Connect with us
Furie Movie review indonesia

Film

Furie Review: Fast-Paced Vietnamese Action Thriller

Furie (Hai Phuong) adalah film produksi Vietnam dengan pendapatan terbesar sepanjang masa.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Di Indonesia, kita tak banyak mendengar kiprah sineas negara-negara tetangga. Kalaupun mengimpor film, biasanya berasal dari tempat yang itu-itu saja. Asia Timur, Asia Selatan, atau Amerika. Memang ada beberapa film Thailand maupun Malaysia yang masuk jaringan bioskop Indonesia. Tapi kalau Vietnam? Kita tak banyak tahu. Tapi sekarang kita sudah bisa menikmati film produksi Vietnam melalui Netflix, salah satunya “Furie”.

Judul asli film ini Hai Phuong, sesuai dengan nama tokoh utamanya. Tokoh utamanya seorang perempuan bernama Phuong (Veronica Ngo) yang berprofesi sebagai penagih utang. Ia adalah gambaran perempuan badass seperti halnya Charlize Theron dalam Mad Max (2015). Sebenarnya tak ada yang baru dari segi cerita. Kisahnya sendiri mirip dengan John Wick maupun Taken. Namun sutradara Lê Văn Kiệt mengemasnya dengan sangat baik menggunakan sentuhan kearifan lokal sehingga Furie menjadi sebuah masterpiece.

Phuong menggunakan pakaian khas perempuan Vietnam. Ia memakai semacam baju kurung dengan celana yang mirip celana piyama, di lehernya tergantung tali untuk caping. Vietnam adalah negara agraris sehingga sangat umum bagi penduduknya menggunakan caping. Phuong adalah anak buah seorang lintah darah yang sehari-hari ia menagih utang dengan cara yang buruk. Kalau perlu, ia akan mematahkan kaki orang yang ditagih. Meski wajahnya cantik, Phuong selalu terlihat apa adanya bahkan bisa dibilang awut-awutan. Phuong bertahan dengan pekerjaan yang buruk dan citra negatif demi memberi makan putri semata wayangnya, Mai.

Furie review indonesia

Suatu hari, anak Phuong diculik. Penculiknya bukan sembarang orang, mereka adalah sindikat pencuri organ. Mereka sengaja mencari anak-anak di rentang usia tertentu. Phuong yang merasa dirinya mampu, bertekad mengejar dan melawan para penculik itu. Namun ternyata ada yang lebih kuat dan lebih jago bela diri dibanding dirinya. Yaitu sang bos sindikat pedagang organ yang juga perempuan. Bila Phuong terlihat feminin dan tradisional, bos sindikat pedagang organ ini memiliki tampilan kasar. Tubuhnya penuh tato dan pakaiannya terlihat boyish.

Akan terbersit di benak penonton pertanyaan mengenai kenapa Phuong maupun sang bos terlihat lebih kuat dibanding anak buah sindikat pedagang organ. Duel sengit yang dilakukan Phuong dengan para tokoh pria sangat menarik. Mereka tak sekalipun mengucapkan dialog yang meremehkan kemampuan Phuong hanya karena ia perempuan. Phuong juga dilawan sekuat tenaga, baik dengan tangan kosong maupun senjata. Sebenarnya ini adalah gambaran kultur Vietnam yang matrilineal. Vietnam memiliki sejarah panjang yang menempatkan perempuan pada posisi setara dalam masyarakat.

Banyak dewa-dewa yang digambarkan sebagai perempuan. Pada peperangan pun perempuan memiliki peran besar. Kadang perempuan bekerja lebih berat dibandingkan lelaki di ladang. Perempuan juga umum berada di pemerintahan dan menempati berbagai jabatan. Ada beberapa suku yang memiliki aturan bahwa keputusan pernikahan di tangan perempuan. Pengantin laki-lakilah yang harus pindah ke rumah pengantin perempuan setelah menikah. Kultur ini sempat berubah atas pengaruh China dan Konfusion. Namun pada dasarnya Vietnam tidak memandang perempuan sebagai warga negara kelas dua atau makhluk lemah.

Ada pula dialog menarik ketika dua ibu-ibu pedagang daging di pasar mengomentari hidup Phuong. Phuong dianggap perempuan jalang karena tak punya suami padahal memiliki anak. Tetapi ibu lain menyahut bahwa komentar seperti itu tidak benar karena tak ada yang tahu hidup Phuong sebenarnya bagaimana. Ini gambaran yang bagus mengenai bagaimana stigma perlu dipatahkan. Perempuan yang melahirkan anak tanpa suami belum tentu perempuan yang buruk.

Selain scene laga yang digarap sangat baik, setting yang diciptakan dalam film ini benar-benar patut diacungi jempol. Sang sutradara membuat film ini sarat dengan kearifan lokal. Kita akan melihat sawah-sawah yang hijau, jalanan kampung yang gersang, juga perahu bermotor sebagai kendaraan di sungai yang membelah desa. Setting yang terasa alami dan tak dipaksakan inilah yang membuat Furie (2019) membekas di ingatan. Begitupun dengan perpindahan adegan. Misalnya gambaran dari masa kini ke masa lalu. Coloring-nya juga sangat apik dan khas.

Melalui Furie, kita diajak melihat dari pandangan mata kaum marjinal. Bisakah kita menyalahkan Phuong karena jalan hidup yang ia pilih? Seandainya ia memilih hidup yang baik, mungkin anaknya takkan diculik. Ia bergabung dengan gangster, bekerja di tempat hiburan malam, hingga hamil di luar nikah. Tapi ia mau berubah. Meski bekerja sebagai penagih utang bukan profesi ideal, ia menunjukkan perjuangannya menafkahi Mai. Furie juga menggambarkan Phuong secara manusiawi. Ia mungkin sangat meyanyangi Mai, tapi ia bukan malaikat.

Furie tidak menunjukkan gemerlap kota besar Saigon. Kita justru diajak menyusuri gang-gang sempit dengan lampu remang-remang di kawasan kumuh padat penduduk. Kita diperlihatkan kehidupan kaum ekonomi lemah yang melakukan apapun demi bertahan hidup. Furie juga memberi kita gambaran bagaimana hubungan emosi keluarga yang sudah pecah dapat dirajut kembali ketika ada masalah. Terakhir, Furie memberi kita pilihan mengenai cara untuk memandang perempuan sebagai manusia biasa yang nilainya tak berkurang hanya karena keperempuanannya.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement Cultura Lists
Connect