Connect with us
Generasi 90an Melankolia Review
Visinema Pictures

Film

Generasi 90an Melankolia Review: Menjadi Kelam Tidak Selamanya Bagus

Bukanlah film yang mampu memberi kesan mendalam.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Membicarakan tentang kehilangan dan cara penanganannya adalah hal yang sangat lumrah. Hal tersebut tentu akan dihadapi setiap orang sekaligus membentuk pribadi masing-masing. Sudah cukup banyak film lokal yang membawa tema tersebut, termasuk di antaranya adalah Generasi 90an Melankolia yang saat ini dapat disaksikan di Netflix.

Generasi 90an Melankolia merupakan film terbaru dari Visinema Pictures yang sekaligus menjadi directorial debut dari Mohammad Irfan Ramli dan diproduseri oleh Angga Dwimas Sasongko. Film drama ini memiliki ragam bintang tanah air yang sedang naik daun, seperti Ari Irham, Aghniny Haque, Taskya Namya, dan Jennifer Coppen. Selain itu, ada beberapa nama lawas yang meramaikan film ini, seperti Gunawan Sudrajat dan Marcella Zalianty.

Film yang diadaptasi dari novel Generasi 90an dari Marchella FP tersebut berkisah mengenai Abby, seorang anak bungsu dengan keluarga yang menyenangkan, salah satunya berkat kehadiran Indah, sang kakak. Namun, semuanya tiba-tiba menjadi kelam setelah pesawat yang ditumpangi Indah menuju luar negeri kandas di laut lepas tanpa ada jejak dari tubuhnya. Hal inilah yang kemudian menyebabkan Abby untuk mencari pelarian pada Sephia, sahabat dari kakak tersayangnya.

Generasi 90an Melankolia

Visinema Pictures

Dari segi premis, Generasi 90an Melankolia sendiri menawarkan sesuatu yang sebenarnya sudah sering diangkat dalam berbagai film, namun memiliki potensi. Akan tetapi, pembawaan cerita di dalamnya terasa sangat hambar tanpa meninggalkan rasa yang benar-benar mendalam. Ada beragam hal yang menyebabkannya, salah satunya yang paling krusial adalah ketidak hadirannya klimaks yang menyelimuti kisah Abby dan keluarganya.

Kekuatan yang dimiliki oleh berbagai film dari Visinema Pictures adalah kemampuannya untuk membawa cerita yang terasa nyata dan sanggup membuat penonton untuk mudah relate dengan ragam karakter yang muncul.

Seperti halnya “Filosofi Kopi” yang membahas tentang pergolakan idealisme antara sahabat, , “Love for Sale” tentang mengatasi kesendirian, “Keluarga Cemara” tentang hidup dalam kemiskinan, hingga “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” yang tampil dengan kisah memilukan di balik keluarga bahagia. Poin inilah yang gagal di-deliver pada Generasi 90an Melankolia, sehingga akan sulit sekali untuk memahami karakter-karakter yang hadir mewarnai filmnya.

Dari judulnya, penonton tentu akan berekspektasi bahwa Generasi 90an Melankolia bakal menampilkan banyak hal terkait pop culture pada tahun 90an. Namun sayangnya, beragam easter egg mengenai era tersebut seakan hanya numpang lewat saja tanpa ada pengaruh utama pada plot yang sedang bergulir. Bagian ini hanya tampak digarap maksimal pada beberapa menit opening, yang mengaitkan beragam plot point dengan bermacam-macam kejadian penting yang terjadi di dunia.

Hal yang cukup menarik mengenai kultur 90an hanya tampil pada penggunaan beragam soundtrack yang di-remaster dan dijadikan sebagai penyambung kisah-kisah dari beberapa karakter yang muncul.

Generasi 90an Melankolia Review

Menonton “Generasi 90an Melankolia” sungguh hal yang melelahkan. Tidak hanya karena plot movement-nya yang hambar, tapi juga karena berbagai karakternya yang lebih banyak bermain-main dengan amarah, tangis, dan kemurungan. Film hanya akan berputar-putar pada emosi tersebut dan hanya menampilkan kebahagiaan di awal, menjadikannya parade depresi Abby, keluarga, dan orang-orang sekitarnya.

Inilah yang membuat performa dari para cast yang tampil terasa sangat wasted. Semuanya seakan dipaksa untuk hanya marah, menangis, dan murung karena plot hanya meminta begitu. Bahkan pemeran senior seperti Gunawan Sudrajat dan Marcella Zalianty pun tidak bisa berbuat banyak dalam film yang terasa super generic ini.

Di balik ragam kekecewaan tersebut, setidaknya dari segi teknis yang diusung dalam “Generasi 90an Melankolia” terlihat cukup baik, meski tidak selamanya sempurna. Yang terlihat sangat kentara adalah sinematografi yang terasa halus, penggunaan set design yang nampak make sense, dan alunan scoring yang mampu sedikit memberikan nyawa dalam film. Akan tetapi, visual-nya yang terlihat oversaturated dan condong kekuning-kuningan membuatnya sangat melelahkan kala ditonton.

Akhir kata, “Generasi 90an Melankolia” terasa ingin sekali mengekor kesuksesan dari beberapa film Visinema Pictures. Akan tetapi, ambisi Irfan Ramli dalam membawa film ini terasa belum mampu memberikan kesan yang mendalam dan cukup sulit untuk relate pada beragam karakter yang muncul di dalamnya.

Click to comment

Love and Monsters Review Love and Monsters Review

Love and Monsters Review: Petualangan Joel Melawan Monster Demi Cinta

Film

Two Distant Strangers Two Distant Strangers

Two Distant Strangers Review

Film

Thunder Force Thunder Force

Thunder Force Review: Film Superhero dengan Cita Rasa Parodi

Film

The Serpent Review The Serpent Review

The Serpent: Mengikuti Perjalanan Charles Sobrahj Memburu Hippie Traveler

TV

Advertisement
Cultura Live Session
Connect