunungan yang mengitari Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Kahayya, tepatnya dusun Tabbuakkang adalah dusun yang menjadi pintu masuk Gunung Bawakaraeng ketika memilih jalur pendakian melalui Kabupaten Bulukumba, Kabupaten di ujung selatan, Sulawesi Selatan.

Desa di lereng gunung ini terletak sekitar 1.600 mpdl dengan tiga dusun, yaitu Dusun Gamaccayya, Dusun Kahayya, dan Dusun Tabbuakkang. Jika dari Makassar, butuh waktu sekitar empat jam menuju Kabupaten Bulukumba, kemudian sekitar sejam lebih untuk bisa sampai ke desa ini.

Beberapa tahun lalu, banyak masyarakat yang ingin menuju Desa Tabbuakkang terpaksa harus menaruh kendaraannya berkilo-kilo meter dan memutuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Setahun terakhir ini sudah jauh lebih baik.

Dalam perjalanan, pemandangan yang hijau dari pohon-pohon yang terserak di atas pegunungan, hawa sejuk khas dataran tinggi, kabut yang acap kali turun adalah jeda manis bagi mereka yang terbiasa dengan garangnya perkotaan.

Awalnya, petani kopi di desa Kahayya hanya menjual biji kopi saja. Tentu dengan harga yang rendah. Namun setelah bekerja bersama dengan kawan-kawan komunitas, akhirnya koperasi berhasil didirikan. Mesin roasting bisa mereka manfaatkan dengan baik. Hasilnya, green bean dan Kopi Kahayya dalam bentuk bubuk dengan kemasan yang mumpuni mudah ditemui di banyak kedai kopi di Kabupaten Bulukumba, pun juga di berbagai daerah lainnya.

Produk kopi Kahayya

Produk kopi Kahayya | Photo: Adriyani Ayu/Cultura

Meski segala proses produksi dan distribusi tidak selalu berjalan mulus sesuai harapan, namun suguhan Kopi Kahayya bagi kawan-kawan cukuplah untuk penawar rasa lelah. Sama seperti kopi-kopi lain dari tangan para petani kopi, kopi Kahayya bukan hanya menyoal tentang rasa.

Jika ada yang menyempatkan diri berkunjung ke Desa Kahayya, maka kopi yang mempertemukan orang satu dengan yang lain, berjejaring, dan justru berbuah kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh lebih banyak orang di desa ini adalah satu pemandangan menarik.

Gerakan Literasi

Di dusun Tabbuakkang, terdapat satu rumah baca, Taman Baca Tanjung namanya. Setahu saya, taman baca ini adalah inisiatif warga setempat yang kemudian dibantu oleh beberapa orang yang sudah sering berkunjung ke Kahayya. Di desa ini, orang-orang berdatangan dengan berbagai alasan, entah hanya ingin kabur dari sumpeknya dunia kota, entah penasaran dengan desa yang satu ini, dan sebagainya dan sebagainya. Namun sekali lagi, apapun alasannya, sulit untuk datang ke sini dan tidak disuguhi Kopi Kahayya oleh warga setempat.

Anak-anak Kahayya Belajar bersama dengan Relawan Komunitas

Anak-anak Kahayya Belajar bersama dengan Relawan Komunitas | Photo: Adriyani Ayu/Cultura

Kembali ke taman baca. Hingga hari ini, penyediaan buku, kehadiran para volunteer untuk bermain dan belajar bersama dengan adik-adik di Desa Kahayya, sepenuhnya dibantu oleh kawan-kawan komunitas di Kabupaten Bulukumba. Berjejaring kemudian hadir sebagai modal sosial kuat yang menghidupkan kopi dan taman baca ini.

Tidak jarang, kawan-kawan dari berbagai kedai kopi di Makassar yang datang dengan niatan untuk mengambil biji kopi atau sekadar ingin menyegarkan kepekaan lidah dengan suasana pedesaan yang menyenangkan, juga menyempatkan diri untuk menjadi volunteer di Taman baca Tabbuakkang. Kopi dapat, senyum renyah bahagia anak-anak pun dapat.

Anak-anak Kahayya

Anak-anak Kahayya

Kopi bukan hanya perkara rasa apalagi eksistensi semata. Dalam setiap bijinya, ada usaha dan harapan para petani. Dalam setiap prosesnya, terdengar sunyi yang mungkin terbungkam di tengah konflik agraria dan dalam setiap cangkirnya, ada akumulasi kebahagiaan lain yang tidak berkesudahan.

Related Articles:

Click to comment

Leave a Comment

hippies hippies

Hippies: Melawan dengan Rambut Gondrong

Culture

cuci tangan cuci tangan

Bagaimana Sejarah Manusia dalam Menyadari Pentingnya Cuci Tangan?

Lifestyle

Raja Ampat Raja Ampat

Narasi Lain dari Raja Ampat dan Miangas

Culture

Dataran Tinggi Dieng Dataran Tinggi Dieng

Dieng: Meruwat Anak Gembel, Merawat Tradisi

Culture

Advertisement
Connect