Connect with us
Senigma
hotel mumbai (2019) review indonesia
Credit: Kerry Monteen / Bleecker Street

Film

Hotel Mumbai: Kemiskinan yang Melahirkan Tragedi

Petaka (26/11) yang terjadi selama 12 jam merepresentasikan berbagai agama, ras, dan golongan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Hotel Mumbai adalah sebuah kisah nyata mengenai serangan teroris yang terjadi di India beberapa tahun silam. Sesuai dengan namanya, setting utama film ini berlokasi di Taj Mahal Palace Hotel. Sebenarnya tragedi ini terjadi dalam hitungan hari tetapi sang sutradara menyingkatnya menjadi hitungan jam. Keputusan tersebut ternyata tepat karena Hotel Mumbai berhasil mencapai klimaks. Sutradara Anthony Maras harus berpuas diri atas hasil kerja kerasnya terhadap film ini.

Meski Hotel Mumbai adalah sebuah kisah nyata, sebagian tokohnya adalah fiksi. Arjun (Dev Patel) adalah tokoh utama sekaligus tokoh fiksi yang memegang peranan penting sepanjang film ini. Ia adalah seorang penganut Sikh. Umat agama Sikh menggunakan turban dan menumbuhkan jenggot sehingga orang Barat seringkali tidak dapat membedakannya dengan umat Islam. Arjun adalah gambaran masyarakat miskin di India dimana ia sebagai kepala keluarga dan istrinya yang tengah hamil harus bekerja keras demi keberlangsungan hidup keluarga mereka. Arjun dan sang istri bergantian bekerja dan menjaga anak pertama mereka yang masih bayi. Akibat terburu-buru berangkat kerja, Arjun lupa dan meninggalkan sebelah pasang sepatunya di rumah.

Sebenarnya jika saja Arjun setuju untuk meninggalkan hotel karena tidak membawa sepatu sebagai salah satu aturan berseragam karyawan Hotel Mumbai, ia tidak akan terjebak bersama para tamu. Namun ia bersikeras dan memohon kepada Kepala Chef Hemant Oberoi (aktor gaek Anupam Kher) karena ia membutuhkan. Oberoi lalu meminjamkan Arjun sepatu yang tentu saja kekecilan. Sepatu ini membuat kaki Arjun terluka. Malam itu, Hotel Mumbai kedatangan dua tamu VIP. Tamu pertama adalah pasangan Zahra (Nazanin Boniadi) dan David (Armie Hammer). Sedikit disayangkan tokoh Zahra tidak diperankan oleh perempuan India melainkan aktris berdarah Iran-Inggris. Padahal tokoh Zahra dikisahkan sebagai seorang muslim India. Wajah Zahra sendiri lebih terlihat seperti perempuan Timur Tengah dibanding seperti perempuan Asia Selatan.

Tamu kedua adalah Vasili (Jason Isaacs) seorang pengusaha Rusia yang gemar memesan PSK. Aktor yang sering mendapat peran antagonis ini sebenarnya adalah aktor berdarah Inggris. Tokoh Vasili digambarkan sebagai orang yang menyebalkan di awal film. Caranya bicara benar-benar menjijikkan seperti membicarakan ukuran payudara PSK yang ia pesan. Sepertinya Anthony Maras memang sengaja membuat Hotel Mumbai (2019) menjadi film yang sangat eksplisit dari awal hingga akhir. Hotel Mumbai terlihat berusaha menampilkan tokoh dari beragam latar belakang ras, agama, maupun kelas sosial. Sedikit disayangkan bila tokoh-tokohnya tidak diperankan oleh aktor ataupun aktris yang berlatar belakang sama. Selain ras kaukasian, ada pula tokoh dari Asia Timur.

Para teroris yang berjumlah 10 orang datang bersama-sama ke Mumbai. Mereka terorganisir dengan sangat baik. Tiap teroris selalu menggunakan earphone yang terhubung dengan handphone. Uniknya, dalang dari aksi terorisme ini tidak diketahui. Si dalang terus berbicara melalui telpon untuk memanaskan semangat para teroris. Inilah salah satu keunikan dari Hotel Mumbai. Anthony Maras menekankan sisi manusiawi dari tiap tokoh, entah antagonis ataupun protagonis. Kita tidak bisa 100% menyalahkan para teroris ini atas apa yang mereka perbuat. Mereka hanyalah sebuah alat. Mereka diperalat oleh kemiskinan dan ajaran yang salah. Si dalang menggunakan bujuk rayu dengan menawarkan sejumlah uang bila mereka mau berperang di jalan Tuhan.

