Connect with us
Hayley Williams: FLOWERS for VASES / descansos Album Review
Photo: Lindsey Byrnes

Music

Hayley Williams: FLOWERS for VASES / descansos Album Review

Hayley menelanjangi perasaan dan menyeret pendengar masuk ke dalam kubangan emosi mendalam di album “detour” mengenai patah hati ini.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Setelah ‘Petals for Armor’ yang meluncur di tahun 2020, Hayley Williams meneruskan kiprah solo dengan meluncurkan ‘FLOWERS for VASES / descansos’. Album yang dirilis dengan cukup mengejutkan pada 5 Februari kemarin tersebut menjadi prequel dan “detour” dari album sebelumnya. Meski mengusung irama hingga genre yang sepenuhnya berbeda.

Untuk ‘Petals for Armor,’ Hayley masih setia bereksperimen dengan genre art pop. Not-not uptempo yang disisipkan ke dalam album ini mengingatkan pendengar pada ‘After Laughter’, album Paramore yang meluncur di tahun 2017. Ini tidak lain berkat campur tangan Taylor York, sang gitaris yang masih berperan besar dalam ‘Petals for Armor.’

York bahu-membahu dengan Hayley meramu hampir semua track di ‘Petals for Armor.’ Menjadikan album solo sang leader terdengar tak ubahnya proyek terusan Paramore.

Berbeda dari sebelumnya, ‘FLOWERS for VASES / descansos’ digarap seluruhnya oleh Hayley. Mulai dari proses kreatif, penulisan lagu, hingga permainan instrumen dilakukan sendiri oleh Hayley. Bahkan rekaman untuk album ini kabarnya digarap Hayley di rumahnya, dalam kesendirian selama pandemi.

Hayley Williams: FLOWERS for VASES / descansos Album Review

FLOWERS for VASES / descansos

Seperti juga ‘Petals for Armor’, ‘FLOWERS for VASES / descansos’ masih mengangkat tema patah hati. Tidak sulit menerka bahwa sebagian besar tema di kedua album terinspirasi dari perceraian Hayley dengan Chad Gilbert-gitaris New Found Glory. Lirik yang sarat akan lantunan hati yang lara, nada-nada melankolis, serta kesendirian dan kesepian yang disuarakan; Jelas menggambarkan bagaimana sulit bagi Hayley menghadapi berakhirnya hubungan selama 10 tahun tersebut.

Descansos yang menjadi judul kedua album ini mereferensikan penanda di pinggir jalan untuk memorial. Sedangkan di bahasa Spanyol, descansos merupakan konjugasi dari descansar, yang berarti “to rest.” Arti paling tepat dalam merepresentasikan tema ‘FLOWERS for VASES / descansos.’

“First Thing to Go” yang menjadi track pembuka langsung menyuarakan tema patah hati yang menjadi benang merah setiap track. “First thing to go was the sound of his voice, it echoes still, I’m sure, but I can’t hear it,” senandung Hayley, dalam lantunan vokal yang sarat akan emosi mendalam, “…Heard what I wanted, until I couldn’t.”

Hayley tidak berupaya untuk memoles nada-nada, entah itu dalam suara maupun stripped-down instrumen yang dimainkan, agar bisa menyampaikan emosi. Tidak ada lengkingan, lonjakan vokal yang memperlihatkan betapa hancur perasaan saat berusaha kembali menggapai kenangan di masa lalu. Hayley justru melantunkan lirik demi lirik dengan perlahan, menuntun pendengar untuk menyelam ke dalam luapan kesedihan yang seakan tenang di permukaan.

Sederhana, namun sebagai lagu pembuka, “First Thing to Go” sukses membuat pendengar ingin meneruskan pada track-track selanjutnya.

Kedalaman perasaan masih disuguhkan Hayley pada track berikutnya. “My Limb” menjadi salah satu track dengan emosi paling membuncah. Meski hanya diiringi petikan gitar akustik dengan spare drum dan piano, “My Limb” tetap sukses menyampaikan bagaimana perasaan Hayley saat terikat dalam sebuah hubungan, “Shy little rabbit, teething on a shotgun / Guess we were collateral damage, kissing in the crossfire.”

