Connect with us
Australia Tourism
Ford vs Ferrari Review
20th Century Fox

Film

Ford v Ferrari: Spoiler Review

Great story, great actors and truly painful ending.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Jika menginginkan film dengan paket komplit dari segi cerita, karakter dan sinematografi yang mumpuni, kita akan mendapatkannya dalam film Ford vs Ferrari yang baru tayang 15 November lalu.

Mengusung genre drama biografi, film ini akan memberikan cerita yang menarik tentang bisnis, balapan dan persahabatan. Film ini diperanakan oleh aktor papan atas Hollywood yaitu Matt Damon (Carrol Shelby) dan Christian Bale (Ken Miles) dengan beberapa aktror dan aktris pendukung lainnya seperti Caitriona Balfe (Mollie Miles, istri Ken), Jon Bernthal (Lee Iacocca), Tracy Letts (Henry Ford II), Josh Lucas (Leo Beebe), Noah Jupe ( Peter Miles), dam Remo Girone Enzo Ferrari)

Bukan Christian Bale namanya jika ia tidak bisa merubah body-shape nya seperti karakter yang diinginkan sutradara, buktinya dalam film ini ia berhasil menjelma dengan karakter, aksen, dan body-shape yang sangat mirip dengan Ken Milles. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa Christian Bale benar-benar salah satu aktor dengan totalitas akting terbaik. Lain lagi dengan Matt Damon, kehadirannya dalam sebuah film, selalu memberikan kekuatan dalam film yang ia bintangi.

Ford vs Ferrari

20th Century Fox

Sesuai dengan namanya, film ini menceritakan bagaiaman persaingan antara perusahaan mobil Ford dengan Ferrari. Dalam film ini akan diungkap bagaimana latar belakang persaingan antara mereka bisa terjadi, dimulai Ketika perusahaan mobil Ford diambang kebangkrutan. Henry Ford II sebagai direktur, membutuhkan inovasi untuk mendongkrak penjualan mobilnya, Lee Iacocca sebagai wakil direktur, memberikan saran diluar perkiraan, ia mengungkapkan bahwa Ford membutuhkan citra baru antara lain dengan membuat sebuah mobil balap.

Pada akhirnya, Lacocca menyarankan untuk bekerja sama dengan Ferrari yang saat itu menjadi raja mobil balap setelah memenangkan balapan bergengsi Le Mans 24 jam selama bertahun-tahun. Namun, karena sebuah kesepakatan yang tidak bisa diterima oleh Enzo Ferrari, dan perkataannya yang menyinggung Henry Ford II, akhirnya memicu persaingan diantara Ford dan Ferrari. Hingga Ford memutuskan untuk membuat mobil balap tercepat berarapun biaya produksinya. Dengan bantuan perancang mobil terkenal yang juga mantan pembalap legendaris, Carol Shelby.

Namun, Shelby tak bisa bekerja sendirian, ia pun membangun timnya yang salah satunya adalah engineer dan pembalap berbakat Ken Milles. Ahirnya kerjasama mereka membuahkan hasil, dengan hadirnya mobil Ford GT 40 yang bisa melesat hingga kecepatan 7000rpm. Namun, masalah kembali muncul ketika Ken Milles tidak diizinkan untuk menjadi pembalap utama Ford setelah sempat berseteru dengan staf eksekutif Ford Racing, Leo Beebe. Perjuangan Shelby untuk menjadikan Ken Milles menjadi pembalap utama ford mengisi separuh perjalanan cerita di film ini selain persaingan antara Ford dan Ferrari dan juga pembuktian Ken Milles untuk menjadi pembalap nomor satu saat itu.

Mendapat banyak sekali tanggapan positif di media sosial, film ini memang menyajikan tayangan yang sangat memuaskan. Visual balapan yang terasa sangat nyata, ketika Ken Milles memacu mobilnya hingga 7000rpm. Kita pun akan mengalami refleks mengerem akibat sinematografi yang apik dalam film ini.

Cerita yang dibangun pun sangat baik dan terencana, sehingga setiap pecahan scene dan cerita akan saling bertemu dengan pecahan-pecahan cerita lain dan bergabung menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Sehingga pernyataan-pernyataan yang disampaikan dalam dialog tidak hanya sekedar lewat begitu saja tetapi menjadi sebuah rantai sebab akibat yang saling mendukung.

Sutradara James Mangold yang sukses dengan film Logan, berhasil memberikan kisah biografi dengan action dan drama yang tidak membosankan, meskipun dalam setengah jam pertama, film ini memberikan alur drama yang kental. Dengan plot yang solid serta sajian sinematografi yang memuaskan mata, hati dan pikiran, sutradara James Mangold berhasil memberikan sajian film terbaik di tahun 2019, selain Joker dan Avengers: Endgame.

Di akhir cerita, kita akan diberikan akhir yang sangat menyakitkan, bagaimana kita harus melepaskan apa yang telah diimpikan dan terus berjalan seperti tidak ada apapun yang terjadi. Secara keseluruhan film ini akan memberikan pengalaman menonton yang tidak biasa, penonton akan dibuat kagum dengan adrenalin yang terpacu tinggi. Meskipun kita tidak menyukai balapan, kita akan tetap bisa menikmati film berdurasi 152 menit ini.

Click to comment

Leave a Comment

Dallas Buyers Club (2013) Dallas Buyers Club (2013)

Rekomendasi Film Tentang HIV/AIDS

Cultura Lists

bond 25 no time to die bond 25 no time to die

Bond 25: No Time To Die

Film

martin scorsese the irishman martin scorsese the irishman

Jangan Menonton The Irishman Melalui Smartphone!

Entertainment

the irishman review the irishman review

The Irishman Review: Kisah Pembunuh Bayaran dengan Storytelling yang Hangat

Film

Connect