Para teroris ini adalah remaja-remaja dari keluarga miskin yang belum pernah melihat kemajuan. Ketika datang ke Hotel Mumbai, salah satu dari mereka menyebut arsitekturnya begitu indah seperti Surga. Itu bahkan pertama kalinya bagi mereka melihat dan menggunakan toilet duduk. “Buang air besar bahkan terasa menyenangkan.” Dialog-dialog yang polos sekaligus menyedihkan ini menjadi kekuatan dari Hotel Mumbai. Betapa ketimpangan sosial mampu menggerakkan amarah dan benci dalam diri segenap pemuda tanggung yang tak paham dunia luar seperti apa. Pikiran meraka hanyalah bagaimana agar bisa mendapatkan uang untuk dikirim kepada keluarga di kampung. Pada satu scene digambarkan Imran (Amandeep Singh) menangis menelpon ayahnya dan menanyakan apakah bosnya, Brother Bull, telah mengirimkan uang atas upahnya dalam berperang.

hotel mumbai review

Hal lain yang patut diacungi jempol dari Anthony Maras adalah membuatnya menjadikan setiap tokoh memiliki porsi yang pas untuk menceritakan kisahnya masing-masing. Kelima tokoh utamanya yaitu Arjun, Hemant Oberoi, Zahra, David, dan Vasili mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan spotlight. Para teroris pun mendapatkan kesempatannya masing-masing untuk bersinar. Mereka tidak hanya digambarkan sebagai tokoh yang menembakkan senapan membabi buta atau melempar granat. Mereka memiliki cerita. Tiap tokoh menjadi begitu hidup dan tiap scene yang ada pun tidak diambil dengan percuma. Kalaulah ada yang digambarkan dengan tidak adil yaitu murni sebagai antagonis adalah Brother Bull, dalang para teroris yang kita sendiri tak tahu bagaimana wujudnya karena ia hanya muncul berupa suara. Pada bagian akhir film pun dijelaskan hingga saat ini si dalang tetap bebas dan tak diketahui rimbanya.

Dialog maupun adegan yang eksplisit, darah yang mengucur, hingga luka yang terbuka bukan faktor sepenuhnya dalam membangun ketegangan di Hotel Mumbai. Scoring yang sangat baiklah yang berperan besar. Sejak awal film, kita tidak dibiarkan mengalihkan pandangan. Kita akan dibuat ikut merasakan teror. Ada adegan-adegan komedi yang meski perannya minor dan tak dimaksudkan untuk komedik tetapi mampu memancing segaris senyum di bibir penonton. Demikian pula sisi mengharu biru mengenai Zahra dan Arjun yang teringat buah hati mereka. Meski demikian Anthony Maras tetap membiarkan kita menarik napas dan tak terengah-engah mencerna scene film ini.

Setelah dipikir-pikir, Dev Patel banyak memerankan film yang berkaitan dengan konsep keluarga. Di Hotel Mumbai, ia adalah suami sekaligus ayah yang dicintai. Di Lion (2016), kegundahan Dev Patel tergambar jelas mengenai keinginannya bertemu keluarga kandung. Di Chappie (2015), ia menciptakan robot dengan Artificial Intelligence yang justru dianggap sebagai anak angkat. Sebagai Arjun, Dev Patel tak hanya tampil meyakinkan sebagai family man tetapi juga sebagai seorang lelaki dari golongan ekonomi bawah yang betul-betul berusaha mencari nafkah. Ia juga dengan sepenuh hati menjelma menjadi seorang Sikh dan menjelaskan dengan terbata-bata bagaimana turbannya adalah kehormatannya ketika seorang perempuan Kaukasia memandangnya sebagai ancaman. Nazanin Boniadi juga berperan epik ketika berusaha menyelamatkan nyawanya di bawah todongan senjata teroris. Terakhir akting Anupam Kher yang mencuri perhatian sebagai tokoh berwibawa, kebapakan, tegas, sekaligus teduh.

Hotel Mumbai mungkin saja dituding mengeksploitasi tragedi sebagai alat pendulang uang. Namun tragedi ini telah menyadarkan banyak hal pada kita. Ketimpangan sosial dan kesalahpahaman lah yang memicu kebencian. Seandainya kita lebih menghargai perbedaan dan menghormati orang yang berbeda dibandingkan kita, mungkin tragedi itu tak perlu terjadi. Hotel Mumbai masih tetap berdiri dan melayani para tamu. Sampai helaan napas terakhirnya, para staff tetap melayani para tamu dengan sepenuh hati, tak mau pergi demi mencari keselamatan diri sendiri.

Click to comment

Leave a Comment

Living With Yourself Review Living With Yourself Review

Living With Yourself Review: Serial Drama Komedi Bertema Cloning

TV

Failin in Love Review Failin in Love Review

Failin in Love Review

TV

crazy love review crazy love review

Crazy Romance Review: Sajian Romansa Komedi Yang Menghibur

Film

Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix Alex Lawther and Jessica Barden in Season 1 | Netflix

The End of the F***ing World Season 2 Review

TV

Connect