Track berikutnya, “Asystole,” mengambil istilah medis untuk berhentinya detak jantung. Kali ini Hayley tidak hanya menyisipkan berbagai bentuk metafora dalam melukiskan rasa hati. Sentuhan irama latin yang dihadirkan dalam permainan gitar pun menghadirkan kesegaran sendiri. Menjadikan album ini tidak sekedar berisi melankoli hati yang patah. Masih terdapat sisi kreativitas, walau minimum, diantara tema hingga permainan instrumen yang tidak inovatif.

Hayley memang nyaris tidak menghadirkan inovasi ataupun gebrakan musikalitas apapun. ‘FLOWERS for VASES / descansos’ justru mengalir dalam kesederhanaan petikan gitar, piano, dan spare drum. Masing-masing instrumen menggunakan irama hingga nada yang juga terdengar tidak asing. Basic. Sejak di track pertama pun, Hayley tidak memperlihatkan gelimang teknis vokal yang memukau. Selain kuatnya emosi yang digambarkan dan dilepaskan dalam track demi track.

Ya, emosi. Hayley mengandalkan permainan emosi yang kuat dalam album ini. “Trigger” menunjukan bagaimana Hayley bertanya-tanya tentang proses kreatif yang dilalui, “What do people sing about once they finally found it?” Tema yang cukup meta, memang. Walau Hayley masih sanggup membuat pendengarnya terseret dalam arus emosi dengan iringan petikan gitar yang nyaris monoton.

Di “Inordinary,” Hayley menarasikan kenangan saat dirinya dan sang ibu, yang saat itu baru bercerai, pindah dari Mississippi ke Nashville di tahun 2002: “Started over, Tennessee / Rent was cheap and we were free.” Hayley mengaitkan perceraiannya dengan saat sulit di masa kecil. Track yang menyuarakan mengenai kerapuhan sekaligus kekuatan.

“Wait On” dan “HYD” menjadi dua track yang paling kental dengan irama folk. Petikan gitar di kedua track ini seolah langsung menduplikasi nada-nada paling dasar dari genre tersebut. Sedangkan “Just a Lover” justru mengawinkan ritme indie yang khas dengan folk. Membuat lagu ini seakan diambil dari album “Folklore” milik Taylor Swift.

Beberapa bagian lirik di ‘FLOWERS for VASES / descansos’ melukiskan sisi yang sangat personal dari Hayley. Hayley seakan-akan menelanjangi diri -beserta masa-masa terkelam dirinya- melalui bait demi bait.

Lirik untuk “Good Grief,” salah satunya: “Haven’t eaten in three weeks / Skin and bones when you’re not near me / I’m all skeleton and melody.” Track ini menyeret pendengar untuk masuk, dan duduk sebagai penonton barisan pertama saat Hayley berada di fase terbawah.

‘FLOWERS for VASES / descansos’ tidak memiliki track yang bisa dikategorikan sebagai earworm, layaknya sederet rilisan Paramore. Tidak ada kemewahan, kemegahan, atau bahkan gelimang teknis yang memukau dalam musikalitasnya. Hayley juga bernyanyi dalam kesederhanaan. Tanpa polesan vokal yang berarti.

Namun perpaduan yang sederhana, biasa, tidak inovatif maupun kreatif ini justru berhasil melahirkan salah satu karya terbaik Hayley. Raw and pure.

Di album ini Hayley menelanjangi perasaannya; Rasa sakit hati, kehilangan, keputusasaan, sulitnya melepaskan, hingga merelakan apa yang sudah seharusnya pergi. Semuanya dituliskan dan dibawakan tanpa adanya pretensi.

Dalam kesederhanaan, ‘FLOWERS for VASES / descansos’ lahir menjadi album yang sepenuhnya terdengar sebagai milik Hayley. Ia seolah menulis, menggubah, merekam, hingga membawakan setiap track untuk dirinya sendiri. It’s her personal journey and “No more music for the masses.”

Click to comment

Marion Jola, Danilla, Ramengvrl Marion Jola, Danilla, Ramengvrl

Marion Jola, Danilla, Ramengvrl: Don’t Touch Me Single Review

Music

Lana Del Rey Lana Del Rey

Lana Del Rey: Blue Banisters, Text Book & Wildflower Wildfire

Music

Rag’n’Bone Man: Life in Misadventure Album Review

Music

Olivia Rodrigo Olivia Rodrigo

Olivia Rodrigo: Sour Album Review

Music

Advertisement
Cultura Live Session
Connect