Connect with us
foodie calls
Photo by Huy Phan from Pexels

Lifestyle

Foodie Calls: Kencan Karena Ingin Makan Gratis

Apakah laki-laki harus selalu membayar biaya kencan?

Kita sering sekali mendengar stereotip gender seperti lelaki seharusnya mengejar perempuan, mengajak kencan, bahkan membayar biaya makan. Sebaliknya, perempuan diajarkan untuk bersikap pasif. Menunggu pernyataan cinta hingga menikmati makan malam tanpa memikirkan biaya yang harus dikeluarkan. Banyak sekali gambaran semacam ini di media massa. Novel, komik, serial televisi, hingga film-film yang kita tonton menggambarkan hal ini sebagai tindakan romantis. Benarkah demikian?

Brian Collison, Jennifer L. Howel, dan Trista Harig melakukan penelitian bertajuk “Foodie Calls: When Women Date Men For A Free Meal (Rather Than A Relationship)”. Awalnya terdapat kandidat 820 perempuan untuk melakukan penelitian ini. Namun setelah melalui penyaringan, dipilihlah 698 perempuan heteroseksual. Umumnya mereka berstatus lajang (40%), menikah (33%), dan berpacaran (27%). Mereka berasal dari berbagai ras. Subjek penelitian umumnya bekerja (78%), ibu rumah tangga (8%), pelajar (6%), pencari kerja (4%), dan tidak bekerja karena berbagai alasan (4%).

Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa 156 perempuan pernah terlihat dalam foodie calls alias berkencan karena ingin makan gratis. Sebanyak 522 responden sisanya mengaku tidak. Dari yang mengakui kencan karena makan, 10% mengaku sangat sering melakukannya. Sebanyak 15% mengaku sering, 21% mengaku jarang, 26% mengatakan sangat jarang, dan 27% melakukannya hanya sesekali. Perempuan yang diketahui pernah melakukan foodie calls mengaku hal itu sah-sah saja dilakukan. Sebaliknya, perempuan yang mengaku tidak pernah melakukan foodie calls menganggap hal tersebut tak layak.

Uniknya penelitian ini juga menemukan perempuan yang datang berkencan untuk makan gratis ternyata memiliki kecenderungan menyetujui stigma gender, narsis, psikopati, dan machiavellianism. Orang yang cenderung menganut paham machiavellianism diketahui manipulatif bahkan menipu pasangannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Penelitian yang dilakukan March dan Wagstaff (2017) menunjukkan bahwa lelaki atau perempuan yang menganut paham tersebut cenderung mengirim foto telanjang yang tak diminta oleh pasangannya untuk memaksa melakukan hubungan sex. Bahkan perempuan yang memiliki nilai tinggi dalam machiavellianism memiliki kecenderungan memalsukan orgasme (Brewell, Abell, dan Lyons 2016).

Bagaimana dengan sisi psikopatinya? Orang yang memiliki kecenderungan psikopati diketahui kurang memiliki perasaan menyesal ataupun memiliki empati. Selain itu, mereka juga kurang memahami perspektif pasangannya. Sementara kecenderungan narsis mendorong seseorang untuk fokus hanya pada dirinya sendiri dan kurang memahami pasangannya. Stigma gender pun membuat seorang perempuan yang menganutnya berpikir ia layak dan sudah seharusnya mendapatkan makan gratis. Ini tentu saja merugikan pihak lelaki.

Bila baik pihak perempuan maupun laki-laki melepaskan diri dari stigma gender yang ada, maka kegiatan berkencan akan lebih bebas tekanan. Pihak laki-laki tak perlu merasa harus menyediakan uang dalam jumlah tertentu sebagai modal kencan. Sebaliknya, pihak perempuan dapat menawarkan untuk membagi tagihan makan malam agar ditanggung berdua atau malah menentukan kapan gilirannya yang mentraktir. Kencan (apalagi kencan pertama) bukanlah ajang untuk mendapatkan makanan gratis. Pada dasarnya ada orang yang benar-benar mencari pasangan melalui kegiatan berkencan. Laki-laki yang berniat untuk mencari pasangan serius akan dirugikan bila ajakannya berkencan tak dipandang sebagai ajang mengenal pribadi satu sama lain dan malah hanya dinilai dari makanannya.

Click to comment

Leave a Comment

watermelon semangka watermelon semangka

Semangka Menjadi Pelengkap Foto Instagram dan Lambang Musim Panas

Lifestyle

Seminyak Wine Carnival 2019 Seminyak Wine Carnival 2019

Mengenal dan Menikmati Wine di Seminyak Wine Carnival 2019

Lifestyle

hoax dan kebencian di social media hoax dan kebencian di social media

Menemukan Kedamaian di Social Media

Lifestyle

Era Baru Fotografi dalam Augmented Reality Era Baru Fotografi dalam Augmented Reality

Era Baru Fotografi dalam Augmented Reality

Lifestyle

Connect