Connect with us
Hindia

Music

Menari Dengan Bayangan: Bentuk Perayaan Atas Segala yang Terjadi Dalam Hidup

Hindia berhasil menghadirkan lagu-lagu kontemplatif yang menghangatkan para pendengarnya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Menjalani hidup keras ala masyarakat urban tentu sedikit-banyak bertemu pada titik-titik yang terkadang membuatmu lelah hingga berkeinginan untuk menyerah saja. Meskipun rasa lelah itu kadang menuai hasil yang tidak kamu harapkan, ya tentu menyakitkan. Namun apa boleh buat? Mendengar lagu-lagu Hindia alias Baskara Putra adalah salah satu dari sekian banyak cara untuk bertahan, lalu sekadar merayakannya.

Nama Baskara tentu bukan namanya yang asing untuk saat ini, .Feast menjadi band yang begitu membesarkannya dari tahun 2018. Dan pada penghujung 2019, ia dengan percaya diri merilis album sekaligus menggelar konser pertamanya untuk nama Hindia.

Album debut Hindia bertajuk Menari Dengan Bayangan ini terdiri dari 12 lagu dan 3 skit dari orang-orang terdekat Baskara. Berbeda dengan .Feast yang seolah-olah menjadi motor penggerak aksi massa di kalangan mahasiswa, Hindia justru menghadirkan Baskara sebagai sosok manusia yang biasa saja, yang punya rasa lelah, rasa tertekan, bahkan depresif.

Dalam album ini, kontemplasi yang dibawakan oleh Hindia mengambil problematika yang sangat dekat dengan kita semua sebagai manusia. Namun lagu-lagu Hindia, bukanlah lagu-lagu yang mengutuk semua itu. Ia justru tak ubahnya sebagai pil yang begitu menenangkan, sebagai teman yang hadir di saat-saat rapuh dan bilang padamu, “aku juga, kamu gak sendirian, kok.” Mungkin, itulah yang membuat para penggemarnya merasa terwakilkan, tersampaikan apa yang selama ini menjadi kegelisahan mereka.

“Evakuasi” menjadi pembuka yang tepat untuk album ini. Keramaian masyarakat urban menjadi titik yang menggelisahkan bagi Hindia. Ia terdengar begitu muram, cemas, sekaligus pasrah. Seolah mencoba bangkit dari keterpurukan track pertama, “Besok Mungkin Kita Sampai” kembali menuturkan problematika anak muda yang masih terlunta-lunta, tetapi kerap diburu oleh tuntutan hidup. Dibawakan dengan nada yang agak optimis, namun tetap saja masih terdengar pasrah dan cemas.

Track selanjutnya “Jam Makan Siang”, “Dehidrasi”, “Untuk apa/ Untuk apa?”, ketiganya jika di-medley tentu akan menjadi lagu yang cocok untuk pengiring jam makan siang, seolah-oleh sebentuk obrolan bersama teman atau rekan, yang membahas hubungan, impian-impian yang sempat terkubur, kadang pula membahas segala kejenuhan pada apa yang selama ini dikerjakan.

Apabila tiga track sebelumnya lebih bersuasanakan siang hari, track-track selanjutnya justru langsung melompat ke suasana tengah malam hingga dini hari. “Secukupnya”, yang tampil dalam film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini seakan menyadarkan kita bahwa hal buruk pasti terjadi, pikiran negatif pasti hadir, dan semua manusia juga mengalami hal serupa; kesedihan menimpa banyak orang, tidak ada salahnya untuk memeluk kesedihan itu bersama-sama dan tidak larut di dalamnya. Lagu ini menjadi yang paling pahit dalam album ini, pembawaan yang lagi-lagi terdengar lelah, namun diiringi instrumen elektrik yang menghentak, justru menimbulkan paradoks kesedihan yang dirayakan.

Seusai menyudahi kesedihan, “Belum Tidur” kembali menjadi galau. Baskara dan Sal Priadi saling bersaut-sautan di jam tiga pagi, kegalauan-kegalauan yang saling bersautan itu terdengar lirih nan dalam.

Optimisme kembali muncul pada lima lagu terakhir di album Menari Dengan Bayangan. Sebutlah “Rumah ke Rumah” yang membahas perpindahan hati—dianalogikan sebagai ‘rumah’—sebagai sesuatu yang pasti dan wajar terjadi dan bagaimana pun harus tetap diapresiasi.

Ada pula “Membasuh” yang berduet dengan Rara Sekar, hadir sebagai bentuk keikhlasan tertinggi, bahwa memberi tetap harus dilakukan meskipun sedang kekurangan. “Mata Air” muncul sebagai sebuah pengingat bahwa hidup bukan bagaikan arena balap ataupun jalan tol, sehingga tidak perlu ada adegan saling mendahului dalam menjalaninya. “Evaluasi” seakan menutup album ‘Menari Dengan Bayangan’ dengan kembali mengingatkan para pendengarnya untuk bangkit dari kesedihan yang melanda, untuk tetap menjalani hidup terlepas dari segala hal yang pernah terjadi, bahwa masih ada hari esok meskipun hari ini terasa pedih.

Tiga skit yang turut menjadi bagian dari album ‘Menari Dengan Bayangan’ justru seperti penyempurna kehangatan yang ingin dibagikan oleh Hindia. “Wejangan Mama”, “Voice Note Anggra”, dan “Wejangan Caca” hadir dengan format voice over yang berisikan pesan dari orang-orang terdekat Baskara. Kehadiran tiga skit ini seperti menunjukkan bahwa ada cerita dari tiap orang; bahwa ada orang-orang yang pasti mengambil peran dalam hidup dan membuatnya menjadi lebih berwarna, bahwa tiap orang memiliki cara sendiri untuk mengekpresikan perasaan, kekhawatiran, serta rasa bangga bagi orang terdekatnya.

Hindia Tur Bayangan 2020

Lirik kontemplatif khas Hindia dalam album ‘Menari Dengan Bayangan’ kemudian diangkat menjadi tema dari tiap pertunjukan “Tur Bayangan Hindia”. Diselenggarakan di lima kota besar di Pulau Jawa, meliputi Malang, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, dan Bandung, Tur Bayangan Hindia diatur langsung oleh para anggota Lomba Sihir.

Sebutlah ‘Malang Belum Tertidur’ oleh Tristan Juliano, ‘Surabaya Tidak Apa-Apa’ oleh Natasha Udu, ‘Seluruh Hatiku Untukmu Yogyakarta’ oleh Rayhan Noor, ‘Apapun yang Terjadi di Semarang’ oleh Wisnu Ikhsantama, dan ‘Semua yang Sirna di Bandung’ oleh Enrico Octaviano.

Tur yang dilaksanakan mulai 8 Februari hingga 16 Februari 2020 ini akan turut dimeriahkan oleh Aldrian Risjad, salah satu roster dari Sun Eater tempat Hindia bernaung. Tidak hanya itu, Tur Bayangan juga memberikan panggung bagi musisi lokal di lima kota tersebut; dengan Madukina di Malang, Cotswold di Surabaya, Rubah di Selatan di Yogyakarta, Figura Renata di Semarang, dan Loner Lunar di Bandung.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect