Connect with us
Fleetwood Mac adalah band rock Amerika-Inggris yang cukup dikenal luas pada tahun 70-an.
Photo via rollingstone.com

Music

Fleetwood Mac: Rumours Album Review

Album masterpiece ini masuk dalam chart Billboard 200 setelah 42 tahun terakhir.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Media sosial, terutama TikTok terus membuktikan pengaruhnya di industri hiburan, dan musik pada khususnya. Pertama kali selama 42 tahun terakhir, album Rumours dari Fleetwood Mac masuk ke peringkat 10 besar Billboard 200. Pencapaian yang luar biasa, pastinya.

Fleetwood Mac adalah band rock Amerika-Inggris yang cukup dikenal luas pada tahun 70-an. Februari 1977, album “Rumours” resmi dirilis dengan total 11 lagu. Hits dari album ini, ‘Dreams’ meluncur di bulan Maret dan menjadi satu-satunya lagu rilisan Fleetwood Mac yang berhasil duduk di Billboard 100.

Bila pada eranya ‘Dreams’ dan “Rumours” mendapatkan banyak perhatian, sepertinya memang janggal bila album dan hits ini kembali naik ke permukaan 42 tahun kemudian. Tidak hanya sekadar menjadi viral dan kembali digemari saja, “Rumours” bahkan duduk di peringkat 7 Billboard 200 dengan total penjualan 33.000 selama perhitungan satu minggu sampai 15 Oktober.

Selain itu ‘Dreams’ juga berhasil bertengger manis di peringkat 21 tangga lagu Billboard Hot 100 pada pekan yang sama. Ini merupakan catatan pertama untuk hits ini selama 42 tahun terakhir.

Popularitas ‘Dreams’ dan “Rumours” kembali melesat setelah video TikTok viral dari influencer Nathan Apodaca. Setelah video Apodaca, ‘Dreams’ menjadi salah satu lagu terbanyak digunakan oleh pengguna TikTok dalam video mereka. Sekaligus menarik perhatian pendengar musik pada album “Rumours”.

Fleetwood Mac Rumours

Sejak dirilis pada tahun 1977, “Rumors” memang bukan sekadar album. Album ini melesatkan Fleetwood Mac sebagai sebuah fenomena, setelah laris terjual lebih dari 800,000 kopi dalam satu minggu. Kala itu, “Rumours” bahkan menjadi LP dengan jumlah penjualan tercepat.

Secara musikalitas, “Rumours” merupakan album yang sangat kompleks. Fleetwood Mac yang merupakan band beraliran rock menyertakan berbagai elemen berbeda di dalam album ini. Tidak hanya sekadar soft rock, pop rock, dan folk saja. Elemen musik seperti punk dan juga alt-rock-era tidak sulit ditemukan dalam beberapa track.

Lagu demi lagu di album ini juga menggambarkan gaya hidup Californian di kala itu. Kehidupan ala rock and roll yang bebas, dengan sentuhan post-hippie dan kultur dari 60-an sampai 70-an.

Mendengarkan kembali album ini di tahun 2020 seolah terlempar jauh ke dalam nostalgia, yang mungkin bagi para pendengarnya sekarang tidak pernah mereka miliki. Walau uniknya, lagu yang hadir seakan memberikan pengalaman personal tersendiri.

“Rumours” dibuka dengan ‘Second Hand News’, yang sekaligus juga menjadi single pertama. ‘Second Hand News’ menghadirkan berbagai sisi menarik. Mulai dari lirik “bow-bow-bow-doot-doo-diddley-doot” yang dibawakan oleh sang vokalis Lindsey Buckingham, yang jujur saja terdengar corny. Serta perkusi manis yang menyisip dengan eksentrik. ‘Second Hand News’ sepertinya memang track paling pas untuk membuka sekaligus memperkenalkan album “Rumours”.

Track berikutnya menjadi hits yang melesatkan band rock dengan 5 orang member ini. ‘Dreams’ rupanya merupakan track dari Stevie Nicks, vokalis dari Fleetwood Mac dan menceritakan apa yang ia dapat serta apa yang hilang dari hubungannya dengan Buckingham. Tema yang diakui memang menjadi landasan dari album ini, yang direkam ketika para member mengalami permasalahan dalam hubungan percintaan masing-masing.

Setelah mendengarkan keseluruhan album, ‘Dreams’ sebenarnya merupakan lagu ballad yang cukup sederhana. Vokalitas dari Nicks yang justru bersinar di lagu mendayu ini sukses menghadirkan rasa kesepian yang mendalam bagi pendengarnya.

Fakta menarik lain dari ‘Dreams’, Nicks rupanya merekam lagu ini dalam beberapa menit saja. Kala itu ia merekam di kaset sebelum meminta personil lain untuk mendengarkan lagu itu.

Album bertemakan tentang patah hati, tidak heran track-track di dalamnya menggambarkan hal yang sama. ‘Go Your Own Way’ menjadi upbeat track yang meluapkan kemarahan dan kekecewaan dengan sangat sempurna. Lirik “shackin’ up is all you wanna do” yang dibawakan oleh Buckingham, dengan sang mantan kekasih Nicks berharmonisasi pada hooks dan terdengar sangat menusuk.

‘Never Going Back Again’ juga menjadi lagu menarik lain antara Buckingham-Nicks. Meski kali ini instrumen gitar lebih kental mewarnai. Sedangkan track lain seperti ‘You Make Lovin’ Fun’, ‘Don’t Stop’, dan ‘Songbird’ dari Christine McVie juga tidak kalah menarik. Walau sayang track ini akan dengan mudah tenggelam diantara “kemewahan” musikalitas dan lirik yang dihadirkan Buckingham-Nicks.

‘Songbird’ merupakan salah satu lagu yang layak diputar berkali-kali. Track ini menunjukan kemampuan menulis lagu dari McVie, yang to-the-point sekaligus manis. Menyentuh namun menusuk di saat yang sama. Intip saja bagian lirik “and I wish you all the love in the world/ But most of all I wish it from myself” yang mengakhiri lagu tentang pengorbanan di ‘Songbird’.

Seperti disebut sebelumnya, “Rumours” merupakan album yang kompleks. Album ini tidak sekadar memperlihatkan musik rock ‘n roll dari Fleetwood Mac dengan betotan gitar, perkusi dan keyboard. Terdapat juga sentuhan blues dari permainan bass John McVie yang menjadi kelembutan tersendiri.

Pertemuan antara ballads dan anthems, tema cinta dan benci, musik yang memberikan perasaan gelap serta terang membawa “Rumours” sangat layak menjadi album hits. Sebuah masterpiece untuk musik rock.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect